Bunga-bunga Bersemi di Atas Tanah Suci



Meski bergelar sarjana pendidikan, Zahra bukan guru di sekolah formal. Ia mengajarkan matematika, mengaji hingga menari kepada anak-anak kampung di teras rumahnya. Ia tidak memungut biaya, bahkan membantu murid yang kurang mampu. Perangainya yang periang, bersahaja, rendah hati membuat anak-anak senang berada di dekatnya. Ismatul Kamila, siswi binaan Yayasan Dana Mustadhafin, menuliskan kesaksiannya tentang guru panutannya ini. Berikut kisahnya:

***


Kisah ini berawal dari rasa kagum dan takjubku kepada seseorang. Sebut saja namanya Bu Zahra. Dia lulusan S-1 Pendidikan Agama Islam, wanita sederhana, pintar dan disukai banyak orang. Sosoknya yang periang membuat siapa pun, terutama anak-anak, merasa nyaman berada di dekatnya.


Bu Zahra seorang guru, tetapi bukan guru seperti orang yang mengajar di sekolah atau institusi formal. Beliau mengajar di pelataran rumahnya. Ia mengajarkan membaca, menghitung, menulis, bernyanyi, mengaji bahkan menari kepada anak-anak di kampungnya.

Di masa pandemi seperti ini kebanyakan anak-anak tidak berangkat sekolah seperti biasa. Mereka mesti belajar dari rumah sesuai aturan pemerintah. Dan ini yang membuatku tak habis pikir: Bu Zahra mengadakan sanggar, kelas-kelas seperti di sekolah tetapi dalam lingkup kecil. Aku semakin kagum dengannya.


Beliau melakukan itu semua agar pendidikan anak-anak di kampungnya tidak berhenti begitu saja akibat pandemi yang sedang merambat di Indonesia. Tapi sebelum masa pandemi, beliau juga datang ke rumah-rumah warga menawarkan jasa untuk mengajarkan pelajaran apa saja kepada anak-anak. Kita bisa menyebutnya “relawan pendidikan” yang sesungguhnya.


Tentang dedikasinya, aku teringat sepenggal kisah tentang seorang guru bernama Imam Abu Hanifah. Beliau sangat menyayangi dan memperhatikan murid-muridnya.


Suatu hari, salah satu muridnya yang belum pernah absen dari majelis ilmunya tiba-tiba tidak nampak batang hidungnya. Beliau mencari informasi mengenai sebab tidak hadirnya murid kesayangannya tersebut.


Sampailah ia menemukan fakta bahwa si murid sedang membantu ayahnya untuk mencari uang. Sang ayah merasa rugi jika anaknya terus mengikuti majelis ilmu dan tidak membantunya mencari uang.


Tanpa berfikir panjang, Abu Hanifah mendatangi mereka dan meminta muridnya kembali belajar. Dia siap membayar ganti rugi kepada ayahnya setiap bulan asalkan anaknya tetap belajar.


Ku kira kisah di atas sudah usang untuk diceritakan. Tapi dalam kehidupan nyata, aku menemukan sosok guru yang juga begitu menyayangi murid-muridnya. Bu Zahra tidak memberi beban pembayaran kepada murid-muridnya. Ia tidak meminta imbalan apa pun, bahkan ia kerap membantu murid yang kurang mampu.


Bu Zahra tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi secara tidak langsung mengajarkan keseimbangan ilmu dan adab. Bu Zahra mengajarkan kepada kita bahwa menjadi guru itu harus memiliki sifat sabar, tawadhu, bersahaja (berpenampilan baik dan tenang), takut kepada Allah Swt, selalu menebarkan kebaikan dan manfaat untuk orang di sekitarnya, dan senantiasa meningkatkan keilmuan dari waktu ke waktu.


Bagiku, akhlak terpuji tidak sebatas berkata jujur dan perbuatan baik pada lazimnya. Tetapi lebih dari itu, penyandang akhlak terpuji mesti bermanfaat dan menjadi penolong orang lain. Dalam sosok Bu Zahra, aku menemukan kegembiraan yang selalu beliau bagikan kepada murid-muridnya, baik dalam bentuk materi maupun nonmateri. Menyenangkan orang lain juga termasuk akhlak terpuji sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw selaku guru besar kita umat Islam.


Kini, aku mengerti mengapa Bu Zahra bersemangat sekali menebar ilmu dan kebaikan. Aku teringat ucapannya yang mengutip hadis: “Tidak akan terputus amal (jariyah) anak adam kecuali 3 perkara ; 1. Ilmu yang bermanfaat, 2. Amal baik 3. Anak-anak sholeh”.


Beliau mengucapkannya sambil berkaca-kaca menahan tangis kala itu. “Siapa lagi yang akan menolong di hari penentuan kecuali 3 perkara itu,” katanya. Ternyata beliau sedang memperjuangkan sesuatu yang kelak dapat menjadi penolongnya. Dan beliau mempersiapkannya sejak sekarang.


Ini juga yang seolah-olah menampar kemalasanku, kelalaianku dan kebodohan dalam diriku. Aku yang terlena dengan tipu daya dunia. Tipu daya yang semakin nampak seiring perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi.


Mungkin, ada banyak orang yang tidak aku ketahui seperti Bu Zahra. Mereka berjuang dengan asa yang sempurna sehingga kelak tidak ada lagi penyesalan di hari yang sudah ditentukan-Nya.


Kisah Bu Zahra menambah semangatku untuk selalu belajar lebih giat dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Baginya, mengajarkan hal-hal yang ia ketahui kepada anak-anak semata-mata bukan untuk menambah pundi-pundi kekayaannya, melainkan ingin menyaksikan bunga-bunga bersemi di atas tanah suci.


Dalam pandangannya, anak-anak yang tumbuh dengan pengetahuan dan akhlak yang santun ibarat bunga yang harum mewangi mekar di atas tanah suci yang Allah Swt bentangkan di muka bumi. Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaannya merawat bibit-bibit indah dari segala rupa untuk menemaninya kelak di hari yang telah dijanjikan-Nya. Bu Zahra percaya, hanya Allah yang mampu membalas sebaik-baiknya balasan atas apa yang telah ia usahakan. Ia percaya janji-Nya tidak pernah ingkar. Wallahu a’lam Bisshawab.