Hubungan Persaudaraan dalam Islam



Dalam Islam ikatan persaudaraan diikat oleh keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, di antara keduanya tidak boleh saling bertengkar. Jika di antara keduanya berselisih maka yang ketiga harus mendamaikan. Yang kuat harus melindungi yang lemah, serta yang mampu untuk membantu yang kekurangan, saudara seperti inilah yang akan membawa kita ke surga.


Di salah satu ayat-Nya Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. al-Hujurat: 10)


Baca juga: Hak Tetangga dalam Pandangan Islam


Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang-orang mukmin adalah bersaudara, darah mereka menyatu, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lain, dan mereka bersungguh-sungguh melindungi orang-orang terlemah di antara mereka."


Di riwayat lain Rasulullah bersabda: "Barang siapa di antara umatku (terdapat) seorang hamba yang berlaku lemah lembut kepada saudaranya dengan suatu kelembutan karena Allah, niscaya Allah memberinya pelayan-pelayan surga."


Persaudaraan dalam Islam tidak hanya didasarkan pada ikatan darah, karena seperti yang disabdakan Nabi ﷺ bahwa sebenarnya darah mereka menyatu, bahkan diharamkan baginya menumpahkan darah sesama mukmin. Sayidina Jafar Shadiq berkata: "Orang mukmin adalah saudara bagi mukmin (lainnya), dia adalah mata dan penunjuknya. Dia tidak boleh mengkhianatinya (saudaranya mukmin), menzaliminya, menipunya, dan berjanji kepadanya dengan suatu janji lalu mengingkarinya."


Tidak hanya itu, setiap saudara mukmin juga dapat memberikan syafaatnya pada Hari Kiamat, untuk itu maka marilah kita memperbanyak saudara mukmin di dunia ini. Rasulullah ﷺ bersabda: "Perbanyaklah saudara! Karena sesungguhnya setiap orang mukmin memiliki syafaat pada hari kiamat."


Sebaik-baik Saudara


Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik saudaramu adalah orang yang membantumu dalam mematuhi Allah, mencegahmu untuk durhaka kepada-Nya, dan memerintahkanmu untuk mencari keridhaan-Nya."


Sayidina Ali berkata: "Sebaik-baik saudara adalah yang orang persahabatannya karena Allah."


Dalam riwayat lain Sayidina Ali berkata:

"Sebaik-baik saudaramu adalah orang yang menghiburmu, dan yang lebih baik daripada itu adalah yang mencukupimu. Jika dia membutuhkan bantuanmu, maka dia menahan diri dari meminta kepadamu."


Baca juga: Siapakah Ikhwan-ikhwan Silam yang Mempunyai Kontribusi Bagi Dunia


"Sebaik-baik saudaramu adalah orang yang bersegera dalam kebaikan dan menarikmu ke dalam kebaikan itu, dan dia memerintahkanmu untuk melakukan kebajikan dan membantumu dalam kebajikan itu."


Sedang seburuk-buruknya sahabat menurut Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah: "Dia (sahabat terburuk) adalah orang yang menjadikan kamu memandang baik perbuatan maksiat kepada Allah."


Untuk itu dalam persaudaraan diperlukan setidaknya tiga hal untuk kelanggenganya; saling berlaku adil, saling menyayangi, dan saling menghilangkan kedengkian. Seperti yang dikatakan oleh Sayidina Jafar Shadiq: "Persaudaraan memerlukan tiga hal. Jika mereka melaksanakan tiga hal itu, niscaya persaudaraan mereka akan tetap langgeng. Tetapi, jika mereka tidak melaksanakannya, niscaya mereka akan berpisah (berselisih) dan saling membenci di antara mereka. Yaitu: saling berlaku adil, saling menyayangi, dan saling menghilangkan kedengkian."


Dana Mustadhafin

#PedulidanTerpercaya