Falsafah Pendidikan

Diperbarui: 18 Feb



Pendidikan secara sederhana dan umum adalah suatu usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut dalam kehidupan. Karena itu, bagaimana pun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.


Salah satu kelebihan terpenting yang dimiliki manusia ialah kemampuan menerima pendidikan. Pendidikan telah dimulai sejak pertama kali manusia ada dan akan terus berlangsung sepanjang sejarah dan selama manusia masih ada. Pendidikan merupakan suatu perkembangan dan pertumbuhan manusia yang terus menerus dalam bentuk generasi tua mengajarkan kepada generasi yang lebih muda berbagai hasil pelajaran dan pengalaman mereka dan orang-orang terdahulu dari mereka. Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dalam berbagai dimensinya secara umum merupakan akibat dari Pendidikan.


Pendidikan menurut Bapak Pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmani manusia yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.


Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) menjelaskan bahwa pendidikan itu ialah untuk membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesempurnaan.


Jean Soto menulis: "Pendidikan dan pengajaran adalah pembuka wujud diri. Manusia yang sudah terdidik adalah manusia yang dengan akalnya mampu mengendalikan berbagai daya dan tabiat hewaninya dan membimbingnya ke arah kesempurnaannya. Oleh karena itu, mendidik adalah membantu anak untuk dapat menjadi pribadi yang bebas dan disiplin."


Menurut pakar Pendidikan kontemporer Carter V. Good bahwa pendidikan mengandung pengertian sebagai suatu: (a). Proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakatnya; dan (b). Proses sosial di mana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan pribadinya.


Dari pandangan Carter V. Good di atas dapat dipahami bahwa pendidikan menentukan cara hidup seseorang, karena terjadinya modifikasi dalam pandangan seseorang disebabkan pula oleh terjadinya pengaruh interaksi antara kecerdasan, perhatian, dan pengalaman, yang dinyatakan dalam perilaku, kebiasaan, paham kesusilaan, dan lain sebagainya.


Pengaruh pendidikan dalam jiwa seseorang merupakan pendorong kemampuan untuk berkembang. Sedangkan pendorong utama, adalah potensi-potensi berupa bakat dan pengalaman yang terpendam pada diri seseorang atau anak didik. Bagaimana pun baiknya rencana pendidikan, hasil dan manfaat bagi anak didik dan masyarakat tergantung kepada anak didik dan masyarakat itu sendiri.


Demikian pula dengan kecakapan dan bakat seseorang atau anak didik, hanya dapat berkembang dengan baik apabila memperoleh kesempatan yang sebaik-baiknya dalam pendidikan. Lebih dari itu, pendidikan akan selalu berkaitan dengan pola-pola tingkah laku kehidupan bermasyarakat. Karena orang yang hidup dan bergaul di masyarakat selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka proses pendidikan dan pengaruhnya akan tampak pada perkembangan individu dan masyarakat.


Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu yang kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya, baik sebagai seorang individu maupun sebagai warga negara atau warga masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlumelakukan usaha yang disengaja dan terencana untuk memilih isi (bahan materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Kegiatan tersebut dapat diberikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, berupa pendidikan jalur sekolah (formal) dan pendidikan jalur luar sekolah (informal dan nonformal).


Disarikan dari buku:

Agar Tak Salah Mendidik - Prof. Ibrahim Amini

Filsafat Pendidikan - Dr. Muhammad Anwar