Keistimewaan Menyediakan Makanan Berbuka bagi Orang-orang yang Berpuasa


Memberi makan pada saat berbuka puasa (ifthar) memiliki keistimewaan sendiri dalam Islam. Perbuatan ini termasuk dalam amal-amal penting yang dianjurkan di bulan Ramadan yang penuh berkah. Berikut keistimewaan memberikan ifthar berdasar hadis Rasulullah saw yang kami kutipkan dari buku Kado dari Langit karya Ayatullah Muhammad Ray Syahri:


Memiliki Tambahan Pahala yang Sama Besarnya dari Orang yang Diberi Makanan


Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang menyediakan makanan berbuka maka memiliki pahalanya (orang yang diberi makanan) tanpa dikurangi dari puasanya sedikit pun, dan juga (pahala) setiap kebaikan yang dilakukan karena kekuatan makanan itu.” (Tihdzibul-Ahkam, 4/202)


Lebih Besar Pahalanya dari Ibadah Puasa yang Dilakukan


Rasulullah saw bersabda: “Memberi makan berbuka puasa kepada saudara muslimmu dan menyuguhkan kegembiraan kepadanya, lebih besar pahalanya daripada puasamu.” (Biharul-Anwar, 97/162)


Penyebab Datangnya Kebahagiaan


Rasulullah saw bersabda kepada Imam Ali a.s. : “Wahai Ali, terdapat tiga kebahagiaan bagi seorang mukmin di dunia ini; bertemu dengan saudara-saudaranya, memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, dan bertahajud pada akhir malam.” (Biharul-Anwar, 96/247


Diampuni Dosa-dosanya yang Telah Lalu


Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang memberi [makanan untuk] berbuka puasa seorang mukmin pada bulan Ramadan maka dengan melakukan itu, dia terbebas dari belenggu dan mendapatkan pengampunan bagi dosa-dosanya yang telah lalu. Jika dia tidak sanggup (memberi makan untuk berbuka puasa) maka dia bisa memberi susu campuran untuk berbuka puasa orang yang berpuasa atau segelas air tawar dan sebutir kurma. Jika dia tidak mampu lebih dari itu pun, maka Allah tetap akan memberikannya pahala.” (Biharul-Anwar, 96/312)


Alim Rabbani Maliki Tabrizi berkata bahwa yang lebih penting dari semua itu adalah niat yang ikhlas dan beradab dengan adab Allah Swt; dan motivasi melakukan hal itu hanyalah untuk mendapatkan rida-Nya, bukan karena niat menunjukkan kemuliaan dunia atau juga juga karena adat istiadat.