Zakat Profesi

Yaitu Kewajiban zakat bagi orang yang memiliki penghasilan dari selain yang telah disebutkan sebelumnya, seperti dokter, sopir, pegawai swasta, PNS, guru, makelar dan lain sebagainya. Maka kewajiban mereka mengeluarkan zakat 2,5 % dari penghasilan kotor yang didapatkan.    Menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara:

1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor seara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. 

 

Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% X 3.000.000=Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.

2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang penghasilannya pas-pasan. 
    

Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% X (1.500.000-1.000.000)=Rp 12.500 per bulan atau Rp 150.000,- per tahun.
    

Dalam madzhab Ahlul bait kewajiban ini disebut dengan khumus, yaitu kewajiban mengeluarkan 20 % dari sisa hasil usaha (bersih) pada akhir tahun, yang ditentukan oleh setiap orang sesuai kapan ia memulai pekerjaan atau terima gaji. 
    

Jadi jika seseorang memulai pekerjaannya pada tanggal 1 April, maka setiap tanggal 31 Maret Ia harus menghitung saldo dari usahanya, yakni sisa dari penghasilannya setelah dibelanjakan untuk kebutuhan hidupnya. Sisa itulah yang dikeluarkan 20 % nya pada tanggal 1 April besoknya.