Hanya Allah Swt, Satu-satunya Pemberi Rezeki



Allah Yang Mahakuasa adalah satu-satunya yang memberikan rezeki kepada makhluk-makhluk-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka. Dia berfirman: “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah suatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tiada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir: 3)


Sebagaimana terlihat pada ayat di atas, Adakah suatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu? Inimengandung pokok yang sangat halus. Lazimnya, pertanyaan itu dapat diajukan begini, “Adakah suatu makhluk yang memberi rezeki kepada kamu?” Namun, Alquran mengajukannya begini, “Adakah suatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu?”


Ini menunjukkan bahwa memberi rezeki adalah suatu hal yang agung dari penciptaan. Artinya, sarana-sarana rezeki haruslah telah diciptakan di dunia sehingga, apabila suatu makhluk memerlukan suatu rezeki, misalnya makanan, ia akan mendapatkan akses ke situ, untuk melangsungkan kehidupannya.


Jadi, dalam realitas, dapat dikatakan bahwa yang telah menjadikan makhluk sebagai memerlukan rezeki dan yang telah menyediakan sarana rezeki, termasuk bahan makanan, dalam jangkauannya, adalah juga yang memberikan rezeki kepada makhluk. Dan memberikan rezeki kepada makhluk tak lain dari memungkinkan ia menggunakan bahan makanan yang telah diciptakan itu dan yang telah tersedia dalam jangkauannya. Tentu saja, kata rizq (rezeki) kadang-kadang diterapkan dalam pengertian yang lebih luas yang juga meliputi rezeki non-material. Misalnya, dikatakan bahwa rezeki bagi jiwa adalah pengetahuan. Tetapi, rezeki yang dibahas di sini ialah rezeki material bagi kelangsungan dan kesempurnaan hidup duniawi.


Salah satu watak manusia yang tercela ialah, selama mereka merasa lapar, haus, dan membutuhkan hal-hal material lainnya, mereka berdoa kepada Allah, tetapi setelah kebutuhannya terpenuhi, mereka lupa pada Allah, khususnya apabila mereka telah berusaha sendiri atau menggunakan kemampuan mental dan ilmiahnya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Sehubungan dengan ini, Alquran berkata: “Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sesungguhnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengerti.” (QS. az-Zumar: 49)


Allah Yang Mahakuasa mencurahkan nikmat-Nya pada sebagian makhluk-Nya. Tetapi, mereka mengkhayalkan bahwa nikmat ini telah dicapai sebagai hasil usaha, kecerdasan, kebijakan, pengetahuan, dan kepandaian mereka sendiri. Salah satu contoh yang menonjol dari orang-orang semacam itu ialah Qarun. Tentang kekayaan Qarun terdapat banyak cerita. Alquran berkata tentang kekayaannya: “...dan Kami telah mengerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat....” (QS. al-Qashash: 76)


Orang yang takwa menasihati Qarun dengan berkata kepadanya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari [kenikmatan] duniawi....” (QS. al-Qashash: 77)


Orang takwa itu menasihatinya supaya jangan bersombong karena kekayaannya, supaya tidak menjadikannya sarana untuk membuat bencana di bumi, dan supaya berusaha menggunakan nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya itu untuk kehidupannya di akhirat kelak. Tetapi, sebagai jawabannya, Qarun berkata: “...Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku...” (QS. al-Qashash: 78)


Jadi, jawaban Qarun adalah: “Kekayaan mana yang diberikan Allah kepadaku? Saya sendiri yang telah berusaha dan mendapatkan kekayaan dengan pengetahuan dan kecakapan saya, dan tak seorang pun berhak atas harta saya. Orang fakir miskin harus pergi sendiri mencari uang.”


Sikap seperti itu, yakni berpikir bahwa kita mendapatkannya karena ikhtiar dan usaha kita sendiri, dan bahwa keberhasilan kita adalah dari kita sendiri, adalah sikap syirik. Seorang yang tertauhid harus tahu bahwa wujudnya adalah dari Allah, kekuatan fisiknya dan akalnya juga dari Allah. Lebih dari itu, penggunaan potensi-potensi itu pun tergantung pada rencana Allah. Dan, tidaklah setiap orang yang mengumpulkan harta dan mendapatkan kekayaan akan mampu menggunakan kekayaan itu dengan baik di dunia ini.


Mungkin banyak orang yang menumpuk amat banyak harta secara halal atau haram tetapi tidak berhasil menggunakan kekayaannya. Qarun termasuk di antara mereka. Ia tak dapat menggunakan harta yang amat banyak itu, karena azab Allah menimpanya dan dia mau pun hartanya ditelan bumi atas perintah Allah. Orang yang berhasrat mendapatkan kekayaan seperti Qarun, ketika melihat pemandangan ini, menjadi sadar bahwa sekadar memiliki harta dan kekayaan duniawi tidaklah cukup bagi kebahagiaan di dunia ini. “Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata, ‘Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkanmya....’” (QS. al-Qashash: 82)


Mereka melihat bahwa semua kekayaan itu tenggelam ke dalam tanah dan tak ada keuntungan yang diperoleh Qarun, bahkan ia sendiri pun binasa. Mereka mengatakan, “Allah yang melapangkan sarana-sarana rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” Hal ini, yakni melapangkan dan menyempitkan sarana rezeki, telah ditegaskan dalam lebih dari sepuluh ayat Alquran, termasuk ayat berikut: “Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki....” (QS. ar-Ra’ad: 26). Perencanaan tentang sarana rezeki, melapangkan atau menyempitkannya, berada di tangan Allah.


*Ayatullah Taqi Misbah Yazdi - Monoteisme