Kisah Hikmah: Nasab Bukan Jaminan Kemuliaan



Ali bin Ismail adalah orang yang bagus sekali dari sisi nasab. Pamannya adalah Imam Musa Kazhim a.s., sedang kakek adalah Imam Jafar ash-Shadiq a.s. Ayahnya yang bernama Ismail meninggal pada masa Imam Jafar ash-Shadiq as masih hidup. Namun ia adalah seorang budak harta. Kecintaannya kepada harta melebihi segalanya.


Pada masa itu, al-Baramakah mempunyai maksud jahat terhadap Imam Musa al-Kazhim a.s. Dia memanfaatkan Ali bin Ismail dan memerintahkannya untuk memberikan kesaksian palsu tentang Imam Musa al-Kazhim di majelis Khalifah, setelah sebelumnya memberikan sejumlah uang kepadanya.


Ketika Ali bin Ismail hendak pergi ke Baghdad, Imam Musa al-Kazhim a.s. berusaha mencegahnya. Ali bin Ismail menjawab: “Saya mempunyai hutang kepada beberapa orang.”


Imam Musa Kazhim as menawarkan sejumlah uang yang dapat menutupi kebutuhannya, namun Ali bin Ismail menolak, dan dia tetap memilih untuk pergi ke Baghdad. Ketika itulah Imam Musa Kazhim berkata kepadanya: “Engkau jangan turut serta di dalam darahku!”


Ali bin Ismail bertanya: “Apa maksud perkataan kamu ini?”


Namun Imam Musa al-Kazhim as malah mengulangi perkataannya itu lagi. Ali bin Ismail pun akhirnya pergi ke Baghdad. Ia telah menjadi seorang budak yang hina di hadapan emas dan perak. Di majelis Khalifah Ali bin Ismail memfitnah Imam Musa Kazhim. Ia berkata kepada Khalifah: “Jika Anda seorang khalifah, lalu siapa Musa bin Jafar itu? Sebaliknya, jika dia seorang khalifah, lalu siapakah Anda ini? Sungguh, Musa bin Jafar telah menimbun harta dan senjata, dan kini dia tengah bersiap siap untuk memerangi Anda. Oleh karena itu, dahuluilah dia sebelum ia mendahuluimu.”


Mendengar itu Harun al-Rasyid merasa gembira, lalu dia memerintahkan orangnya untuk memberi hadiah sebesar 200 ribu dirham kepada Ali bin Ismail. Tetapi Ali bin Ismail tidak beruntung, karena maut telah lebih dulu menjemputnya sebelum dia menerima hadiah yang dijanjikan itu.


Dari segi nasab, Ali bin Ismail mempunyai nasab yang sangat mulia, akan tetapi dia menyimpang dari jalan yang benar disebabkan dia menghamba kepada hawa nafsunya. Sebaliknya ada seorang ulama yang hawa nafsunya menjadi hamba dirinya. Ulama yang dimaksud itu ialah Muqaddas Ardabili, salah seorang marja besar Muslimin.


Seseorang bertanya kepada beliau: “Jika misalnya Anda berduaan dengan seorang wanita muda yang cantik, lalu apakah hawa nafsu Anda akan membisiki Anda untuk melakukan sesuatu yang dilarang agama?”


Muqaddas Ardabili menjawab: “Saya memohon kepada Allah Swt supaya Dia tidak menempatkan saya pada keadaan seperti itu.”


Muqaddas Ardabili tidak mengatakan “saya tidak akan melakukan apa-apa”, melainkan dia mengatakan "saya memohon kepada Allah supaya Dia tidak menempatkan saya pada keadaan seperti itu”.


Dia mengatakan itu karena yang namanya hawa nafsu selalu menyuruh kepada keburukan. Karena, jika hawa nafsu telah bergelora maka dia akan mengingkari syariat dan mengerjakan apa­apa yang diharamkan oleh Allah Swt. Saya memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita termasuk orang yang mampu menguasai hawa nafsunya.


Oleh karena itu, Islam melarang anak laki-laki dan anak perempuan kakak beradik yang telah mencapai usia delapan tahun untuk tidur di satu ranjang. Bahkan, sangat dianjurkan untuk meletakkan penghalang di antara mereka berdua, baik itu berupa tirai atau yang serupa dengan itu.


Pada zaman kita sekarang ini, kita banyak menyaksikan hal-hal seperti ini. Jika kita mengkaji apa yang menjadi sebabnya, niscaya kita dapat melihat dengan jelas peranan nafsu dalam hati ini, yang mendorong seseorang kepada taklid buta dan kebodohan ganda (jahil murakkab). Kita berlindung kepada Allah Swt dari hawa nafsu.


*Dikutip dari buku Jihad Melawan Hawa Nafsu - Husain Mazhahiri