Hakikat Manusia Merdeka Secara Universal


“Wahai manusia! Sesungguhnya Adam tidak lahir sebagai seorang budak, dan sesungguhnya manusia seluruhnya adalah orang-orang yang merdeka”. (Sayidina Ali bin Abi Thalib)


Secara umum merdeka dapat diartikan sebagai bebas dari belenggu, penjajahan, dan sebagainya. Hingga kini di banyak belahan dunia masih banyak anak manusia yang dijajah oleh imperialisme global dengan menjelma dalam sebuah sistem terstruktur yang dilindungi oleh negara-negara kuat. Bangsa Palestina adalah contoh konkret dari kekejaman penjajah masa kini, serta banyak negara di dunia ketiga yang masih terus dieksploitasi sumber daya alamnya. Penjajah tidak hanya mereka yang berasal dari luar bangsa, manusia sebangsa bahkan seagama pun banyak yang menjadi pelaku karena keserakahan dan pengkhianatanya.


Dalam perspektif Islam, arti merdeka bukan hanya bebas dari imperialis atau kekejaman orang lain secara personal tetapi juga dari diri / hawa nafsu. Dalam banyak hadis yang berasal dari lisan suci Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya, terdapat berbagai makna terkait dengan kemerdekaan.


Sayyidina Ali ra berkata,

“Janganlah sampai keserakahan memperbudakmu karena Allah telah menjadikanmu seorang yang merdeka”.


Dalam riwayat lain beliau juga menegaskan

“Janganlah engkau menjadi budak orang lain karena Allah telah menjadikanmu seorang yang merdeka”.


Dapat disimpulkan bahwa arti kemerdekaan yang sampaikan oleh Sayidina Ali ‘Sang Pintu Ilmu Kota Nabi’ bahwa merdeka adalah jangan sampai kita menjadi budak dari keserakahan hawa nafsu kita. Hawa nafsu harus ditundukkan agar tidak mengendalikan keinginan liar kita. Jika hawa nafsu sudah membelenggu kita maka kita akan terjajah, tidak bebas, dan kita akan mengingkari hakikat penciptaan, karena Allah Swt menciptakan manusia dalam keadaan merdeka.


Sayidina Ja'far Shadiq ra juga mengatakan, “Sesungguhnya orang yang merdeka adalah merdeka dalam semua keadaan. Jika tertimpa suatu musibah, ia akan bersabar terhadapnya. Jika dirundung berbagai macam kemalangan, maka semua itu tidak menjadikannya berputus asa. Meskipun orang merdeka ditahan, ditaklukan, dan kemudahannya diganti menjadi kesulitan sebagaimana Yusuf as-Shiddiq al-Amin (orang yang amat jujur dan terpercaya) kemerdekaannya tidak akan terusik meskipun ia diperbudak, ditaklukkan, dan ditahan.”


Di sini lebih diperinci oleh Sayidina Ja'far Shadiq ra bahwa merdeka pada seorang muslim harus dalam berbagai keadaan, sabar ketika datang musibah serta tidak mudah berputus asa. Seseoang yang memiliki jiwa merdeka, ia akan seperti Nabi Yusuf as. Meski raganya dipenjara tetapi jiwanya tidak goyah, beliau tidak pernah merasa sendiri karena senantiasa sadar bahwa Allah Swt di sampingnya yang jauh lebih besar daripada masalah yang menimpanya. Inilah hakikat manusia merdeka secara universal.