Keutamaan Membaca Alquran


Salah satu wasiat Rasulullah saw adalah membaca Alquran, terlebih di bulan Ramadan yang mulia ini di mana segala amal ibadah pahalanya dilipatgandakan. Keutamaan membaca, menghafal, dan merenungkan kandungan makna dan inti sari Alquran lebih mulia dibanding apa yang diketahui oleh akal manusia yang terbatas. Lembaran kertas buku pun tidak cukup untuk mengutip apa yang dituturkan oleh Ahlulbait mengenai hal ini.


Dari Abu Ja’far a.s. telah bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang membaca sepuluh ayat di waktu malam, maka dia tidak tergolong orang-orang lalai; barang siapa yang yang membaca lima puluh ayat, maka dia tergolong ahli zikir; barang siapa yang membaca seratus ayat, maka dia tergolong orang-orang yang taat; barang siapa yang membaca dua ratus ayat, maka dia tergolong orang-orang yang khusuk; barang siapa yang membaca tiga ratus ayat, maka dia tergolong orang-orang yang beruntung; barang siapa yang membaca lima ratus ayat, maka dia tergolong orang-orang yang berjihad di jalan Allah; barang siapa yang membaca seribu ayat, maka dia akan memperoleh suatu paket kebaikan, setiap paketnya adalah lima belas ribu misqal/ukuran berat dari emas, setiap beratnya adalah dua puluh empat karat yang paling kecilnya seperti Gunung Uhud dan paling besarnya adalah antara langit dan bumi.”


Keutamaan membaca Alquran berikut syafaatnya kepada orang-orang yang senantiasa bersama pembacanya juga banyak disebutkan di hadis-hadis lain,


Dari Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Barang siapa yang banyak membacanya (Alquran) dan selalu memperbarui perjanjian dengannya baik di dalam kesulitan demi menjaganya, maka Allah ‘azza wa jalla melipatgandakan pahala baginya.”


Secara garis besar hadis ini menjelaskan tujuan tilawah Alquran adalah memberikan kesan terhadap wujud kalam ilahi secara mendalam di hati semua insan sekaligus mengantarkannya dari tingkat sebatas mampu sampai pada tingkat pemahaman. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam Shadiq a.s. : “Dan ini sebagai pengertian bahwa sesungguhnya Alquran akan bersemayam di hati, sekiranya menjadikan lubuk hatinya merupakan wadah kalamullah yang agung dan Alquran yang mulia, sebatas kadar kesadaran dan kemampuannya.”


Imam Ali bin Husain a.s. berkata: “Ayat-ayat Alquran bagaikan lemari (kekayaan), maka setiap kalian hendaknya membuka lemari itu, maka kalian menyaksikan apa yang ada di dalamnya.”


Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Alquran adalah suatu perjanjian Allah pada makhluk-Nya, maka merupakan kewajiban seorang muslim untuk memerhatikan perjanjiannya dan membacanya setiap hari lima puluh ayat.”


Dilihat sepintas kedua hadis tersebut merupakan etika yang bagus untuk merenungkan ayat-ayat Alquran dan menafakuri kandungan spiritualnya. Kita dianjurkan untuk merenungkan ayat-ayat Ilahi serta memahami pengetahuan, hukum, tauhid dan menelusurinya.


Dan pembawa Alquran adalah yang menjadikan dirinya sebagai perwujudan hakiki untuk kalam ilahi yang komprehensif. Bukti yang pasti dan tidak diragukan lagi terlihat pada Sayidina Ali bin Abi Thalib a.s. dan orang-orang maksum dari anak keturunannya yang suci. Mereka telah merealisasikan ayat-ayat ilahi dengan kesempurnaan yang ada pada diri mereka. Merekalah ayat-ayat Allah yang agung dan Alquran yang sempurna. Tujuan semua amal ibadah merupakan inti yang agung dan hikmah pengulangannya merupakan penelitian terhadap dimensi batin dan hati mewujudkannya dengan gambaran amal ibadah. Dalam hadis disebutkan: “Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib merupakan cerminan salat bagi orang-orang mukmin berikut puasa mereka.”


Efisiensi yang ada di hati dan gambaran yang ada di batin akan terwujud lebih sempurna di usia belia karena hatinya lebih mudah mengarah pada keutamaan dan kesederhanaan. Faktor kejernihannya lebih banyak sehingga sangat berpengaruh dan banyak menerima. Bahkan perilaku baik dan buruk akan lebih mudah masuk ke hati anak muda dan meninggalkan kesan dengan respon yang lebih cepat.


Kebenaran atau kebatilan, baik atau buruk sedikit banyak dipengaruhi oleh teman pergaulan. Karena itu, anak muda wajib memerhatikan lingkungan pergaulannya dan teman-teman dekatnya dengan saksama. Hindari persahabatan dengan orang-orang yang tidak benar. Tanamlah iman dengan kuat di dalam hati. Sesungguhnya pergaulan dengan orang-orang yang tidak benar, penyandang akhlak yang buruk, dan pelaku onar akan membahayakan dan menggoyangkan iman. Setiap orang hendaknya selalu waspada akan dirinya. Jika tidak, iman beserta akhlak yang terpuji dan tingkah lakunya sedikit demi sedikit akan luntur. Dalam hadis-hadis yang mulia tersirat larangan untuk bergaul dengan orang-orang yang bermaksiat.


*Disarikan dari buku Membangun Generasi Qurani - Ayatullah Murtadha Muthahhari