Abu Mustafa: MENCARI MODAL AKHIRAT

Diperbarui: 5 Nov 2020


Berharap adalah ciri yang paling melekat pada diri manusia. Dari harapanlah lahir apa yang disebut cita-cita dan keinginan. Jika kita mendaftarkan apa yang terlintas dalam pikiran terkait harapan, cita-cita, dan keinginan, maka bertumpuklah daftar tersebut. Sebagian ingin memiliki harta melimpah, jabatan tinggi, anak yang banyak, dan lain-lain. Akan tetapi memiliki saja tidak cukup, fitrah manusia ingin agar semua yang dimilikinya kekal abadi dan tidak boleh hilang atau pergi darinya.

Semua manusia menyukai emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah), hewan dan ternak, lahan yang luas, dan lain sebagainya. Kecintaan kepada berbagai macam perhiasan adalah hal alami dan manusiawi. Allah Swt tidak mengharamkan semua itu untuk dimiliki. Akan tetapi Allah Swt menawarkan kepada orang-orang beriman bahwa mereka disiapkan perhiasan yang lebih indah dan kekal, yakni keselamatan serta kedamaian dunia akhirat.

Allah Swt berfirman, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang paling baik.”(QS. Ali Imran:14).

Manusia ingin apa yang dimiliki kekal dan tidak segera habis. Manusia akan berduka dan merasa mendapat musibah jika sesuatu yang dimiliki hilang dari dirinya. Akan tetapi hal tersebut mustahil terjadi. Manusia secara sadar tahu segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berakhir. Apakah manusia akan meninggalkannya atau apa yang menjadi miliknya yang akan meninggalkannya.

Sebanyak apapun harta yang dikumpulkan pasti akan segera berpindah tangan ke ahli waris atau habis kita gunakan. Karena itu dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt berfirman, “Wahai anak Adam, kalian selalu mengatakan, hartaku…. milikku….. bukankah ketika engkau makan akan sirna, ketika engkau pakai akan lapuk, hanyalah ketika engkau berikan dan gunakan di jalan kebajikan maka akan menjadi milikmu yang kekal.”.

Kita akan heran melihat banyak manusia sibuk mengurusi hal-hal yang sepele seperti kembang di atas etalase, lalu melupakan urusannya yang jauh lebih penting dan utama. Padahal kembang itu adalah hiasan yang sebentar lagi akan layu sementara tujuan utama dan lebih penting terabaikan, yakni modal hidup yang tak berkesudahan.

Allah berfirman, “Dan Allah akan menambahkan petunjukNYA kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal kebajikan yang kekal (baaqiyatusshalehat) itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu dan lebih baik kesudahannya .” (QS.Maryam: 36). Pada ayat di atas ditemukan kata al-Baqiyatusshalehat yang bermakna amalan baik yang kekal.

Adakah cara menjadikan hiasan dunia menjadi kekal? Inilah pertanyaan yang sering menggelitik setiap manusia, ketika dihadapkan pada bagaimana menggunakan kekayaan atau harta yang ada di tangan mereka. Sebagian beranggapan mereka hidup lalu mencari harta dan dengan leluasa dapat menggunakan untuk apa saja yang diinginkan.

Apakah agama melarangnya? Agama sama sekali tidak melarang untuk menggunakan seluruh harta kekayaan yang dimiliki manusia. Hanya saja agama mengatur agar harta kekayaan itu bermanfaat bagi keberlangsungan hidup manusia. Agama memberikan tuntunan agar manusia memperoleh harapan fitrahnya, serta kepemilikan yang kekal dan abadi.

Rasulullah Saw memberikan kabar gembira kepada para pengikutnya, bahwa tidak saja amalan-amalan ritual yang akan kekal, tetapi semua yang kita miliki di dunia bisa menjadi baqiyatusshalihat (amal yang kekal) dan terus menjadi milik kita yang kekal hingga akhirat. Bahkan tidak saja kekal, Nabi Saw menjanjikan akan dilipatgandakan oleh Allah Swt secara tidak terbatas.

Islam memandang bahwa yang paling merugi adalah mereka yang memiliki harta yang melimpah, tapi tidak menyimpannya dalam bentuk amal saleh. Saat mati, hartanya hanya akan menjadi milik ahli waris. Jika anaknya menggunakan harta tersebut pada keburukan, maka dia akan tersiksa menyaksikannya dari alam kuburnya.

Suatu kali Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkunjung ke rumah sahabatnya yang megah dan mewah. Beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kau perbuat terhadap rumah seluas ini, padahal engkau lebih membutuhkan di akhirat?” .

