Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Anak



Sehubungan dengan masalah kenakalan anak-anak, banyak faktor penyebab yang bisa disebutkan di sini:


1. Kondisi pertumbuhan


Adakalanya kenakalan seorang anak terjadi pada tahap-tahap pertumbuhannya. Sebagaimana yang sering kita saksikan, pada tahapan-tahapan tertentu, sang anak mulai menunjukkan kemandiriannya dan tidak bersedia terikat dengan aturan apa pun. Ia berusaha menundukkan orang lain dan menolak mengikuti setiap perintah. Dalam mencapai kemandiriannya, sang anak melakukan kenakalan dan berulah tertentu demi melancarkan protes (dengan kata-kata) atau kritikan. Dengan cara seperti inilah, ia ingin menunjukkan kepribadiannya. Kenakalan semacam ini harus segera diperbaiki. Dan sang anak harus segera dikembalikan ke dalam kondisinya yang normal dan alamiah.

2. Kerusakan syaraf


Sebagian anak-anak, dikarenakan kerusakan syarafnya, selalu mempersulit keadaan, bersikap sensitif, dan senang mencari-cari alasan. Ia memiliki banyak keinginan dan ingin segera mewujudkannya tanpa melalui pertimbangan yang matang. Ketika keinginannya dihambat, ia akan berulah dan berbuat nakal. Kerusakan syaraf ini besar kemungkinan berasal dari faktor genetik atau kondisi lingkungan yang kurang baik. Atau terkadang bersumber dari sejumlah penyakit lainnya.


3. Tidak memperhatikan kebutuhan anak


Adakalanya kenakalan seorang anak timbul lantaran faktor orang tua, khususnya ibu, yang tidak memperhatikan segenap kebutuhannya. Misalnya, sang anak menghendaki sesuatu dari toko, dan kedua orang tuanya tidak memenuhi keinginannya atau menolaknya dengan cara-cara yang kasar. Disebabkan inilah, sang anak kemudian berbuat nakal dan bersikeras untuk meraih keinginannya.


4. Pendidikan buruk


Pendidikan anak yang keliru akan menimbulkan pelbagai dampak (buruk). Adakalanya seorang ibu terlampau berlebihan dalam mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Ini menjadikan sang anak bersikap manja dan tergantung kepadanya. Ketika sang anak menangis, ibunya berusaha menghentikan tangisnya dengan cara memenuhi keinginannya. Itu dilakukannya agar sang anak menjadi terdiam dan tidak menangis lagi. Namun, pada masa­masa berikutnya, semua itu akan menjadi kebiasaan (buruk) bagi sang anak. Sikap inilah yang memicu sang anak untuk menangis, berbuat nakal, dan menentang perintah.


5. Faktor perasaan


Seorang anak pada umumnya haus akan kasih sayang orang tuanya serta merindukan seseorang yang mau mencurahkan perhatian kepadanya. Namun, sewaktu merasa kasih sayang yang diberikan berusaha dengan berbagai macam cara untuk menarik perhatian dan kasih sayang orang tuanya itu. Umpama, berpura-pura terjatuh ke tanah dan menangis sedih. Ia tak akan berhenti melakukannya sampai dirinya memperoleh kasih sayang yang diharapkannya.


6. Penyakit kejiwaan


Sebagian penyakit kejiwaan direfleksikan dalam bentuk kenakalan, mencari-cari alasan, dan berprasangka buruk. Barangkali, masih terlalu dini bagi kita untuk membahas soal penyakit kejiwaan anak-anak. Namun kita tidak boleh lupa bahwa sebagian anak-anak telah terjangkiti sindrom skizofrenia. Di antara ciri dari sindrom atau penyakit ini adalah sikap mengasingkan diri secara ekstrem, hanyut dalam kesedihan dan kegundahan hati, serta membatasi dunia kehidupannya sendiri.


