Besarnya Ampunan Allah Swt


Dikisahkan ada seorang pemuda yang hidup di tengah bani Israil yang gemar berbuat dosa, sehingga masyarakat bani Israil amat merasa benci kepadanya dan memohon kepada Allah agar menyingkirkan pemuda tersebut. Kemudian Allah Swt berfirman kepada Nabi Musa as: “Keluarkanlah pemuda fasik itu dari kota, sehingga penduduk kota tidak terkena bencana akibat ulah dan perbuatannya.”


Nabi Musa a.s. segera mengusir pemuda itu yang segera masuk ke kota lain, tetapi masyarakat yang tinggal di kota itu juga mengusirnya. Akhirnya dia tinggal di sebuah gua dan jatuh sakit. Tak seorang pun yang merawatnya.


Baca juga Kisah Hikmah: Si Fakir yang Dermawan


Lalu dia bersujud seraya menangis dan merintih; mengakui semua dosa yang telah dia perbuat seraya berkata: “Tuhan! Ampunilah daku, andai anak-istriku ada di sini, tentu mereka akan menangis tatkala menyaksikan penderitaanku ini. Wahai Tuhan yang telah memisahkan diriku dengan ayah, ibu, istri dan anakku, janganlah Engkau campakkan daku ke dalam neraka akibat perbuatan dosaku.”


Mendengar munajat ini, Allah Swt menciptakan beberapa malaikat dalam bentuk ayah, ibu, istri dan anak-anaknya, dan mengutus mereka untuk menemui pemuda tersebut. Tatkala pemuda yang berdosa ini menyaksikan keberadaan keluarganya di dalam gua, dia amat gembira dan kemudian meninggal dunia. Lalu Allah Swt berfirman kepada Nabi Musa: “Kekasih­Ku telah meninggal dunia di dalam gua, mandikan dia dan kuburkan.”


Baca juga Kisah Hikmah: Tangis Taubat Sang Pendosa


Tatkala Nabi Musa masuk ke dalam gua tersebut dan menyaksikan dengan seksama; ternyata jenazah yang ada di hadapannya adalah jenazah pemuda yang gemar berbuat dosa dan telah dia usir dari kota. Nabi Musa bertanya kepada Tuhannya: “Ya Allah! Bukankah itu jenazah si pemuda yang gemar berbuat dosa di mana Engkau telah memerintahkan aku untuk mengusirnya dari kota?”


Allah berfirman: “Wahai Musa! Aku telah mengasihinya. Dan karena dia telah merintih, menderita sakit, jauh dari sanak keluarga, mengakui perbuatan dosa, serta memohon ampun, maka Aku pun mengampuninya.”


*Dikutip dari buku 50 Kisah Teladan – Ali Sadaqat