Makna dan Keutamaan dalam Berkurban


“Maka makanlah sebagiannya (daging kurban) dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 36-37)


Kurban berasal dari bahasa Arab qariba-yaqrabu-qurban yang artinya dekat. Jadi secara istilah kurban berarti mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyembelih hewan setiap tanggal 10 Zulhijah/ Idul Adha. Jadi jelas bahwa tujuan dari berkurban adalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan bersyukur atas segala karunia-Nya. Hewan yang boleh dijadikan untuk kurban adalah unta, sapi, dan kambing atau domba.


Ibadah Kurban sama halnya dengan ibadah haji, bersifat simbolik. Makna dari apa yang dikurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki. Awal ibadah kurban diceritakan secara detil dalam Alquran Surat Ash-Shafat, ayat 101-110.


Dr. Ali Syariati berpendapat, kisah penyembelihan Ismail pada hakikatnya adalah refleksi dari kelemahan iman, yang menghalangi kebajikan, yang membuat manusia menjadi egois sehingga manusia tuli terhadap panggilan Tuhan dan perintah kebenaran. Nabi Ismail as adalah simbolisasi dari kelemahan manusia sebagai makhluk yang dhaif, gila hormat, haus pangkat, lapar kedudukan, dan nafsu berkuasa. Semua sifat dhaif itu harus disembelih atau dikorbankan. Pengorbanan nyawa manusia dan harkat kemanusiaannya jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Untuk itu, Nabi Ibrahim as tampil menegakkan martabat kemanusiaan sebagai dasar bagi agama tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad dalam ajaran Islam.


Kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim sedunia seharusnya tidak lagi dimaknai hanya sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan. Menurutnya ritual kurban bukan cuma bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan.


Ibadah kurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas sosial Islam, mendekatkan diri kepada yang kekurangan. Dengan berkurban akan mendekatkan diri kepada mereka yang fakir. Kurban mengajak mereka yang mustadhafin untuk merasakan kenyang sebagaimana orang yang berkecukupan.