Kewajiban Menunaikan Zakat Fitrah


Zakat fitrah adalah perbuatan wajib dalam fikih Islam yang bermakna membayar harta dengan kadar dan cara tertentu kepada orang-orang yang membutuhkan pada perayaan Idul Fitri. Berdasarkan riwayat-riwayat, pembayaran zakat fitrah menjadi penyempurna puasa, faktor diterimanya puasa, faktor penjaga manusia dari kematian tahun itu, dan penyempurna zakat harta.


Imam Ja'far Shadiq a.s. berkata: "Dari kesempurnaan puasa adalah membayar zakat fitrah sebagaimana salawat atas Nabi saw menjadi penyempurna salat. Sebab, setiap orang yang berpuasa tapi tidak mengeluarkan zakat, jika sengaja meninggalkan itu maka ia tidak dianggap berpuasa. Demikian juga orang yang meninggalkan salawat atas Nabi saw, maka salatnya tidak sah." (Syaikh Shaduq, Man la Yahduruhul Faqih, 2/183)


Berikut hukum, waktu, dan siapa yang berhak atas zakat fitrah sesuai fatwa Sayyid Ali Khamenei:


Zakat fitrah wajib bagi setiap orang Islam yang telah baligh, berakal, merdeka (bukan budak) dan berkecukupan (bukan orang fakir). Zakat fitrah tidak wajib bagi orang yang belum baligh, orang gila (tidak berakal), orang yang pingsan menjelang masuk malam Idul Fitri, dan orang fakir.


Syarat-syarat tersebut berlaku apabila sudah terpenuhi saat menjelang malam Idul Fitri. Maksudnya jika seseorang (di waktu belum ghurub/terbenam matahari) telah mencapai baligh, berakal, merdeka dan berkecukupan (bukan fakir), maka ia wajib mengeluarkan zakat fitrah. Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi setelah terbenam matahari (malam satu syawal) maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.


Seseorang yang memiliki persyaratan di atas harus membayarkan zakat fitrah untuk dirinya dan untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya (baik orang muslim atau kafir, dewasa atau anak­anak, bahkan termasuk bayi yang lahir sebelum munculnya hilal satu Syawal). Tamu yang datang ke rumah seseorang sebelum muncul hilal satu Syawal juga termasuk tanggungan tuan rumah.


Seseorang yang kewajiban zakat fitrahnya berada pada tanggung jawab orang lain, tidak wajib membayar zakat fitrah, walaupun ia seorang yang kaya dan memenuhi syarat sebagai pembayar zakat fitrah. Kecuali jika ia tahu bahwa orang yang menjadi penanggungnya, misalnya tuan rumah belum membayarkannya. Dalam hal ini secara ihtiyat mustahab, ia sendiri yang membayar zakat fitrah tersebut meskipun tidak wajib.


Seorang Sayyid diperbolehkan membayar zakat fitrahnya kepada fakir Sayyid atau non Sayyid. Namun, zakat fitrah non Sayyid harus diberikan ke fakir non Sayyid. Zakat fitrah sebagaimana ibadah-ibadah lainnya perlu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.


Barang yang Digunakan untuk Zakat Fitrah


Standar utama zakat fitrah adalah setiap jenis makanan pokok yang berlaku umum di suatu masyarakat, seperti gandum, kurma, dan beras. Mengeluarkan zakat fitrah dapat pula dilakukan dengan biji-bijian seperti gandum, bulgur (sejenis gandum yang kualitasnya lebih rendah), kurma dan kismis, meskipun keempat jenis biji-bijian ini bukan merupakan makanan pokok masyarakat tersebut. Makanan yang umum digunakan oleh suatu masyarakat baik berupa jagung dan sejenisnya dapat digunakan untuk zakat fitrah sebagai pengganti empat jenis biji-bijian tersebut.


Seseorang juga dapat memberikan zakat fitrah berupa harga dari jenis makanan yang dapat digunakan untuk fitrah. Barang yang hendak dikeluarkan untuk zakat fitrah haruslah yang bagus dan tidak boleh dicampur dengan barang yang rusak. Yang paling utama adalah memberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih berguna (bagi masyarakat setempat). Ukuran Zakat fitrah untuk setiap jenis makanan. jumlahnya sekitar 3 tiga kg.


Waktu mengeluarkan Zakat Fitrah


Kewajiban membayarkan zakat fitrah dimulai dari saat ghurub (terbenam matahari) malam Idul Fitri hingga menjelang waktu dzuhur hari tanggal satu Syawal. Bagi seseorang yang akan menunaikan salat Id maka harus membayarkan zakat fitrahnya sebelum pergi ke tempat salat ld.


Bersegera membayar zakat fitrah sebelum masuk bulan Ramadan, bahkan sebelum tiba waktu kewajiban membayarkannya, menurut ihtiyat wajib itu tidak dibolehkan. Kecuali jika sebelumnya seseorang telah memberikan sesuatu kepada seorang fakir sebagai utang kemudian ketika sampai pada waktu kewajiban mengeluarkan zakat fitrah maka utang yang ada pada si fakir tersebut dihitung sebagai zakat fitrah dirinya yang diserahkan kepada si fakir tersebut.


Orang yang berhak menerima Zakat Fitrah


Zakat fitrah diberikan kepada 8 (delapan) kelompok manusia yang tersebut dalam Alquran surat al-Taubah ayat 59. Zakat fitrah disunahkan diberikan secara khusus kepada kaum kerabat, tetangga, orang-orang yang hijrah di jalan Allah, para Fuqaha (ahli fiqih) dan orang-orang yang mempunyai keutamaan-keutamaan seperti ini. Tidak boleh memberikan zakat fitrah kepada para peminum arak, orang yang secara terang-terangan melakukan dosa besar dan orang yang membelanjakan zakat fitrah di jalan maksiat.


*Disadur dari buku Fikih Puasa dan Zakat Fitrah Berdasarkan Fatwa Sayyid Ali Khamenei – Penerbit Al-Jawad