Ajaran Etika dalam Islam


Beberapa pemikir Barat telah melakukan proyek penelitian dan studi yang mengembangkan cara untuk memengaruhi orang, mereka menulis buku panduan dan buku lainnya sehubungan dengan cara orang bersosialisasi dengan orang lain. Sangat menarik untuk dicatat bahwa sebagian besar informasi yang disusun para pakar ini sesungguhnya telah diurai secara lugas dalam riwayat-riwayat Islam.


Sayangnya para penulis berbakat dan sarjana kita tidak ambil bagian dalam pengajaran etika yang bersumber dari agama Islam yang diterima luas hingga hari ini. Ditambah dengan contoh-contoh praktis bagi generasi muda yang haus mendengarkan berbagai macam pengajaran akhlak dan etika.


Banyak orang membayangkan bahwa informasi (tentang akhlak dan etika) ini berdasar pada inisiatif (penelitian) dari dunia Barat. Ini terjadi karena ajaran agama kita tentang masalah tersebut tidak dihadirkan sesuai keinginan para ulama. Sebaliknya generasi muda seharusnya tahu bahwa di wilayah pembahasan tentang akhlak dan etika itu, Nabi saw dan penerusnya telah memberi kita banyak petunjuk.


Penulis dan perawi hadis yang termasyhur, Syekh Hurr Amuli (semoga rahmat Allah tercurah atasnya) dalam bukunya Wasail al-Syi’ah, telah meriwayatkan banyak hadis mengenai tanggung jawab seorang muslim dan cara yang harus dia tempuh ketika berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Beliau telah meriwayatkan hadis Nabi saw dan Ahlulbait as dengan tajuk “Hukum Bergaul dalam Keadaan Mukim dan Safar.”


Metode interaksi Nabi saw dengan orang lain di sekelilingnya merupakan pedoman terbaik bagi kita dan amat sangat membantu kita dalam kehidupan. Pada bagian ini kami menyajikan secara ringkas beberapa contoh perilaku dan cara berhubungan Nabi saw dengan orang-orang di sekitarnya.


  1. Nabi saw adalah orang yang pertama mengucapkan salam kepada orang lain.

  2. Apabila ingin berbicara kepada orang di jalan atau di suatu majelis pertemuan, beliau tidak akan berbicara dengan mereka sambil melirikkan matanya. Sebaliknya, beliau akan menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah orang itu dan kemudian berbicara dengan lawan bicara pada saat berbicara, beliau selalu memasang senyum di wajahnya.

  3. Apabila seseorang membuat kesalahan ketika berbicara, beliau tidak akan memanggilnya untuk menjelaskan maksud perkataannya.

  4. Tidak ada seorang pun yang pernah kehilangan sikap baik dan budi pekerti beliau.

  5. Apabila sahabat-sahabatnya tidak hadir (dalam sebuah pertemuan), beliau akan segera menanyakan kabar orang itu (kepada yang lain).

  6. Beliau menghormati orang dari semua kelas dan peringkat sosial sehingga siapa pun yang bertemu dengannya merasa seolah-olah dia orang paling terhormat di hadapan Nabi saw.

  7. Setiap kali berada dalam suatu pertemuan, beliau tidak pernah memilih untuk duduk di tempat tertentu, melainkan duduk di tempat kosong di mana saja.

  8. Beliau memenuhi kebutuhan dan permintaan mereka yang datang kepadanya. Apabila tidak mampu, paling tidak beliau berusaha membuat mereka senang dengan kata-kata yang baik.

  9. Beliau tampil sederhana, bermartabat, jujur dan menyenangkan dalam pertemuan serta tidak pernah meninggikan suaranya ketika berbicara.

  10. Beliau bertenggang rasa terhadap budi pekerti buruk dari orang-orang yang tidak tahu kebaikan dan budi buruk orang-orang asing. Jika seseorang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan karakternya, Nabi saw tidak akan berburuk sangka.

  11. Beliau menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

  12. Beliau berbicara sangat sedikit dan tidak pernah memotong ucapan orang lain.

  13. Beliau tidak pernah mencela siapa pun.

  14. Beliau menjauhi hal-hal tidak patut atau tidak bernilai dan menyimak perkataan orang lain dengan saksama.

Selain itu Rasulullah saw memiliki sifat-sifat lain yang paling terpuji dan berkarakter surgawi yang telah disebutkan dalam buku yang mengurai kehidupan dan biografi Rasulullah saw dan sejarah Islam.


*Disarikan dari buku Etika Qurani dalam Surat Al-Hujurat - Prof. Jafar Subhani