Kisah Seorang Lelaki dari Surga


Suatu hari, Rasulullah saw sedang duduk di masjid, lalu beliau berkata kepada para sahabatnya: “Barang siapa yang ingin melihat salah seorang lelaki penduduk surga, maka lihatlah orang yang pertama kali masuk ke dalam masjid ini.”


Tak lama kemudian, seorang tua masuk ke dalam masjid. Ia tidak begitu terkenal di kalangan sahabat. Mereka terheran-heran dengan apa yang dikatakan oleh Rasul saw bahwa orang itu termasuk penghuni surga, padahal ia lelaki yang tak dikenal.


Pada hari kedua, Rasulullah saw mengulangi apa yang diucapkannya pada hari pertama. Lagi-lagi lelaki tua itu yang masuk ke mesjid. Begitu juga terjadi pada hari ketiga, hingga keheranan para sahabat semakin memuncak. Akhirnya sebagian dari sahabat memutuskan untuk mendekati orang itu, supaya mereka mengetahui perbuatan luar biasa apa yang dilakukannya, hingga Rasul saw menganggapnya termasuk ahli surga.


Salah seorang sahabat pergi ke rumah orang tua itu sebagai tamu. Sesuatu yang pertama kali menarik perhatiannya adalah kesederhanaan hidup orang tua itu. Ia tidak memiliki permadani dan perabot rumah yang memadai. Ketika tiba waktu malam, orang tua itu berkata: “Aku merasa letih dan ingin tidur.”


Keduanya tidur. Tamu tersebut memperhatikan bahwa orang itu setiap kali membalikkan badannya, ia mengucapkan lailahaillallah. Sebelum fajar, orang tua itu bangun dan melakukan salat singkat, kemudian ia berkata kepada tamunya: “Marilah kita pergi ke mAsjid dan melakukan salat subuh jamaah bersama Rasulullah saw.”


Mereka pergi ke masjid. Setelah salat, orang tua itu mengamalkan wirid-wirid tertentu dan membaca beberapa ayat Alquran. Kemudian keduanya pulang ke rumah dan melakukan makan pagi. Selanjutnya, orang tua itu memin­ta izin kepada tamunya untuk pergi ke gurun, guna mengumpulkan kayu (orang tua itu adalah pengumpul kayu).


Tamu tersebut memperkirakan bahwa orang tua itu mempunyai ibadah khusus yang dilakukan dalam keadaan sendirian di padang sahara. Oleh karena itu, ia mendesak orang tua itu agar ia diizinkan ikut serta dengannya. Akhirnya, setelah desakan yang bertubi-tubi, orang tua itu setuju. Mereka pun pergi bersama. Di sana orang tua itu bekerja mengumpulkan kayu bakar. Kadang-kadang di saat bekerja ia membaca sebagian zikir dan doa.


Usai mengumpulkan kayu bakar, orang tua itu menjualnya di pasar, kemudian hasil penjualannya dibelikan roti dan air. Pada waktu zuhur, ia pergi ke masjid bersama tamunya untuk mendirikan salat zuhur bersama Rasulullah saw. Keadaan seperti itu juga terjadi pada saat salat maghrib dan isya', dan keadaan yang sama ini berulang selama tiga hari. Tamu tersebut berkesimpulan bahwa perbuatan orang tua itu hanya satu bentuk. Ia tidak melakukan wirid atau amalan khusus yang membedakannya dengan para sahabat lain, hingga ia layak untuk mendapat gelar dari Rasul saw sebagai 'calon penghuni surga'.


Kemudian tamu itu pun bertanya kepadanya tentang keistimewaan yang dimilikinya dibandingkan dengan mereka, hingga Rasul saw menyebutnya sebagai penghuni surga. Orang tua itu menolak untuk menjawab. Ia malah bertanya: “Apa? Saya termasuk penghuni surga?”


Tamu itu tetap mendesaknya. Orang tua itu menjawab: “Sesungguhnya aku tidak memiliki keistimewaan apa pun, kecuali aku melaksanakan apa-apa yang diwajibkan Tuhanku kepadaku dan aku takut terhadap dosaku.” Yaitu bahwa ia tidak berbohong, tidak gampang menuduh, dan tidak gampang mengeluarkan kata-kata yang buruk.


Di sini perlu kita perhatikan bahwa keadaan laki­laki tua ini menggambarkan salah satu cermin dari ketakwaan, yakni melaksanakan amalan-amalan fardhu dan bersikap wara dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah.


Sifat kedua yang merupakan keistimewaan laki-laki tua itu ialah, bahwa ia sangat mencintai kaum muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan membenci keburukan yang menimpa mereka sebagaimana ia membenci keburukan yang menimpa dirinya sendiri.

Kedua sifat ini acap kali disebutkan oleh Para Imam Maksum ketika mereka menggambarkan sifat orang mukmin. Maka barang siapa yang ingin menguji dirinya dan sejauh mana tingkat ketakwaannya, maka hendaklah ia melihat sejauh mana kedua sifat ini melekat dalam dirinya.

*Dikutip dari buku Menelusuri Makna Jihad – Husain Mazahiri