Besarnya Dosa Karena Berghibah



Termasuk dosa besar sekali segala bentuk usaha meretakkan ikatan persaudaraan di antara Muslimin, dan usaha menghancurkan persatuan di antara mereka. Dosa ini akan mendatangkan azab yang pedih, yang disediakan oleh Allah Swt dan dijanjikan-Nya. Di antara perbuatan yang dapat merusak keharmonisan dan persatuan di antara Muslimin ialah; melukai perasaan, mengejek-ejek, melontarkan tuduhan, dan menggunjing (ghibah). Semua itu termasuk dosa yang besar sekali.


Sehubungan dengan usaha melukai perasaan orang lain dan ghibah, Alquran al-Karim menjanjikan bahwa pelakunya akan mendapatkan kecelakan (al-wail) dan dimasukkan dalam Jahanam:


“Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. al-Ghumazah: 1)


Al-Ghumazah adalah menggunjing dan mencela orang lain dengan tidak benar pada saat mereka tidak ada, sedangkan al-lumazah adalah mencela dan mengejek kehormatan orang lain pada saat ia (orang yang diejek) hadir. Allamah Thabathabai berkata dalam Tafsir al-Mizan: “Alghumazah dan al-lumazah mempunyai makna satu. Dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya adalah bahwa al-ghumazah ialah orang yang mencela di belakangmu, sedangkan al-lumazah adalah orang yang mencela di depanmu." (Tafsir al-Miran, 2/358)


Disebutkan dalam al-Majma' al-Bayan bahwa al-ghumazah adalah berkenaan dengan pergunjingan, Islam menghukumi bahwa ia termasuk hal-hal yang membatalkan puasa.


Berkaitan dengan pergunjingan dan prasangka buruk tersebut Alquran al-Karim berkata:


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu rela memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” ( QS. al-Hujurat: 12)


Penghulu para syuhada, Imam Husain a.s. berkata: “Pergunjingan adalah makanan anjing-anjing penghuni neraka.”


Imam Khomeini memberikan komentar terhadap perkataan yang mulia ini: “Sesungguhnya orang yang menggunjing manusia dan terbiasa atasnya, maka secara perlahan-lahan hakikatnya akan berubah menjadi hakikat anjing. Ketika ia dilemparkan ke dalam Jahanam pada Hari Kiamat dikarenakan hal itu, maka makanannya di dalamnya berupa darah dan daging orang-orang yang digunjingnya di dunia.”


Terdapat hadis lain yang cukup terkenal dan dinukil oleh para fukaha besar dalam kitab-kitab mereka, yaitu: "Ghibah lebih jahat dari zina.”


Rasulullah saw berwasiat kepada Abu Dzar: "Wahai Abu Dzar, hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah lebih keras dari zina."


Abu Dzar berkata: "Demi ayah dan ibuku, mengapa demikian ya Rasulullah?"


Beliau menjawab: "Karena seseorang yang berzina dapat bertobat kepada Allah hingga Allah mengampuninya, sedangkan ghibah tidak akan dimaafkan sehingga orang yang digunjing memaafkannya." (Makarim al-Akhlaq, hal. 468)


Tidak Ada Perbedaan antara Perkataan yang Menyakitkan dan Pergunjingan


Perkataan yang menyakitkan dan yang menusuk perasaan, tidak berbeda dengan pergunjingan. Apabila kita berbicara di depan seseorang dengan perkataan yang menyakitkan sehingga ia tersinggung dan sakit hati, maka berarti saya telah menusuk perasaannya. Apabila saya membicarakan hal itu di belakangnya, maka itu adalah ghibah. Adapun ketika kita membicarakan aib seseorang yang sebenarnya ia bersih dari apa yang digunjingkan, baik berbicara di depannya atau di belakangnya, maka ini dinamakan dengan buhtan (kebohongan besar).


Perbuatan ini mendatangkan dosa yang besar se­kali. Ia termasuk salah satu contoh dari permusuhan kepada manusia, dan permusuhan kepada manusia termasuk salah satu makna dari fitnah, yang menurut Alquran ia lebih keras dari pembunuhan.


Hilangnya penghormatan timbal balik yang kemudian digantikan oleh pergunjingan dan usaha menjatuhkan, semua itu akan menyebabkan datangnya azab Ilahi dan neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar [berita] perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat.” (QS. an­Nur: 19)


*Disarikan dari buku Menelusuri Makna Jihad – Husain Mazhahiri