Apa yang Harus Dilakukan dalam Memerangi Hawa Nafsu?



Seluruh kemaksiatan bermula dari mendahulukan hawa nafsu daripada akal sehat. Mengikuti hawa nafsu dapat menyebabkan terhalangnya si pelaku dari hidayah dan taufiq-Nya.


“Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf: 176)


Mengikuti hawa nafsu juga akan membawa pelakunya menolak kebenaran dan sesat dari jalan Allah Swt bahkan dapat menyesatkan orang lain.


“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)


Untuk itu hendaklah setiap mukmin harus ekstra waspada terhadap sikap mengikuti hawa nafsu. Di antara yang bisa dilakukan untuk mengalahkan tarikan hawa nafsu yang senantiasa memerintahkan dirinya agar melakukan maksiat adalah dengan memeranginya. Rasulullah Saw bersabda: “Dengan memerangi hawa nafsu, niscaya kebiasaan yang buruk akan dapat dikalahkan.” (Tanbih al-Khawathir. jil. 2, hal. 119)


Lantas bagaimana cara memeranginya?


Rasulullah Saw bersabda: “Perangilah nafsu kalian dengan menyedikitkan makan dan minum, niscaya malaikat-malaikat akan menaungi kalian dan setan akan lari dari kalian.” (Tanbih al-Khawathir, jil. 2, hal. 122)


Dalam riwayat lain Imam Ali as berkata: “Perangilah nafsumu untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, seperti seorang musuh yang memerangi musuhnya, dan tundukkanlah ia seperti seorang lawan yang menundukkan lawannya, karena sesungguhnya orang yang paling kuat adalah orang yang dapat mengatasi nafsunya.” (Ghurar al-Hikam, hadis ke-4761)


Imam Ali as berkata: “Perangilah hawa nafsumu, kuasailah amarahmu, dan lawanlah kebiasaan burukmu, niscaya jiwamu akan menjadi suci, akalmu menjadi sempurna, dan engkau beroleh kesempurnaan pahala Tuhanmu.” (Ghurar al-Hikam, hadis ke-4760)


Dengan memerangi hawa nafsu seseorang akan dinaikkan derajatnya oleh Allah Swt sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali as: “Mencegah nafsu dan memerangi keinginannya akan meningkatkan derajat dan melipatgandakan pahala.” (Ghurar al-Hikam, hadis ke-5407)


Karena jihad yang paling utama adalah dengan berperang melawan hawan nafsu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ali as. Beliau mengisahkan bahwasanya Rasulullah Saw pernah mengutus sepasukan tentara (sariyah). Tatkala mereka pulang Rasulullah Saw berkata kepada mereka: “Selamat datang wahai kaum yang telah menyelesaikan jihad asghar (kecil) dan tersisa bagi mereka jihad akbar (besar).”


Kemudian sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa jihad akbar itu?”

Rasulullah Saw menjawab: “Jihad akbar adalah jihad (dalam memerangi) nafsu.” (Ma’ani al-Akhbar, jil. 1, hal. 160)