Faktor Kematian Hati


Di dalam hadis ada banyak poin tentang hati, keselamatan, kehancuran yang menimpanya, beserta cara mengatasinya. Islam menjelaskan semua itu karena mengutamakan prinsip pemikiran, akidah, dan akhlak terhadap segala sesuatu, apalagi semua yang dilakukan manusia berdasarkan prinsip itu.


Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Ada empat macam hati, yaitu hati yang memuat nifaq dan iman, hati yang terbalik, hati yang sudah terkunci sehingga kebenaran tidak akan masuk ke dalamnya, dan hati yang bercahaya dan kosong dari selain Allah.”


Hati yang bercahaya ialah hati seorang mukmin, bersyukur atas apa yang Allah karuniakan kepadanya dan bersabar atas musibah yang menimpanya. Hati yang terbalik ialah hati kaum musyrik, sebagaimana firman Allah: “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. al-Mulk: 22)


Hati yang di dalamnya terdapat nifaq dan iman ialah hatinya orang yang tiada beda baginya kebenaran dan kebatilan. Ia akan ikut kebenaran bila berada di lingkungan benar dan kecenderungan pada kebatilan apabila berada di lingkungan batil. Sedangkan hati yang telah terkunci ialah hatinya orang munafik. (Ushul al-Kafi, 2/9)


Rasulullah saw bersabda: “Dua perkara yang menyebabkan kematian hati: mengulang-ulang perbuatan dosa dan bergaul dengan orang-orang yang mati.”


Beliau ditanya: "Siapakah mereka itu yang telah mati wahai Rasulullah?"


Nabi menjawab: “Dialah orang kaya yang mabuk kekayaan.” (Bihar al-Anwar 74/195)


Mengenai tafsir ayat 24 pada surah Muhammad: “ataukah hati mereka terkunci?” Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Sesungguhnya kamu mempunyai hati dan pendengaran (yang merupakan jalan masuknya), apabila Allah menghendaki hidayah bagi hamba-Nya (yang bertakwa), Dia akan membuka pendengaran hati. Apabila Allah menghendaki sebaliknya, Dia akan mengunci pendengaran hati, yang dalam hal ini tidak akan dapat dibenahi. Inilah makna firman Allah, ‘ataukah hati mereka terkunci?’” (Majma al-Bayan, 10/471)


*Dikutip dari buku Bertuhan dalam Pusaran Zaman – Said Husaini