Kisah Kesabaran dan Keimanan Nabi Ayyub yang Amat Teguh



Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83) Allah Swt telah memberikan kenikmatan yang cukup berlimpah kepada Nabi Ayyub as. Bahkan disebutkan bahwa Nabi Ayyub as memiliki 500 pasang lembu jantan untuk mengolah tanah pertanian dan ratusan budak yang mengerjakan cocok tanam di kebunnya. Unta-unta pengangkut barang mencapai 3.000 ekor dan kambing sebanyak 7.000 ekor. Begitu pula, beliau senantiasa sehat dan memiliki keturunan yang tak terhitung jumlahnya. Dalam kondisi semacam ini, beliau senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Swt.


Meski demikian, jika ada dua perintah Allah di mana seseorang dibenarkan untuk memilih salah satu di antaranya, maka beliau pasti memilih yang terberat dan melaksanakannya dengan baik. Namun kemudian Allah berkehendak untuk menaikkan derajat Nabi Ayyub, maka Dia menurunkan ujian kepada beliau as yaitu Allah mencabut semua kenikmatan itu dan dia menderita suatu penyakit yang tak terobati. Sekalipun menghadapi musibah yang amat berat itu, beliau sama sekali tak pernah melupakan Allah dan tidak pula berhenti memuji serta bersyukur kepada-Nya.


Sampai akhirnya, setan membisikkan tipu dayanya kepada istri beliau. Mulailah sang istri mengadukan kondisi kehidupannya yang penuh kesulitan seraya berkata: “Mereka menjauhkan diri dari kita dan kita tidak memiliki sesuatu apapun.”


Nabi Ayyub as menjawab: “Selama 70 tahun kita memperoleh kenikmatan Ilahi yang melimpah ruah.”


Istri beliau as kembali berkata: “Telah tujuh tahun kita diuji Allah, lalu apakah kita tak dibenarkan untuk mengeluh? Apakah kita harus senantiasa mengingat-Nya dalam setiap kondisi....?”


Istri Nabi Ayyub mengungkapkan banyak protes dan keluhan, bahkan mengungkapkan berbagai perkara tak rasional sehingga membuat Nabi Ayyub as menjadi gusar dan berkata: “Pergilah dari sisiku, aku tak ingin melihatmu lagi.”


Setelah kepergian sang istri, Nabi Ayyub tinggal seorang diri, tak ada yang merawat beliau. Lalu beliau bersujud kepada Allah dan menyibukkan diri beribadah serta bermunajat kepada Allah. Dan Allah pun mengabulkan permohonan beliau serta mengembalikan seluruh kenikmatan yang pernah Dia berikan kepada beliau.


Istri Nabi Ayyub yang telah pergi pun merenung: “Dia telah mengusirku, tak sepatutnya aku meninggalkannya seorang diri. Karena tidak ada yang merawatnya, dia akan mati kelaparan.”


Tatkala kembali ke tempat Nabi Ayyub as, dia tidak menjumpainya dan hanya melihat seorang pemuda, maka dia pun menangis. Si pemuda bertanya: “Kenapa engkau menangis?”


Dia menjawab: “Aku datang untuk menemui suamiku yang telah tua, tetapi aku tak menemukannya.”


Si pemuda berkata: “Jika engkau melihatnya, dapatkah engkau mengenalinya?”


Sang istri menjawab Ya. Dan ketika dia memperhatikan si pemuda itu dengan saksama, dia melihat bahwa pemuda itu amat mirip dengan suaminya.


Si pemuda berkata: “Aku adalah Ayyub.”