Berbaik Sangka kepada Allah


Dalam hadis riwayat Imam Ja’far Shadiq a.s. dari Rasulullah saw diterangkan: “Seorang hamba pada akhirnya akan diseret ke neraka oleh para malaikat. Tiba-tiba ia melihat sekitar dirinya dan Allah Swt memerintahkan agar ia dikembalikan (ke tempat semula). Maka ia dikembalikan.


Tuhan berkata: ‘Mengapa kamu melihat sekitar dirimu? Seruan apa yang kamu tunggu?’


Si hamba berkata: ‘Tuhanku, aku tidak pernah menyangka demikian terhadap-Mu!’


‘Lantas apa yang kamu sangkakan?’ tanya Tuhan.


Ia mengatakan: ‘Yang telah aku sangka ialah bahwa Engkau akan mengampuni dosa-dosaku dan akan memasukkan aku ke dalam surga-Mu!’


Tuhan berkata: ‘Hai para malaikat-Ku! Demi kemuliaan dan keagungan-Ku; demi karunia dan kedudukan-Ku yang tinggi, hamba-Ku ini sama sekali tidak pernah bersangka baik terhadap-Ku. Sekiranya ia pernah bersangka baik terhadap-Ku barang sesaat, tentu Aku tidak akan mengirimnya ke neraka. Walaupun ia berkata bohong, dengan yang telah ia tampakkan itu, terimalah sangka baiknya dan masukkan ia ke dalam surga!’


Kemudian Rasulullah saw bersabda: ‘Tiada seorang hamba yang bersangka baik terhadap Allah Swt melainkan Allah ada pada sangkaannya. Sebagaimana firman-Nya: Dan yang demikian itu adalah prasangka yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu.’” (Tafsir Nur al-Tsaqalain 4/544 surat Fushshilat: 23)


Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa buruk sangka terhadap Allah Swt dapat membahayakan manusia, ia bisa menyeretnya pada kebinasaan dan siksaan abadi. Sebaliknya, baik sangka kepada-Nya akan membawa manusia pada keselamatan di dunia dan akhirat.


Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq a.s. berkata: “Hendaklah seorang mukmin takut kepada Allah dengan rasa takut seakan ia akan ditempatkan ke dalam neraka dan berharap kepada-Nya seolah ia adalah penghuni surga. Sesungguhnya Allah berfirman: Dan yang demikian itu adalah prasangka yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu. Sesungguhnya Allah ada pada sangkaan hamba-Nya. Jika ia bersangka baik terhadap-Nya, akibat baginya baik. Jika ia bersangka buruk terhadap-Nya, akibat baginya adalah buruk.” (Majma' al-Bayan, tafsir surat al-Qashash: 19-22)


Baik Sangka terhadap Allah Bernilai Surga


Baik sangka kepada Allah dan terhadap janji kasih sayang, kemurahan, rahmat, dan inayah-Nya adalah salah satu tanda keimanan, sekaligus perantara keselamatan dan kebahagiaan. Rasulullah saw berkata: "Tiada seorang hamba bersangka baik terhadap Allah, melainkan Allah akan berlaku terhadapnya sebagaimana yang ia sangkakan." (Bihar al-Anwar 7/348)


Imam Ali bin Musa Ridha a.s. berkata: “Berbaik sangkalah terhadap Allah! Karena Allah Swt (dalam hadis qudsi) berfirman, ‘Aku ada dalam sangka baik hamba-Ku yang beriman! Jika ia berbaik sangka terhadap-Ku, Aku berlaku baik terhadapnya. Jika ia bersangka buruk terhadap-Ku, Aku berlaku buruk terhadapnya.” (Bihar al-Anwar 7/348)


Nabi Muhammad saw bersabda: “Sangka baik terhadap Allah itu adalah harga surga.202 Nilai apakah yang lebih mudah dari ini? Kesenangan manakah yang lebih bernilai darinya?


Amirul mukminin Ali a.s. berpesan kepada putranya: "Takutlah kepada Allah, yang sekiranya kamu berbuat semua kebaikan umat manusia di atas bumi Dia tidak pernah mengampunimu. Berharaplah kepada-Nya, yang sekiranya kamu punya semua dosa umat manusia di atas bumi Dia akan mengampunimu!"


Rasulullah saw pun bersabda: "Tak seorang pun yang masuk surga dengan amalnya!"


Mereka bertanya: "Tidakkah termasuk engkau sendiri wahai Rasulullah?"


"Tidak juga aku! melainkan rahmat Allahlah yang meliputi diriku”, jawab beliau. (Jami' al-Akhbar, hal 113) *Disarikan dari buku karya Prof. Ja'far Subhani - Daras Etika dalam Surah Al-Hujurat