Adab dalam Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan


Berpuasa satu bulan penuh selama bulan Ramadan bukan berarti kita menjadi tidak produktif, meski dalam salah satu hadis disebutkan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Tetapi maksud dari hadis tersebut diantaranya adalah apapun yang dilakukan (selama itu positif) akan dicatat oleh Allah Swt sebagai ibadah. Rasulullah saw dalam sabdanya, “Seseorang yang berpuasa selalu dalam keadaan beribadah meskipun dalam keadaan tidur di atas ranjangnya…”


Ketika sedang berpuasa kita juga dianjurkan untuk memperhatikan adab-adabnya, supaya puasa kita afdhal, dan tidak hanya mendapatkan laparnya saja. Berikut adalah etika ketika kita sedang berpuasa.


Wara

Wara adalah menjauhi berbagai hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Rasulullah saw bersabda, “Sesiapa yang anggota tubuhnya tidak berpuasa dari berbagai hal yang diharamkan Allah, maka tidak berguna lagi meninggalkan makanan dan minuman.”


Sayyidina Ali bertanya kepada Rasul saw, “Wahai Rasulullah saw, apa amal-amal terbaik pada bulan ini?"

Beliau saw menjawab, “Wahai Abal Hasan, amal-amal terbaik pada bulan ini adalah wara dari berbagai hal yang diharamkan Allah.”


Menjauhi Ghibah

Ketika berpuasa dari makan dan minum, biasanya yang sulit direm adalah berghibah, apalagi ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya. Ternyata bukan hanya mengurangi pahala puasa, berghibah juga dapat membatalkan puasa.

Rasulullah saw bersabda, “Bila seseorang yang berpuasa melakukan ghibah, berarti telah membatalkan puasanya.”


Sayyidah Fathimah berkata, “Tidak akan ada gunanya ibadah puasa seseorang yang berpuasa tetapi tidak menjaga lisan, pendengaran, dan penglihatannya serta anggota tubuhnya.”


Menjauhkan Diri dari Mencaci Maki

Rasulullah saw bersabda, “Jangan mencaci sementara kalian berpuasa. Jika ada yang mencacimu maka katakan, ‘Aku sedang berpuasa, atau kalau Anda sedang berdiri, duduklah.’”


Rasulullah saw menambahkan, “Setiap hamba yang saleh ketika dimaki, akan berkata (kepada yang memakinya), ‘Aku sedang berpuasa, salam kepadamu, aku tidak akan memakimu sebagaimana Anda memakiku.’ Maka Allah akan mengatakan kepadanya, ‘Hambaku telah melindungi puasanya dari kejahatan hamba-Ku, maka Aku melindungi dia dari neraka.’”


Menjauhkan Diri dari Berbohong

Sayyidina Muhammad Baqir berkata, “Berbohong itu akan membatalkan puasa, [begitu juga] pandangan yang haram dan kezaliman seluruhnya, baik sedikit atau banyak.”


Menjauhkan Diri dari Riya

Rasulullah saw bersabda, “Sesiapa yang berpuasa tetapi bersikap riya, maka telah musyrik.”


Menjauhkan Diri dari Hal Makruh

Rasulullah saw bersabda, “Puasa bukan hanya dari makan dan minum saja, tetapi juga dari bermain-main dan perkataan keji. Jika seseorang mencaci Anda atau berbuat jahil kepada Anda, maka katakan, ‘Aku sedang berpuasa.’”


Sayyidina Ja’far Shadiq berkata, “Puasa bulan Ramadan adalah fardhu setiap tahun. Serendah-rendah pelaksanaan fardhu puasa ini adalah tekad kuat di hati seorang mukmin bagi puasanya dengan niat yang benar, meninggalkan makan dan minum serta berhubungan suami istri pada siang harinya, serta memelihara seluruh anggota tubuhnya dan menjaganya dari hal-hal yang diharamkan Allah, Tuhannya, dan mendekatkan diri dengan itu kepada-Nya. Jika semua itu dilakukan maka dia sudah menunaikan fardhunya.”


Nah, dari paparan banyak riwayat di atas menjadi jelas kan bagi kita bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga harus memperhatikan adab-adabnya. Supaya kita tidak hanya mendapat lapar dan haus saja. Berpuasa adalah untuk menyucikanlah jiwa-jiwa kita dari setiap kotoran. Maka dari itu marilah berpuasa dengan hati yang ikhlas, murni, dan bersih dari berbagai pemikiran buruk dan perbuatan keji.