Falsafah Pendidikan Islam



Tujuan terpenting risalah para nabi terutama Nabi Muhammad Saw adalah mengajar dan mendidik manusia. Allah Swt berfirman di dalam Alquran, Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. (QS. Ali Imran: 164)


Banyak sekali definisi yang diajukan oleh para ahli, yang mana semuanya sejalan dengan spesialisasi dan cara pandang mereka tentang manusia dan tujuan hidup manusia. Sebagian besar dari definisi-definisi tersebut hanya menyentuh sebagian dimensi manusia, tidak mencakup dan tidak sempurna.


Di dalam Alquran pendidikan (tarbiyah) dan penyucian (tazkiyah) dinisbahkan kepada orang yang menjadi objek didik dan kepada orang yang menyediakan syarat-syarat yang diperlukan bagi pendidikan seseorang. Oleh karena itu, dalam masalah pendidikan, manusia yang terimbas pendidikan mengalami perkembangan dan berbagai potensi yang ada dalam dirinya berubah menjadi kekuatan nyata. Di sini, ia menjadi pelaku langsung pendidikan. Namun, pendidikan juga dinisbahkan kepada individu dan sesuatu yang lain. Pendidikan dinisbahkan kepada Allah Swt, karena Dia Pencipta kesempurnaan sesungguhnya, dan oleh karena itu Dia disebut sebagai Rabbul 'Alamin.


Pendidikan juga dinisbahkan kepada orang-orang yang menyediakan faktor-faktor perkembangan seorang individu, seperti orang tua dan guru, dan juga orang-orang yang bukan merupakan faktor langsung perkembangan namun apa yang dilakukannya mempunyai andil terhadap tumbuh dan berkembangnya berbagai potensi diri seorang individu. Terkadang, pendidikan dan penyucian juga dinisbahkan kepada faktor-faktor perkembangan itu sendiri, karena dia mempunyai andil terhadap pertumbuhan dan perkembangan seorang individu.


Secara umum, pendidikan dan penyucian dinisbahkan kepada orang-orang yang menyediakan faktor-faktor dan syarat-syarat tumbuh berkembangnya potensi seorang individu. Oleh karena itu, definisi pendidikan yang paling sesuai ialah: memilih tindakan dan perkataan yang sesuai, menciptakan syarat­syarat dan faktor-faktor yang diperlukan, dan membantu seorang individu yang menjadi objek pendidikan supaya dapat dengan sempurna mengembangkan segenap potensi yang ada dalam dirinya, dan secara perlahan-lahan bergerak maju menuju tujuan dan kesempurnaan yang diharapkan.


Dan para pakar pendidikan memiliki banyak perbedaan pandangan dalam berbagai topik dan metode pendidikan, sehingga memunculkan berbagai macam mazhab pendidikan. Namun, dapat dikatakan bahwa semua mazhab pendidikan itu mempunyai satu kesamaan, yaitu semuanya mengabaikan dimensi kemanusiaan manusia dan menganggap manusia tidak lebih dari hewan yang telah mencapai kesempurnaan, yang akan lenyap dengan kematian. Menurut mereka, dalam penciptaannya manusia tidak mempunyai tujuan selain dari mencari kesenangan dan melanjutkan kehidupan dunianya. Dengan dasar pandangan yang seperti inilah mereka kemudian menyusun program Pendidikan.


Tetapi dalam Islam, berkenaan dengan pendidikan manusia, Islam mempunyai mazhab tersendiri yang bersumber dari cara pandang khas terhadap alam dan manusia. Mazhab Pendidikan Islam berdiri di atas dasar-dasar berikut:

  1. Alam mempunyai Pencipta. Dia-lah yang mencipta dan mengatur alam ini.

  2. Manusia tidak hanya terbatas pada unsur jasmani, berkembang biak, nafsu hewani, insting dan emosi, melainkan juga mempunyai ruh yang tidak akan lenyap dengan mati melainkan hanya berpindah dari alam ini kepada alam akhirat.

  3. Penciptaan manusia bukan sesuatu yang sia-sia dan tanpa tujuan. Manusia diciptakan dengan tujuan supaya dia mengembangkan dan menyempurakan jiwanya dengan ilmu, amal saleh dan akhlak yang baik, dan supaya dia mempersiapkan kehidupan yang baik bagi kehidupan sesudah mati.

  4. Bagi manusia telah ditetapkan adanya kehidupan sesudah mati, supaya orang-orang yang saleh memperoleh pahala dan orang­ orang durhaka mendapat siksa. Di alam dunia ini manusia mempunyai dua kehidupan: kehidupan duniawi yang terkait dengan jasmani dan nafsu hewaninya, dan kehidupan spiritual yang terkait dengan ruh kemanusiaannya. Di alam ini, jiwa manusia bisa bergerak meniti ke arah kesempurnaan, keindahan dan cahaya mutlak, atau jatuh ke arah kehidupan hewani dan kegelapan. Dua jenis kehidupan ini bersumber dari jenis keyakinan khas, akhlak dan perbuatan manusia.

Oleh karena itu, dalam mazhab pendidikan Islam, berbagai dimensi jasmani dan rohani manusia, begitu juga kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual manusia mendapat perhatian.


Tidak diragukan bahwa dasar-dasar mazhab pendidikan Islam itu jelas dan terang, di dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi telah dijelaskan sebagian dari cara-cara tersebut, seperti metode dialog, argumentasi, debat, penghormatan, dan kecintaan. Namun sepertinya ini tidak mencukupi untuk dapat memecahkan berbagai persoalan pendidikan yang sulit dan rumit. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus menggunakan buku-buku pendidikan yang merupakan hasil percobaan dan penelitian para pakar. Namun kita harus senantiasa memperhatikan beberapa poin penting berikut:

  1. Para penulis dan para pakar ilmu pendidikan, mereka hanya memperhatikan dimensi jasmani dan hewani para anak didik, dan biasanya mereka melalaikan dimensi kemanusiaan dan pengaruhnya. Di sini, kita harus waspada jangan sampai petunjuk-petunjuk mereka mendatangkan kerugian bagi dimensi kemanusiaan manusia dan kehidupan spiritual mereka.

  2. Para pakar ilmu pendidikan memandang segala sesuatu termasuk akhlak dari sudut pandangan duniawi, mereka mengabaikan pengaruh faktor-faktor spiritual. Oleh karena itu, kita harus waspada jangan sampai para siswa terseret kepada paham materialisme.

  3. Dalam mendidik manusia, para pakar ini hanya menaruh perhatian kepada perbuatan namun mengabaikan faktor keyakinan dan niat. Jelas, ini sebuah kesalahan. Singkatnya, kita dapat mengambil manfaat dari pendapat para pakar ini, kita tidak boleh menolaknya secara serta merta, namun tidak pada setiap tempat dan tidak bagi siapa saja, melainkan pemanfaatannya memerlukan sebuah keahlian Islami supaya kita dapat mengukurnya dengan nilai-nilai Islam, kemudian memperbaiki dan menyempurnakannya.

*Disarikan dari buku karya Prof. Ibrahim Amini – Agar tak Salah Mendidik