7. Faktor kesehatan


Dalam beberapa keadaan, kenakalan seorang anak timbul lantaran faktor kesehatan. Misalnya, tiba-tiba Anda melihat anak Anda berteriak lantaran hal sepele, kemudian menangis dan membuat kegaduhan. Tanpa meneliti penyebabnya, Anda langsung marah atau jengkel dan bahkan memukulnya. Namun selang beberapa saat, barulah Anda mengerti ternyata anak Anda itu tengah menderita sakit gigi atau telinganya berdarah. Sementara ia belum sempat menjelaskan keadaannya itu kepada Anda. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan dan kenakalan anak saling terkait satu sama lain.


8. Faktor kejiwaan


Faktor kejiwaan tidak identik dengan penyakit kejiwaan. Namun lebih dimaksudkan dengan keinginan terhadap sesuatu yang bersumber dari sifat dasar manusia. Seorang anak menghendaki kebebasan dan kemandirian, tercapainya tujuan tertentu, serta bergaya hidup tersendiri. Namun, sewaktu merasa kedua orang tuanya menghalangi keinginannya, ia lantas memikirkan cara untuk menyingkirkan penghalang tersebut. Kalau merasa tak sanggup menghancurkan penghalang dengan kata-kata atau logika, maka sang anak akan menempuh cara lain demi meraih tujuannya itu. Dan demi kesuksesannya, ia tak akan sungkan-sungkan menggunakan cara-cara yang menyimpang.


9. Faktor peraturan


Dalam beberapa keadaan, penyebab kenakalan dan kekeras-kepalaan anak-anak berasal dari peraturan yang diberlakukan orang tua yang mempersulit keadaannya. Ya, pemaksaan kehendak hanya akan mendorong sang anak berani menentang atau melawan perintah orang tua. Mencampuri urusan anak dan membatasi kebebasannya juga dapat memicu kenakalan anak, khususnya bagi yang masih berusia 2,5 hingga tiga tahun. Memaksakan anak untuk makan atau tidur serta mengenakan pakaian tertentu, terlebih dengan menyertakan ancaman tertentu, merupakan faktor lain yang mendorong anak berbuat nakal.

10. Faktor ajaran buruk


Dari satu sisi, masalah kenakalan anak merupakan problem akhlak. Sementara pada sisi yang lain merupakan problem perasaan. Apabila kita mampu mengarahkan kenakalan sang anak sejak masih kecil, niscaya ia akan tumbuh dewasa dengan wajar dan normal. Kenakalan merupakan perilaku yang dapat menular. Karena itu, kenakalan atau perilaku buruk anggota keluarga, terutama kedua orang tua, sangat berpengaruh dalam memicu kenakalan anak. Kedua orang tua merupakan contoh (teladan) bagi anak-anaknya. Setiap anak akan meniru gerak-gerik dan perilaku orang tua atau anggota keluarga lainnya. Kadang kala, sang anak mempelajari kenakalan atau ulah tertentu dari teman-teman pergaulannya.


Selain faktor-faktor di atas, masih banyak lagi faktor lainnya; seperti kesibukan orang tua dan kekacauan dalam lingkungan keluarga sehingga menjadikan sang anak tidak merasa aman tinggal di rumah. Kenakalan mereka harus segera dibenahi dan diperbaiki sedemikian rupa, terlebih jika kenakalan itu bukan menjadi bagian dari proses pertumbuhan dirinya. Namun, sekalipun menjadi bagian dari proses pertumbuhannya, kenakalan tersebut tetap harus dijaga agar tidak menjadi kebiasaan dan bersifat permanen dalam dirinya. Mengabaikan kondisi ini dan membiarkannya berkembang, akan menyebabkan timbulnya akhlak yang buruk, kerusakan syaraf, gangguan kesehatan, dan berbagai dampak buruk lainnya yang bersifat kejiwaan.


Kenakalan anak merupakan fondasi yang mendasari timbulnya pelbagai sikap buruk dan perilaku keliru dalam kehidupan sehari­hari. Pendidikan salah kaprah semacam ini menimbulkan takdir buruk bagi kehidupan seseorang. Dan pengaruh buruknya kemungkinan besar akan tetap melekat sampai akhirnya hayatnya.


Pada pembahasan selanjutnya kita akan membahas tentang cara pengobatan dan penanganan kenakalan pada anak.


*Prof. Ali Qaimi - Keluarga dan Anak Bermasalah