Tugas dan Tanggung Jawab Kemanusiaan


Sayidina Jafar Shadiq ketika ditanya salah seorang sahabatnya: “Kenapa Allah menciptakan hamba-hamba-Nya?”


Beliau menjawab: “Allah tidak menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sia-sia atau membiarkan mereka begitu saja, tapi Ia menciptakan mereka untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan membebani mereka (dengan taklif). Dengan begitu, mereka mendapatkan ridha-Nya berkat ketaatan kepada-Nya. Allah tidak menciptakan mereka untuk menarik keuntungan atau mencegah bahaya dari diri-Nya, bahkan dengan tujuan memberikan keuntungan kepada mereka dan mengantarkan mereka menuju kenikmatan abadi.”


Manusia diciptakan Allah Swt dengan diberikan padanya tugas dan tanggung jawab demi kebaikan manusianya itu sendiri.


Baca juga: https://www.danamustadhafin.com/post/kisah-sekerat-roti-pengemis-cucu-rasul-dan-khalifah


Seluruh tugas dan tanggung jawab ini apabila dijalankan secara seksama, akan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat.


Menurut Profesor Ibrahim Amini tugas dan tanggung jawab ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Tanggung jawab manusia terhadap Allah dan Nabi.

  2. Taklif manusia terhadap dirinya.

  3. Tanggung jawab manusia di hadapan sesama manusia.

Tanggung Jawab Manusia di Hadapan Allah dan Nabi


Secara akal dan syariat, manusia bertugas mengenal Sang Pencipta dan Pemberi Nikmatnya, bersyukur kepadanya, menyembahnya dan melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan di atas pundaknya. Ia juga harus mengenal para Nabi, mendengar risalah Ilahi dan memanfaatkan bimbingan mereka.


Menaati Allah dan Nabi akan menguntungkan manusia, karena akan membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.


Baca juga: https://www.danamustadhafin.com/post/keutamaan-menyantuni-anak-yatim-dan-kaum-fakir


Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, rasul dan para pemegang kendali urusan kalian. Bila kalian berselisih dalam suatu perkara, merujuklah kepada Allah dan rasul bila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Ini baik bagi kalian dan memiliki akhir yang lebih baik.” (QS. an-Nisa: 59)


Tanggung Jawab Manusia Terhadap Dirinya


Sesuatu yang paling disayangi dan berharga bagi manusia adalah dirinya. Terlebih dahulu, manusia harus memikirkan dirinya, mengenalnya, dari mana ia berasal, berada di mana dan kemana tujuannya? Apa faktor-faktor kesempurnaan dan kejatuhannya?


Manusia harus mengetahui posisinya di dunia dan mengenal tugas-tugasnya. la harus berpikir di mana kebahagiaan sejatinya berada? Apa faktor kesengsaraannya? Bagaimana ia mengetahui program kehidupannya dan cara menentukan perjalanan nasibnya?


Bila manusia memikirkan hal ini baik-baik dan menata program kehidupannya dengan benar, ia bisa membahagiakan dirinya. Bila tidak, ia menzalimi dirinya dan membawa dirinya kepada kehancuran. Sungguh tiada kerugian yang lebih besar dari ini.


Alquran mengatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan bebatuan, neraka yang dijaga oleh para malaikat galak dan tidak menentang apa yang diperintahkan Allah dan selalu melaksanakannya.” (QS at-Tahrim: 6)


Sayidina Ali berkata: “Barang siapa yang mengenal dirinya, ia tidak akan menghinakannya dengan hal-hal fana."

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Sesama


Manusia hidup di tengah masyarakat dan membutuhkan bantuan orang lain. Manusia harus hidup bersama dengan selainnya dan harus saling membantu dalam segala urusan sosial.


Masing-masing individu harus mengemban tanggung jawab sosial tertentu. Mereka harus menjaga undang-undang sosial, sehingga memiliki kehidupan tenteram dan damai. Etika dan hak-hak sosial diberlakukan dalam rangka mewujudkan tujuan ini.


Baca juga: https://www.danamustadhafin.com/post/langit-senja


Agama Islam sangat memperhatikan etika sosial dan menentukan tanggung jawab per-individu masyarakat satu sama lain serta mengimbau mereka untuk melaksanakannya.


Masing-masing individu bertanggung jawab terhadap komunitasnya; ayah dan ibu terhadap anak-anak dan ana- anak terhadap keduanya, suami dan istri, saudara dan saudari, sesama tetangga, guru dan murid, kaya dan miskin, pandai dan bodoh, dokter dan pasien, penguasa dan rakyat, muslim dan Ahlulkitab serta orang kafir, masing-masing mereka memiliki tanggung jawab satu sama lain.


Tentu saja tanggung jawab manusia tidak terbatas dalam hal-hal di atas, tapi juga tanggung jawabnya terhadap binatang, tumbuhan, laut, lingkungan hidup, air dan udara, tanah, tambang dan hutan.