Ekonomi Islam Versus Konvensional


“Sesungguhnya di antara kekekalan kaum muslim dan Islam adalah jika harta-harta yang ada dikuasi oleh mereka yang mengetahui kebenaran, dan kemudian dia gunakan untuk kebaikan. Dan sungguh, di antara faktor yang menyebabkan punahnya Islam dan kaum muslim adalah jika harta itu berada di tangan mereka yang tak tahu akan kebenaran, dan tidak menggunakannya untuk kebaikan.” (Sayidina Jafar Shadiq ra)


Ekonomi Islam bukanlah sebuah disiplin ilmu, melainkan sebuah mazhab atau doktrin yang direkomendasikan Islam. Ekonomi Islam adalah doktrin karena ia membicarakan semua aturan dasar dalam kehidupan ekonomi yang dihubungkan dengan ideologinya mengenai keadilan. Oleh sebab itu, kehadiran Islam, khususnya ajarannya tentang ekonomi, bukan hendak menemukan fenomena tentang ekonomi di tengah masyarakat, akan tetapi ingin menerapkan ajaran Islam di bidang ekonomi.


Menurut Muhammad Baqir as-Sadr, pendapat bahwa ilmu ekonomi tidak pernah bisa sejalan dengan Islam, ekonomi tetap ekonomi, dan Islam tetap Islam adalah kesalahan fatal. Menurut Ilmu ekonomi konvensional, masalah ekonomi muncul karena adanya keinginan manusia yang tidak terbatas sementara sumber daya yang tersedia untuk memuaskan keinginan manusia tersebut jumlahnya terbatas. Sadr menolak pernyataan ini, menurutnya segala sesuatu di dunia ini sudah terukur dengan sempurna, Allah telah memberikan sumber daya yang cukup bagi seluruh manusia di dunia ini.


Lalu apa sebenarnya yang membedakan antara ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional ala Barat. Apabila dicermati lebih jauh, ternyata terdapat perbedaan yang mendasar antara ekonomi Islam dan konvensional. Perbedaan-perbedaan yang mendasar tersebut dapat kita klasifikasikan kedalam beberapa aspek, yaitu:


Sumber Rujukan

Islam telah mengatur hal ekonominya di dalam Alquran dan Hadis. Kedua kitab ini menyuruh kita mempraktekkan ajaran wahyu tersebut dalam semua aspek kehidupan, seperti praktek jual-beli, simpan pinjam, dan pengharaman transaksi yang mengandung unsur riba. Perkara-perkara asas muamalah dijelaskan terperinci di dalam kitab-kitab Islam.


Sedangkan ekonomi konvensional tidak bersumber atau berlandaskan wahyu. Oleh karena itu ia lahir dari pemikiran manusia yang bisa berubah berdasarkan waktu atau masa sehingga diperlukan maklumat yang baru. Itu bedanya antara sumber Ilahi dengan sumber pemikiran manusia.


Tujuan Kehidupan

Tujuan ekonomi Islam membawa kepada konsep Falah (istilah ini menurut Islam diambil dari kata-kata Alquran yang sering dimaknai sebagai keberuntungan jangka panjang, dunia dan akherat, sehingga tidak hanya memandang aspek material namun justru lebih ditekankan pada aspek spiritua). Sementara ekonomi konvensional tidak mempertimbangkan aspek ketuhanan dan keakhiratan tetapi lebih mengutamakan untuk kemudahan manusia di dunia saja. Oleh karena itu, ekonomi sekuler ini hanya bertujuan untuk kepuasan di dunia.


Konsep Harta

Dalam Islam, harta yang dimiliki manusia bukanlah tujuan hidup tetapi memiliki beberapa maksud dan tujuan, seperti; harta sebagai amanah dari Allah Swt, dan manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada. Harta sebagai ujian keimanan, hal ini terutama menyangkut soal cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam ataukah tidak.


Hal ini berbeda dengan ekonomi konvensional yang meletakkan keduniaan sebagai tujuan yang tidak mempunyai kaitan dengan Tuhan dan akhirat sama sekali. Untuk merealisasikan tujuan hidup, mereka membentuk sistem-sistem yang mengikuti selera nafsu mereka guna memuaskan kehendak materil mereka semata, tanpa memperdulikan nilai-nilai. Selain itu juga, dalam sistem ekonomi konvensional manusia bebas untuk melakukan aktifitas ekonomi dengan motivasi keuntungan dan kepemilikan pribadi yang sebesar-besarnya tanpa melihat keadaan di sekitarnya yang mungkin dirugikan.