Hak Guru dalam Pandangan Islam


Guru adalah sosok yang begitu berharga dalam kehidupan. Kita menjadi seperti sekarang ini adalah berkat jasa guru-guru yang telah mengajarkan ilmunya kepada kita. Di dalam Islam, derajat guru/ seseorang yang memberikan ilmunya itu sangat tinggi. Dalam salah satu hadis, Rasulullah saw bersabda, “Ayahmu itu ada tiga orang. Ayahmu yang melahirkan, dan ayahmu yang menikahkanmu dengan putrinya (mertua), ayahmu yang mengajarkanmu, dan ia yang paling mulia.”


Nabi saw juga bersabda, “Bilamana seorang mukmin duduk dengan seorang yang berilmu selama satu jam, Allah Azza wa Jalla akan berkata, ‘Kau duduk dengan sahabat-Ku. Aku bersumpah dengan kemuliaan dan kehormatan-Ku bahwa Aku akan menjadikan surga tempat tinggalmu. Tiada hambatan untuk ini.’”


Begitu tingginya derajat guru dalam Islam, hingga ia disejajarkan posisinya dengan ayah kita, bahkan lebih tinggi. Dan juga dikatakan apabila ia duduk dengan seorang yang berilmu dan kita mengambil ilmu darinya akan disamakan dengan duduk sahabat Allah. Jadi di sini seorang guru di diposisikan sebagai sahabat Allah Swt.


Namun, tidak semua guru akan membawa kita kepada Allah, malah dia juga bisa menjerumuskan kita. Sayidina Muhammad Jawad ra mengatakan, “Apabila seseorang itu mendengarkan seseorang yang lain, seakan-akan dia menyembahnya. Jika pembicara itu dari Allah (dan mengajarkan hal-hal ilahiah), maka pendengar telah menyembah Allah. Tetapi, jika pembicara itu berbicara melalui lidah setan (dan mengatakan hal-hal yang jahat) maka dia telah menyembah setan.”


Dalam hadis ini, peran berbicara, dan kemungkinan pengaruhnya ditekankan hingga titik ekstrim untuk menjadi llahiah atau setan. Jika pendengar menganggap ucapan guruya berharga, maka ucapan itu bisa sangat efektif pada dirinya.


Melihat besarnya peranan dan derajat guru pada beberapa riwayat di atas, tentu membuat kita bertanya, apa sajakah hak-hak seorang guru yang mesti dipenuhi. Berikut kami kutipkan dari dua guru agung, Sayidina Ali ra dan cucutnya, Sayidina Ali Zainal Abidin bin Husain ra.


Hak Guru Menurut Imam Ali

Imam Ja'far Shadiq as menukilkan bahwa Imam Ali as berkata, "Hak-hak orang yang berilmu adalah sebagai berikut;

1. Kamu tidak boleh menanyakan terlalu banyak pertanyaan.

2. Kamu tidak boleh menarik jubahnya.

3. Apabila engkau pergi menemuinya dan ada beberapa orang bersamanya, sapalah mereka semua dan berikan salam spesial kepadanya.

4. Duduklah di hadapannya, dan jangan duduk di belakangnya.

5. Jangan mengedipkan mata, atau menunjuk dengan jari-jarimu.

6. Jangan banyak bicara, atau berdebat dengannya tentang apa yang dikatakan oleh yang lain bertentangan dengan pandangannya.

7. Jangan marah, jika engkau harus menunggu beberapa saat untuk berbicara dengan dia, karena kondisinya mirip dengan kondisi pohon palem, yaitu engkau harus menunggu untuk sementara waktu sebelum engkau bisa mendapatkan beberapa kurma.”


Hak Guru Menurut Sayidina Ali Zainal Abidin bin Husain ra

“Adapun hak pengurus ilmu (guru) adalah engkau menghormatinya, memuliakan majelisnya, mendengarkan perkataannya, memerhatikannya, dan membantunya ketika mengajarkan ilmu yang engkau butuhkan, menghadirkan pemahaman ketika mendengarkan pelajarannya, menyucikan hati, menjernihkan penglihatan dengan meninggalkan berbagai kelezatan, mengurangi syahwat dan menyadari bahwa dalam pelajaran-pelajaran yang diajarkannya kepadamu engkau adalah utusannya. Sehingga setiap engkau bertemu dengan orang bodoh engkau harus menyampaikan pesannya. Dan jangan engkau khianat dalam menyampaikan pesannya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan bersandar kepada Allah.”


Oleh karena itu, kita dapat meringkas hak-hak guru berikut ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ali Zainal Abidin as.

1. Menghormati guru kita.

2. Sepenuh hati siap untuk menghadiri kuliah guru kita.

3. Tidak meninggikan suara kita di atas suara guru kita.

4. Tidak menanggapi pertanyaan yang ditanyakan oleh orang lain sebelum dia menjawab.

5. Tidak berbicara dengan orang lain sementara kita berada di hadapan guru kita.

6. Tidak bergibah tentang orang lain.

7. Membela guru kita, jika seseorang berbicara buruk tentang dia.

8. Menampakkan kemuliaan guru kita.

9. Tidak bergaul dengan musuh guru kita.

10. Tidak bertindak sebagai musuh terhadap teman-temannya.