Kedudukan Anak Yatim di Sisi Rasulullah saw


Rasulullah saw adalah teladan umat manusia. Beliau sangat mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam salah satu sabdanya, Rasul menjelaskan bahwa kedudukan orang yang memuliakan, menyantuni, dan mengasihi anak yatim akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah. Rasul saw sangat melarang menelantarkan anak yatim. Dalam Alquran, Allah Swt mengecam orang-orang yang suka menghardik anak yatim dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama.


Bahkan, Rasul saw sendiri adalah yatim semenjak beliau dilahirkan. Rasul saw tidak pernah sekalipun melihat sosok ayahanda tercinta Abdullah bin Abdul Muthalib, sang ayah wafat saat dalam perjalanan dagang, di saat itu Rasul saw masih dalam kandungan ibunya, Sayidah Aminah. Baru pada usia sekitar 7 tahun Rasul saw pun harus kehilangan ibunya yang wafat karena sakit sewaktu menziarahi suaminya di Yatsrib. Jadi pada usia anak-anak Nabi Muhammad saw sudah menjadi yatim-piatu.


Kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwa Rasul, sehingga di dalam Alquran pun disebutkan “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu (Muhammad).” (QS. adh-Dhuhaa: 6)


Dikisahkan ketika Ja’far bin Abu Thalib (sepupu Rasul saw) terbunuh dalam peperangan Mu’tah, beliau sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah Ja’far dan menjumpai istrinya, Asma bin Umais yang sedang membuat roti, memandikan anak-anak dan memakaikan bajunya. Kemudian Rasul berkata kepada Asma, “Suruhlah anak-anak Ja’far kemari. Aku akan mendoakannya.”


Maka bergegaslah mereka mendekat kepada Rasulullah dan bercengkerama dengan beliau. Rasulullah merangkul mereka, mencium, serta berlinang air matanya. Asma bertanya kepada Rasul saw, “Wahai Rasulullah, apa yang menjadikan engkau menangis? Apakah ada sesuatu yang menimpa Ja’far?”


Beliau saw menjawab, “Ya, dia telah gugur sebagai syahid pada hari ini.” Sesaat hilanglah keceriaan yang terdapat pada wajah-wajah mereka, tatkala mendengar tangisan ibunya. Kemudian Nabi saw kembali kepada keluarganya dan mengingatkan untuk memperhatikan keluarga Ja’far yang kini telah menjadi yatim.


Begitu besar perhatian Rasulullah saw terhadap anak yatim, hingga banyak sekali riwayat masyhur yang memposisikan penolong anak yatim dalam derajat yang tinggi dalam Islam. Dalam sabdanya Rasul berkata, “Sebaik-baik rumah orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim dan diasuh dengan baik….”


Di hadis yang lain juga Rasulullah saw bersabda, “….Barangsiapa yang mengusap kepala seorang anak yatim piatu laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barang siapa berbuat baik kepada seorang anak yatim piatu perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia di surga.”


Dalam rangka memberdayakan mereka, Yayasan Dana Musthadhafin dapat membantu Anda untuk mengikuti keteladan Rasulullah saw yang sangat mencintai anak yatim. Salurkan donasi anda melalui rekening:


BCA 375 303 8198

MANDIRI 070 00 06600576

a.n Yayasan Dana Mustadhafin