PENJAGA MARTABAT TERAKHIR
- 11 Jun
- 3 menit membaca

Oleh: DR. Muhsin Labib Di tengah hiruk-pikuk manusia yang memburu jabatan, ketenaran, dan sorotan, ada pekerjaan sunyi yang keberadaannya hampir tidak pernah dibicarakan dengan penuh penghormatan. Padahal ketika kematian datang, ketika tubuh manusia telah berhenti menjadi nama, suara, dan percakapan, masyarakat bergantung kepada mereka. Jabatan mereka tak memikat.
Mereka adalah para pemulasaran — pengurus jenazah. Pekerjaan yang bagi banyak orang terasa menyeramkan itu justru memelihara ketenangan sebuah masyarakat. Ketika semua orang ingin menjauh dari kematian, mereka mendekat dengan tangan yang tenang. Ketika sebagian manusia tidak sanggup melihat tubuh yang telah kehilangan kehidupan, mereka memandikan, mengafani, menshalatkan, lalu mengantar seseorang menuju liang lahat terakhirnya dengan kesabaran yang tidak pernah meminta disaksikan.
Ada sesuatu yang sangat agung dalam keberanian yang tidak mencari tepuk tangan. Jenazah tidak mengenal birokrasi. Kematian tidak menunggu rapat. Tubuh yang telah pergi tidak dapat ditunda pengurusannya demi pidato, administrasi, atau perdebatan panjang. Dalam konteks itu, para pemulasaran memikul tanggung jawab yang langsung bersentuhan dengan martabat manusia — mereka memastikan seseorang tetap diperlakukan dengan hormat bahkan setelah napas terakhir meninggalkannya.
Dalam ajaran Islam, tugas itu bukan sekadar pekerjaan sosial. Tugas itu ibadah. Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang menghadiri jenazah hingga dishalatkan memperoleh pahala satu qirath, dan yang mengantarkannya hingga pemakaman memperoleh dua qirath — dan ketika para sahabat bertanya sebesar apa dua qirath itu, Nabi termulia SAW menggambarkannya seperti dua gunung besar. Mengurus jenazah juga termasuk fardu kifayah: bila tidak ada yang melaksanakannya, seluruh masyarakat memikul dosa sosial. Mereka yang rela belajar memandikan jenazah, mengafani, menggali kubur, dan mengurus pemakaman sedang menjaga kewajiban agama sebuah masyarakat sekaligus menjaga martabat kemanusiaan.
Masyarakat sering mengukur kemuliaan dari gemerlap profesi. Padahal ada pekerjaan-pekerjaan yang justru menjadi penyangga paling dasar bagi kemanusiaan. Betapa manusia modern terlalu mudah terpukau oleh yang tampak tinggi, tetapi lalai menghormati mereka yang diam-diam menjaga dunia tetap layak dihuni.
Para pemulasaran hidup dekat dengan sesuatu yang paling ditakuti manusia: kefanaan. Namun kedekatan itu tidak menjadikan mereka kasar. Mereka berhadapan dengan manusia dalam keadaan paling murni — tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, tanpa kekayaan, tanpa pencitraan. Semua telah kembali menjadi tubuh yang harus dihormati dan diperlakukan dengan layak. Justru dari tangan-tangan merekalah manusia terakhir kali disentuh dengan kelembutan sebelum sepenuhnya kembali kepada tanah.
Mereka bukan tokoh yang dielu-elukan. Gaji mereka kecil. Nama mereka tak dikenal. Tetapi tanpa mereka, kepanikan tumbuh lebih cepat daripada belas kasih. Dalam bencana, wabah, dan tragedi, masyarakat menyadari bahwa keberanian tidak selalu berbentuk pidato keras atau seragam kekuasaan. Ada keberanian yang wujudnya hanya kesediaan berdiri di hadapan kematian tanpa kehilangan ketenangan dan kemanusiaan.
Salah satu lembaga yang memahami hal ini adalah Dana Mustadhafin . Yayasan swadaya ini merekrut relawan nir-takut, melatih, membiayai, dan mengelola layanan pemulasaran secara cuma-cuma bagi siapa pun yang membutuhkan — khususnya kaum duafa dan mereka yang tidak mampu. Selain pemulasaran, yayasan ini menjalankan layanan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kemanusiaan, semuanya dengan prinsip profesional, akuntabel, dan transparan.
Karena terlalu sering melihat kematian, pasmereka memahami sesuatu yang gagal dipahami banyak manusia: semua kebesaran dunia akhirnya dibaringkan dalam diam, lalu diturunkan perlahan ke dalam tanah oleh tangan-tangan sederhana yang selama hidupnya nyaris tidak pernah dihormati sebagaimana mestinya. Mereka bukan sekadar pelaksana teknis pemakaman. Di tangan mereka ada pelayanan terakhir seorang manusia sebelum benar-benar meninggalkan dunia.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan pahala berlipat kepada para penjaga martabat terakhir ini, dan melapangkan hati kita untuk menghormati mereka sebagaimana mereka menghormati setiap jenazah yang diurusnya.




Komentar