Keutamaan dan Amalan-amalan Hari Raya Idul Fitri



Keutamaan Hari Raya Idul Fitri


Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya para malaikat berdiri pada hari raya di lorong-lorong, sambil berkata, ‘Bersegeralah kalian kepada Tuhan kalian yang memberi yang besar dan mengampuni yang besar.’” (Mustadrakul Wasail, 6/154)


Imam Ali a.s. berkata dalam sebagian hari raya: “Dia (Idul Fitri) adalah hari raya bagi orang yang diterima puasanya oleh Allah dan dia bersyukur atas salat malamnya, setiap hari saat di mana Allah tidak dimaksiati adalah hari raya.” (Nahjul Balaghah, khotbah ke-428)


Dalam kitab Man La Yahduruhul Faqih diriwayatkan bahwa pada suatu Hari Raya Idul Fitri, Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib a.s. melihat orang-orang sedang bermain-main dan tertawa terbahak-bahak. Beliau a.s. bersabda kepada para sahabatnya seraya memandangi mereka:


“Allah Swt menciptakan bulan Ramadan ini sebagai sarana bagi makhluk-Nya agar mereka berlomba-lomba dalam ketaatan dan keridaan-Nya. Ada kaum yang berlomba di dalamnya dan mereka berhasil, tetapi yang lain gagal. Yang paling mengherankan adalah orang yang bermain-main dan tertawa-tawa pada hari ketika orang-orang yang baik diberi pahala, dan orang-orang dungu dikecewakan. Demi Allah. jikalau tirai disingkapkan maka orang-orang baik akan bersibuk diri dengan kebaikan-kebaikannya, sementara orang­orang berdosa akan pontang-panting dengan dosa-dosanya.” (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/522)


Imam Ali Ridha a.s. berkata: “Hari Raya Idul Fitri diciptakan tiada lain agar menjadi saat berkumpul bagi kaum Muslim; mereka berkumpul di dalamnya, ke luar [rumah] menuju lapangan karena Allah, dan kemudian mengagungkan-Nya atas karunia yang Dia limpahkan kepada mereka. Maka hari raya ini juga hari raya berkumpul: hari raya fitri dan hari raya zakat; hari raya cinta dan hari raya berserah diri. Hari itu juga awal tahun baru, yang di dalamnya diperbolehkan makan dan minum. Karena awal bulan-bulan dalam setahun menurut para ahli hak adalah bulan Ramadan.


Allah menyukai kalian pada hari itu berkumpul-kumpul, yang di dalamnya Dia dipuji dan disucikan. Dan juga takbir dalam salat lebih banyak daripada salat selain di hari itu; karena takbir adalah pengagungan Allah dan memuliakan apa yang diberikan dan diampuni, sebagaimana difirmankan Allah Swt, ‘...dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS. al-Baqarah: 185).


Dan dijadikan di dalamnya dua belas takbir, karena pada setiap dua rakaatnya terdapat dua belas takbir; tujuh takbir pada rakaat pertama, dan lima takbir pada rakaat kedua, dan tidak disamakan di antara keduanya. Karena sunah dalam salat fardu adalah mengawalinya dengan tujuh takbir; karena itu, ia dimulai dari sini dengan tujuh takbir. Lalu dijadikan pada rakaat yang kedua lima takbir, karena tahrim takbir sehari semalam adalah lima takbir. Karena itu, takbir pada kedua rakaat secara keseluruhannya berjumlah ganjil. (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/522)


Amalan pada Hari Raya Idul Fitri


a. Mandi

Imam Muhammad Baqir a.s. berkata: “Imam Ali a.s. mandi pada hari raya Idul Fitri, juga hari raya Idul Adha, sebelum beliau a.s. pergi (menuju lapangan unuk salat Id).” (Abdurrazak. al-Mushannaf, 3/309)


b. Makan Sebelum Pergi Salat


Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menceritakan bahwa ketika Rasulullah saw hendak pergi ke musala pada hari raya Idul Fitri, beliau a.s. terlebih dahulu makan beberapa buah kurma dan anggur kering. (Biharul-Anwar, 91/122)


Dalam kitab Man la Yahduruhul Faqih, diriwayatkan bahwa pada hari raya Idul Fitri, Imam Ali a.s. terlebih dahulu menyantap makanan sebelum pergi ke musala. Pada hari raya Idul Adha, beliau tidak makan kecuali setelah menyembelih (hewan kurban). (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/507)


c. Mengeluarkan Zakat

Imam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan: “Salah satu kesempurnaan puasa adalah mengeluarkan zakat (yakni zakat fitrah) sebagaimana salawat kepada Nabi saw termasuk kesempumaan salat. Karena barang siapa yang berpuasa tetapi tidak mengeluarkan zakat, maka sama dengan tidak berpuasa ketika meninggalkannya dengan sengaja: dan seseorang [disebut] tidak melaksanakan salat bila meninggalkan salawat kepada Nabi saw. Sesungguhnya Allah telah memulai dengannya sebelum salat. Sesungguhnya, beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang (QS. al-A'la: 14-15).”


Imam Ali a.s. berkata: “Barang siapa yang mengeluarkan zakat fitrah maka Allah akan menyempurnakan apa yang kurang dari zakat hartanya.” (Biharul Anwar, 96/105)


Dalam kitab at-Tawhid, diriwayatkan dari Aban bin Taglib dan selainnya, dari Imam Ja’far Shadiq a.s. yang berkata: “Barang siapa yang menamatkan puasanya dengan perkataan yang baik atau saleh, niscaya Allah akan menerima puasa yang dikerjakannya.”


Lalu seseorang bertanya kepada beliau: “Wahai putra Rasulullah, apa yang dimaksud dengan perkataan yang baik?”


Beliau berkata: “Bersaksi, bahwasanya tiada tuhan selain Allah, dan amal saleh, yaitu mengeluarkan zakat.” (At-Tawhid, hal. 22, hadis ke-16)


d. Salat Id


Dalam kitab Tarikh Dimasyq, diriwayatkan dari Jabir yang menuturkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah membiarkan salah seorang anggota keluarganya pada hari raya kecuali menyuruh mereka keluar rumah [untuk salat Id]. (Kanzul Ummal, 7/88)


*Dikutip dari buku Kado dari Langit - Ayatullah Muhammad Rey Syahri