Biarlah Tertular Asal Kulihat Jasad Ayah

Diperbarui: 26 Feb 2021


Siti Silvillah Suflah berpartisipasi dalam latihan dan lomba menulis yang digelar untuk siswa dan siswi binaan Dana Mustadhafin. Dalam lomba, Silvillah menulis kisah inspiratif dengan judul "Covid-19 Membawa Duka". Inilah cerita anak perempuan yang sangat mencintai ayahnya. Cerita tentang ketabahan ayah di ruang ICU yang menyembunyikan kepedihannya dari anak-anaknya. Selamat membaca.


***


Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Siti Silvillah Suflah, kelas 2 SMP, tinggal di Jakarta Barat. Di sini saya akan menceritakan pengalaman saya tentang Covid-19 yang membawa duka.


Suatu hari di akhir Oktober 2020, Papah saya menderita sakit yang mungkin bisa dibilang penyakit biasa. Gejalanya kurang lebih seperti masuk angin.


Lama-kelamaan penyakitnya semakin serius. Ada gejala Covid-19 seperti batuk, sakit tenggorokan, sesak nafas dan demam. Namun, setelah dibawa ke klinik untuk cek darah, hasilnya bagus semua. Tidak ada yang serius.


Sesampai di rumah, Papah minum obat pemberian klinik. Papah mulai mendingan. Tapi pada malamnya, Papah menggigil dan sesak nafas. Itu yang membuat Mamah tidak bisa tidur. Papah terlihat lemas dan tidak berdaya. Dan pada malam itu juga Papah bilang, "Tolong bawa Papah besok ke rumah sakit."


Padahal pada awalnya, Papah tidak mau dibawa ke rumah sakit. Mungkin Papah punya firasat dirinya terkena Covid-19. Khususnya setelah Papah tahu bahwa ia memiliki tanda-tanda terkena Covid-19. Papah khawatir tidak bisa bertemu keluarganya selama berada di rumah sakit.


Keesokan paginya, dengan bantuan teman-temannya, Papah dibawa ke rumah sakit. Dengan melihat gejalanya, dokter pun curiga Papah terkena Covid-19. Papah diperiksa dengan rapid test, hasilnya non-reaktif. Diperiksa dengan swab test, hasilnya positif Covid-19.


Kami sekeluarga menerima kabar Papah positif Covid-19 pada pukul 11.00 siang. Mendengar kabar tersebut, kita semua sangat sedih. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa ada anggota keluarga kita yang terkena Covid-19 karena kita selalu menerapkan protokol kesehatan. Namun, jika Allah Swt berkehendak lain, kita bisa apa sebagai manusia.


Kami sekeluarga pun diminta ke rumah sakit untuk menjalani swab test. Sesampainya di rumah sakit, kita dihibur oleh tenaga medis agar kita tidak dalam kondisi tegang dan panik. Kedua kondisi itu dapat membuat imun menjadi turun.


Saat menjalani swab test, rasanya lumayan sakit. Mungkin saya, Mamah, dan Adik saya yang umurnya tidak jauh dari saya masih bisa menahan rasa sakit tersebut. Tapi Adik saya yang berumur 5 tahun pasti belum bisa menahan rasa sakit itu.


Jujur, saya tidak tega melihat adik saya yang hidungnya dimasukkan alat yang lumayan besar. Itu rasanya cukup sakit. Di situ, saya tidak bisa membayangkan apabila adik saya yang kecil itu terkena Covid-19 juga.


Esok hari, kami menerima hasil tes. Alhamdulillah, hanya saya dan satu adik saya yang positif. Mamah dan adik yang paling kecil itu negatif. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya.


Waktu saya dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, Mamah meminta saya dan adik saya satu ruangan bersama Papah. Mamah ingin saya bisa merawat Papah. Karena saya dan adik saya termasuk pasien orang tanpa gejala (OTG).


Jadi sejak awal, Mamah mengira kalau Papah, saya dan Adik dirawat satu ruangan, Papah membaik. Namun ternyata dugaan Mamah salah. Papah semakin drop dan sesak nafasnya semakin parah.


Keesokannya, Papah dihubungi oleh perawat dan dokter untuk dipindahkan ke ruang ICU karena oksigen yang Papah terima semakin berkurang. Papah tidak mau karena tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya. Sampai akhirnya dokter menelepon Mamah agar Mamah membujuk Papah supaya mau dipindahkan ke ruang ICU. Mamah lalu menghubungi saya untuk membujuk Papah agar mau dipindahkan ke ruang ICU.


Akhirnya saya membujuk Papah. Alhamdulillah, Papah mau. Sebelum dipindahkan ke ruang ICU, Papah bilang ke saya dan adik, "Nak, ke sini peluk Papah," sambil meneteskan air matanya Papah melanjutkan, "Maafin Papah ya sayang. Doakan Papah semoga cepat pulih. Supaya kita bisa berkumpul lagi sama Mamah, Jafar, Rahma, dan Kakak." Saya dan adik tidak kuasa menahan air mata dan hanya bisa bilang, "Iya Pah, Papah harus bisa sehat. Supaya kita bisa kumpul lagi."


Papah dipindahkan ke ruang ICU dan kita pisah ruangan. Selama dalam perawatan, saya selalu menghubungi Papah melalui pesan WhatsApp. Papah tidak sanggup berbicara lewat telepon karena sesak nafas.


Saat berkomunikasi, Papah selalu bilang, "Papah udah baikan, insya Allah Papah kuat, doain yang terbaik ya buat Papah." Tapi saya tahu Papah bohong karena kata dokter paru-paru Papah semakin hari semakin membengkak. Itu yang membuat Papah sulit bernafas sehingga oksigen yang ia terima sedikit.


