Cara Mendidik Hati Nurani Anak

Diperbarui: 11 Jan



Para ulama, pakar akhlak, dan psikolog bersepakat tentang keharusan membersihkan, mendidik, dan menempa hati nurani. Sebab jika tidak, kemungkinan besar hati nurani akan bungkam dan tidak lagi memiliki peran yang penting bagi kehidupan manusia. Hati nurani membutuhkan pembinaan dan penjagaan yang serius, serta pengetahuan yang memadai, demi menumbuhkan kemampuannya mengontrol perilaku manusia dalam keseharian hidupnya. Aturan-aturan agama dan akhlak perlu diberikan kepada anak-anak agar mereka mampu menjaga kepribadian dan kesehatan akal pikirannya.


Sesungguhnya hati nurani anak jauh lebih lentur dan lebih mudah diubah ketimbang hati nurani orang dewasa. Tatkala mereka menemui masalah yang bertolak belakang dengan keinginan hati nuraninya, cukup dengan bersikap lembut atau menegurnya dengan sedikit tegas, mereka akan mau menerimanya. Sekalipun mereka merasa tidak puas karenanya.

Itu lantaran perilaku yang dimiliki sang anak pada tahun-tahun pertama usianya belum terlalu mengakar dalam dirinya. la tak punya kemampuan untuk mempercayai dirinya sendiri, dan lebih cenderung bersandar pada orang tuanya. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memperhatikan kelenturan pribadi sang anak pada fase usia ini. Kita harus menjaga dan membina nuraninya, sekaligus mengajarkannya tentang kebenaran.


Menurut Dr. Ali Qaimi dalam bukunya Mengajarkan Keberanian dan Kejujuran Pada Anak menuliskan bahwa terdapat sejumlah prinsip dan aturan yang harus diperhatikan dalam upaya membina nurani anak-anak:


Pendidikan

Orang tua memiliki tugas mengajarkan dan menjelaskan contoh-contoh konkret kepada anak-anaknya, sekaligus mendorongnya untuk mau berbuat baik, serta melarangnya berbuat sesuatu yang buruk, seperti menyakiti perasaan orang lain. Orang tua harus mengajarkan anak-anaknya prinsip-prinsip logis dan ilmiah yang melandasi konsep kebaikan dan keburukan.


Menjadi suri teladan

Orang tua harus menjadi suri teladan bagi anaknya, segala perilaku hidup sehari-hari orang tua merupakan pelajaran yang akan diserap dan direkam anak-anak. Segenap apa yang disaksikannya akan direkam dalam nuraninya yang kelak mempengaruhinya, karera orang tua merupakan cermin dari perbuatan baik dan buruk anak-anaknya.


Pendidikan akhlak

Pendidikan akhlak tentunya sangat penting dan sesuai dengan hati nurani. Anak-anak membutuhkan nasihat yang disampaikan secara berulang-kali sampai kemudian mengakar dalam dirinya. Secara fitriah, seorang anak memang mengetahui segala urusan. Namun untuk mengaktualisasikannya, diperlukan pendidikan dan motivasi.


Memanfaatkan cerita

Banyak cerita yang bermanfaat bagi anak-anak. Kita dapat mendidik nurani sang anak dengan cara menyampaikan cerita yang baik yang mengandungi prinsip-prinsip fitrah. Sebaiknya kita memilih cerita-cerita kepahlawanan yang sederhana agar mudah mengakar dalam jiwanya. Upayakan agar cerita-cerita itu menampilkan dengan jelas nilai-nilai kebaikan, keindahan, dan keburukan. ltu agar anak-anak mampu membedakan mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat.


Memanfaatkan permainan

Permainan dapat menjadi sarana yang efektif dalam mendorong keberanian anak-anak untuk bersikap, mengambil keputusan, serta berpendapat tentang kebaikan atau keburukan. Usahakanlah untuk memilih jenis permainan yang dapat menyadarkan nurani sang anak dan mengajaknya ke jalan yang benar.


Memanfaatkan nasihat dan motivasi

Orang tua agar tidak keberatan melontarkan pujian dan penghargaan kepada sang anak yang telah berbuat baik. Sebab, itu dapat memotivasi dirinya untuk lebih baik dan lebih banyak lagi berbuat baik. Nasihat baru diberikan tatkala sang anak melakukan suatu kesalahan agar dirinya tidak mengulanginya lagi. Dengan cara ini, jiwa sang anak akan tumbuh dengan baik


Mendorong berpikir dan merenung

Orang tua harus mendorong sang anak untuk berpikir dan merenung, dengan cara ini, segenap pertentangan yang bergejolak dalam jiwa akan lenyap. Dengan merenung ia akan mampu mencapai pengetahuan yang mendalam serta mengetahui segenap hal yang disukai nuraninya, serta tidak melangkahkan kakinya di jalan yang bertentangan dengan fitrahnya.