Bahaya Membicarakan Seseorang dari Belakang


Membicarakan keburukan orang lain di belakang memiliki banyak konsekuensi negatif yang berhubungan dengan individu juga masyarakat. Dalam hubungannya dengan individu, membicarakan seseorang dari belakang digambarkan sebagai perusakan ikatan persaudaraan Islam. Kerusakan apalagi yang lebih buruk ketika seseorang menginjak-injak harga diri dan karakter sesama muslim dan tidak ada sesuatu yang bisa memperbaikinya?


Konsekuensi negatif berikutnya adalah terhadap masyarakat. Membicarakan keburukan orang lain dari belakang akan memengaruhi opini masyarakat, dan bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan merendahkan orang lain ini meliputi:


  1. Masyarakat yang terkontaminasi dengan perbuatan membicarakan orang di belakang tidak akan pernah bisa melihat kesepakatan dan kesatuan, dan tidak akan pernah tercipta kedekatan dan cinta di antara anggotanya. Kemanusiaannya tak akan pernah matang dan mereka akan sulit merasakan cinta dan kasih sayang.

  2. Kerja sama dengan tujuan mencapai tujuan suci di masyarakat hanya dapat diwujudkan dengan rasa percaya diri dan kepercayaan antara anggota masyarakat, itu tak dapat diwujudkan dalam masyarakat yang membiarkan perilaku buruk itu. Masyarakat yang sering berbicara terbuka akan tahu urusan sebagian anggota masyarakat yang sembunyi-sembunyi membicarakan urusan orang lain, sehingga tatanan masyarakat yang sebelumnya memiliki rasa saling percaya dan opini positif akan hancur.

  3. Membicarakan keburukan seseorang di belakang merupakan perbuatan yang mampu menyalakan api kebencian dan permusuhan. Orang yang telah dibicarakan keburukannya dan tersebar rahasianya sehingga banyak orang tahu keburukan ataupun rahasia pribadinya akan merasa sangat kecewa dan ingin segera membalas dendam.

  4. Mengungkap tabir yang menyelubungi dosa dan pelanggaran seseorang akan berakibat dilakukannya perbuatan dan pelanggaran itu secara terbuka di masa depan, karena kemuliaan dan kehormatan seseorang pada umumnya mencegah seseorang untuk melakukan dosa. Jika seseorang melakukan dosa, dia akan melakukannya di tempat tertutup di mana tak seorang pun mampu melihatnya dan tanpa perlu merasa takut terlihat orang. Karenanya jika membicarakan keburukan orang di belakang berarti kita memindahkan tabir yang menyelubungi rahasia mereka, dan dengan melakukannya berarti kita menghancurkan karakter dan kehormatannya. Dengan demikian tak seorang pun bisa menjamin mereka tidak akan melakukan dosa secara terbuka karena tabir rahasia mereka telah terbuka.

Sehubungan dengan rasa takut hilang kehormatan dan kemuliaan, banyak orang menghentikan diri dari berbuat dosa, dan jika tabir dosa—yang merupakan nilai spiritual paling berharga— terhempas karena pembicaraan dan cemoohan yang tersiar di belakang, maka tidak ada lagi penghalang yang bisa menahan dirinya dari berbuat dosa. Selanjutnya bukan hanya orang yang menyebar aib orang lain yang semakin berani untuk terus menyebarkan keburukan orang, tetapi mereka yang menjadi pendengar dan berkeyakinan lemah pun dapat melakukan dosa ini atau dosa lainnya.


Perbuatan menusuk dari belakang sesungguhnya merupakan sumber menyebarnya perilaku korupsi sekaligus kriminal. Imam Ja’far Shadiq a.s. menyatakan: “Allah Swt berfirman kepada orang-orang yang menceritakan pendengaran dan penglihatannya atas perilaku orang lain kepada saudara-saudaranya sesama kaum mukmin, ‘Sesungguhnya orang-orang yang sangat menyukai perbuatan menyebarkan cerita bohong tentang orang-orang beriman, telah menanti atas mereka azab yang sangat pedih.’” (Ushul al-Kafi, 2/357)


*Disarikan dari buku karya Prof. Ja'far Subhani - Daras Etika dalam Surah Al-Hujurat