Saat waktunya cek darah, ternyata gula darah Papah tinggi sampai harus menerima suntik insulin. Di situ saya sangat sedih karena saya tahu Papah sangat menderita di ruang ICU karena sekujur tubuhnya penuh dengan alat medis.


Setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19, saya dan adik pulang ke rumah. Sebelum meninggalkan rumah sakit, perawat dan dokter bilang, "Insya Allah Papah sembuh kalau anak-anaknya sudah sehat. Beliau banyak pikiran karena anaknya dirawat tidak bersama orang tua".


Di rumah pun, saya selalu berkomunikasi dengan Papah. Papah selalu bilang, "Papah udah sehat", "Papah makannya doyan". Tapi setelah saya cek handphone Mamah, setiap hari Papah mengeluh kesakitan.


Papah selalu bilang, "Kalau udah selesai chat, jangan lupa dihapus, takut anak-anak liat, nanti mereka yang kepikiran". Saya meneteskan air mata membacanya. Di saat Papah mengeluh kesakitan, tidak ada satu pun anggota keluarga yang menemani. Karena memang tidak boleh dan sudah begitu prosedurnya.


Coba kalian bayangkan! Betapa sedihnya melihat orang yang paling kita sayangi sedang kesakitan, namun tidak mau menyusahkan orang lain. Sampai dokter bilang, "Papah memang hebat. Beliau tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya kepada orang lain padahal organnya sudah rusak semuanya."


Semakin hari, kondisi Papah memburuk. Pernah selama dua hari tidak ada komunikasi sama sekali. Saya dan Mamah sangat panik. Ternyata, selama dua hari itu Papah drop, tidak bisa bergerak sama sekali karena merasakan sakit yang luar biasa. Tapi Papah selalu bilang sama saya, "Papah tidak apa-apa sayang, dua hari kemarin Papah drop, tapi cuma drop biasa kok". Padahal Papah selalu mengeluh kesakitan ke Mamah.


Pada tanggal 22 atau 23 November 2020, Papah menghubungi Mamah. Papah menyampaikan ia akan transfusi plasma darah untuk membunuh virus di dalam tubuh Papah dan membuat imun Papah bisa naik kembali. Saat itu, Papah membutuhkan 2 kantong plasma darah namun akhirnya hanya mendapat 1 kantong. Dokter juga hanya bisa pasrah.


Pada 25 November 2020, saya dan Mamah tidak lagi nafsu makan dan malas untuk melakukan kegiatan apapun. Meskipun pada pagi harinya, Papah mengirim kabar dari rumah sakit bahwa nafsu makannya mulai muncul dan ia merasa membaik. Oleh karena itu, Papah dikabarkan akan dipindahkan ke ruang perawatan.


Pada pukul 10:00 WIB, kesehatan Papah mulai drop lagi. Pihak rumah sakit berencana menghubungi keluarga Papah. Namun rencana itu tidak dilakukan lantaran pihak rumah sakit khawatir Mamah syok dan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan di rumah. Pada pukul 13.30 WIB, teman Papah menyambangi rumah kami dan mengantar Mamah ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ternyata Papah telah meninggal dunia. Mamah langsung syok dan pingsan. Saat itu, saya belum tahu Papah meninggal. Tidak lama kemudian, saya ditelepon oleh teman Papah dan mengabarkan Papah sudah meninggal dunia. Saya langsung lemas dan handphone saya terjatuh. Saya tidak kuasa menahan air mata dan akhirnya saya menangis bertiga dengan adik-adik saya.


Yang paling saya sesali adalah saya belum sempat meminta maaf kepada Papah sebelum Papah meninggal. Saat Papah merasa kesakitan, sesak nafas, tidak ada satupun keluarga yang menemaninya di rumah sakit. Saya pun tidak dapat melihat apalagi memeluk jasad Papah untuk terakhir kalinya. Sampai saya memohon kepada pihak rumah sakit agar saya bisa melihat Papah untuk terakhir kalinya, dan saya juga bilang "Tidak apa-apa jika saya tertular Covid, asalkan saya bisa melihat Papah saya untuk terakhir kalinya." Namun tetap saja tidak bisa.


Sekarang, tidak ada lagi sosok ayah yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, yang sangat mencintai anak-anaknya. Kami semua kehilangan sosok laki-laki gagah yang ceria, yang selalu menghibur semua orang yang didekatnya. Sekarang saya tidak bisa lagi memeluk Papah saat saya merasa sedih, saat saya merasa kecewa.


Menurut saya, Papah adalah seorang laki-laki yang sangat luar biasa. Beliau selalu "diinjak-injak" oleh banyak orang namun tidak pernah sedikitpun ada rasa dendam terhadap mereka. Papah adalah sosok ayah dan suami yang luar biasa. Yang tidak pernah kasar terhadap anak-anaknya dan istrinya. Papah adalah pahlawan yang luar biasa.


Untuk teman-teman, saya hanya ingin memberikan pesan bahwa Covid-19 ini benar-benar ada dan benar-benar sangat berbahaya. Orang yang selalu melakukan protokol kesehatan saja bisa tertular, apalagi jika kalian masih mengabaikan protokol kesehatan.


Sayangilah orang tua kalian jika masih ada. Apabila sudah tidak ada, baru kalian menyesalinya.


Sesungguhnya patah hati terbesar seorang anak perempuan adalah ketika kehilangan sosok ayah yang selalu melindungi, menyayangi, dan mencintainya sepenuh hati. []