Lalu beliau melanjutkan, “Namun jika kamu mau, maka ini semua bisa sampai di akhirat. Caranya, kamu menjamu tamu dengan baik, menyambung silaturahmi, dan mengeluarkan hak-hak yang diwajibkan dari rumah ini (berupa zakat, infak, dan sedekah). Jika engkau melakukan semua itu maka engkau telah membawa rumah ini ke akhirat dalam keadaan kekal dan abadi sebagai milikmu.” .

Nabi Saw menyebutkan dalam sabdanya, orang yang cerdas sepanjang masa adalah, “Yang menghisap dirinya dan bekerja untuk apa yang akan terjadi setelah kematian.” Kita tidak heran dengan kematian mendadak. Yang mengherankan adalah orang yang tahu akan kematian namun tidak melakukan persiapan. Padahal saat-saat berada dalam kuburan adalah masa yang sangat sulit.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah ditanya, apakah hal yang paling sulit dan yang lebih sulit? Beliau menjawab, “Hal yang sulit adalah kuburan, dan yang lebih sulit adalah pergi ke sana tanpa bekal.” Dalam pernyataannya yang lain beliau menyatakan, “Orang mukmin itu cerdik dan cerdas. Selalu terlihat kebahagiaan di wajahnya dan kesedihan disimpan di hatinya. Dia berpaling dari hal-hal yang fana (tiada) dan senang melakukan sesuatu yang kekal.”.

Bagaimana agar berbagai aktifitas dan amal usaha yang kita kerjakan dapat memiliki kekekalan dan abadi? Paling tidak ada tiga tips utama.

Pertama. Menetapkan dan memastikan tujuan hidup. Harus ada kesadaran yang membentuk keyakinan kita bahwa dunia ini adalah rumah sementara umat manusia. Rumah itu hanyalah negeri akhirat, yang akan menempatkan manusia dalam keadaan bahagia atau menderita. Jika manusia menetapkan tujuan hidupnya pada rumah yang abadi berupa kebahagiaan dan keselamatan, maka dunia ini semestinya menjadi ladang untuk menuai kebahagiaan tersebut.

Kedua. Menjadikan dunia sebagai perantara. Beramal untuk akhirat sebetulnya tidak berarti meninggalkan urusan dunia. Nikmatilah semua karunia Allah Swt yang telah kita peroleh secara halal dan thayyib, lalu gunakan sebesar-sebesarnya untuk kepentingan yang kekal, akhirat.

Ketiga. Perbanyak tabungan untuk akhirat. Silahkan saja memiliki seluruh yang ada di bumi ini, tapi harus menjadikannya sebagai modal untuk menabung bagi kepentingan negeri akhirat. Menyadari bahwa diri dan apa yang dimiliki oleh diri ini adalah hanya untuk mengabdi kepada Allah Swt. Karena itu, jadikanlah sebagai modal untuk investasi akhirat.

Bagaimana bentuk amaliah yang mestinya menjadi sifat dan aktivitas keseharian kita, agar semua bernilai sebagai baqitusshalihat (amal yang kekal)? Paling tidak ada beberapa hal yang harus menjadi keyakinan dan ritual rutin kita. Pertama. Tanamkan kecintaan dan kesetiaan kepada Rasulullah saw dan keluarganya yang suci dengan menjadikanya sebagai tauladan dalam beribadah dan beramal shaleh.

Kedua. Berusahalah untuk bangun malam sebelum masuk waktu subuh dengan banyak ruku’ dan sujud melalui shalat tahajjut, agar kita merasakan penghambaan dan keberserahan hanya kepadaNYA . Ketiga. Perbanyak zikir dan tasbih (subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, allahuakbar) kepada Allah, agar hati kita memiliki kelembutan dan kepekaan spiritual.

Keempat, jadikan kebiasaan harian kita dengan banyak bersedekah. Dengan begitu jiwa kemanusiaan dan cinta terhadap sesama manusia terbangun dan memperbanyak peluang orang lain menjadi sahabat yang mendoakan kita. Bahkan Nabi menyebutkan terkait urusan sedekah ini, “Sedekah yang paling baik adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati sesama manusia.” Maksudnya mereka yang membutuhkan bantuan karena dalam kesempitan hidup, akan sangat bahagia jika ada manusia lain yang berempati kepadanya.

Demikian amalan yang membawa hidup kita menikmati dan memperoleh keselamatan yang kekal abadi di akhirat. Selamat menjalaninya!