Kewajiban Mentadabburi Alquran


Islam menganjurkan umatnya secara sukarela untuk mempelajari Alquran dan men-tadabburinya, karena Alquran adalah dalil yang kekal bagi kenabian Rasulullah saw dan aturan perundang-undangan yang berasal dari langit bagi umat Islam dalam menghadapi segala persoalan mereka.


Alquran juga merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia, yang telah membawa alam ini dari kegelapan hingga menuju alam yang terang benderang dengan peradabannya yang semakin maju. Ia juga telah membangun umat, memberikannya fondasi akidah, menganugerahkannya kekuatan, mendasarinya dengan akhlak yang mulia, dan menciptakan baginya peradaban agung yang pernah dikenal oleh umat manusia hingga masa sekarang.


Allah Swt mencemooh orang-orang yang tidak memberikan hak kepada Alquran berupa perintah mempelajari dan merenungkan Alquran tersebut. Dia Yang Mahatinggi berfirman: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)


Islam memberikan posisi yang tinggi kepada mereka yang mau dapat memahami isi Alquran dengan baik. Seperti yang diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib, beliau menyebutkan bahwa Jabir bin Abdullah sebagai orang yang berilmu. Lalu ada seorang laki-laki yang berkata, "Aku telah menjadikan diriku sebagai prajurit bagimu, akan tetapi mengapa engkau mengatakan Jabir sebagai orang yang alim (berilmu), padahal engkaulah sebenarnya orang yang alim itu."


Imam lalu menjawab: “Aku mengatakan Jabir sebagai orang yang berilmu karena ia mengetahui penafsiran dari firman Allah Swt yang berbunyi, Sesungguhnya orang yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Alquran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (Tafsir al-Qummi, 2:147)


Alquran adalah pemberi nasihat yang terang dan pemberi petunjuk yang tidak akan membawa seseorang kepada kesesatan, penawar dari segala macam penyakit ruhani, dan gudangnya ilmu. Inilah makna penting dibalik perintah mempelajari dan merenungi Alquran. Berkaitan dengan hal ini ucapan yang paling indah yang dikatakan oleh Imam Ali a.s. sebagai berikut:


“Ketahuilah bahwa Alquran ini adalah pemberi nasihat yang tidak akan memperdayai, pemberi petunjuk yang tidak akan menyesatkan, dan pembicara yang tidak akan pernah berbohong. Siapa saja yang menekuni Alquran, maka akan terjadi dua hal berupa penambahan dan pengurangan pada dirinya, yaitu bertambahnya hidayah baginya dan berkurangnya kebutaan ilmu pada dirinya.


Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang setelah mempelajari Alquran akan mengalami kesulitan, dan tidak seorang pun sebelum mempelajari Alquran akan merasa berkecukupan. Jadikanlah Alquran sebagai penawar sakit bagimu, dan mintalah pertolongan kepadanya. Sesungguhnya dalam Alquran terdapat penawar penyakit bagi sakit yang paling parah sekalipun, seperti kufur, nifak, dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah Swt dan menghadaplah kepada-Nya dengan penuh rasa cinta.


Pada hari Kiamat nanti ada seruan yang menyeru, ‘Sesungguhnya setiap pembajak akan diberikan tindakan atas bajakan dan akibat perbuatannya itu, kecuali pembajak (orang yang belajar) Alquran.’ Oleh karena itu, maka pelajarilah, ikutilah, mintalah petunjuk kepada Tuhan kalian, jadikanlah ia penasihat bagi jiwa kalian, sandarkanlah pendapat-pendapat kalian pada Alquran, dan berantaslah hawa nafsu kalian dengannya.” (Nahj al-Balaghah, khutbah 176)


Imam Ali Sajjad a.s. juga berkata “Ayat-ayat dalam Alquran merupakan gudang dari ilmu pengetahuan, setiap kali engkau membuka gudang tersebut hendaklah engkau mengambil pelajaran darinya.” (Bihar al-Anwar, 92/216)


Dikatakan oleh Amirul Mukminin Ali a.s. bahwasanya kita diharuskan untuk memahami dengan baik suatu ilmu agar mendapatkan kebaikan darinya, termasuk dalam membaca Alquran yang bukan hanya menjadi bahan bacaan, tetapi harus dengan pemahaman kemudian direnungkan. Beliua berkata “Tidaklah terdapat kebaikan dari suatu ilmu yang tidak dipahami dengan benar, tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak diiringi dengan tadabbur, dan tidak ada kebaikan dalam suatu ibadah yang tidak diiringi dengan pemahaman yang benar.” (Bihar al-Anwar, 92/211)


*Disarikan dari buku Ulumul Quran - Ayatullah Muhammad Baqir Hakim