Kurban Dalam Perspektif Tauhid dan Dampak Sosial

Diperbarui: 23 Jul 2021




Sejarah kurban tidak bisa dilepaskan dari kisah dua manusia mulia, yaitu Nabi Ibrahim as dan putranya kinasihnya Nabi Ismail as yang diabadikan dalam Al-Quran surah As-Saffat.


Ibrahim yang begitu mencintai anaknya yang gagah dan saleh. Tiba-tiba datang perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya yang sangat dicintainya itu.


Nabi Ibrahim pun langsung melaksanakan perintah tersebut, sebelum menyembelih Ismail, sebagai bapak Nabi Ibrahim pun menanyakan kesediaannya kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”.


Nabi Ismail pun menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar".


Namun apa yang terjadi ketika Nabi Ibrahim mau menyembelih putranya?, Allah menurunkan seekor kambing domba sebagai gantinya, sehingga nabi Ismail tidak jadi disembelih. Allah berfirman, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang agung”. (QS. As-Saffat: 107)


Adapun pesan tahid dan moral yang dapat kita ambil adalah. Pertama, Nabi Ibrahim ketika mendapat perintah untuk menyembelih putranya tanpa ragu untuk melaksanakan perintah tersebut walaupun Nabi Ibrahim sangat mencintai dan menyayangi putranya.


Kedua, Nabi Ismail sebagai seorang anak sangat patuh kepada ayahnya walaupun harus nyawa yang dikorbankan tetapi karena ini perintah dari Tuhannya maka sebagai anak yang saleh dan bertakwa ia sabar menerima perintah tersebut.


Kita sebagai muslim tidak akan diperintah untuk melaksanakan ujian berat sebagaimana Nabi Ibrahim dan Ismail as. Allah Swt melalui Rasulullah Saw hanya memerintahkan kita untuk berkurban binatang yang berupa unta, sapi atau kambing. Namun dibalik itu terdepan filosofi yang begitu agung.


Dr. Ali Syariati dalam bukunya makna haji memaparkan tentang makna filosofis kurban;

“Sebagaimana Ibrahim engkau harus memilih dan membawa Ismailmu ke Mina. Siapakah Ismailmu itu? yang harus tahu adalah engkau sendiri. Mungkin saja Ismailmu itu adalah pekerjaanmu, nafsu seksmu, kekuasaanmu, jabatanmu, pangkatmu dan sebagainya. Ismailmu pastilah hal-hal yang sangat engkau cintai sebagamana Ismail yang sangat dicintai Ibrahim.


Ismailmu adalah yang merampas kebebasanmu dan mencegah dari melaksanakan kewajiban. Ismailmu adalah setiap kesenangan yang membuatmu terlena, membuatmu tidak mendengar dan mengetahui kebenaran, atau segala sesuatu yang membuatmu mencari-cari alasan lari dari tanggung jawab.”


Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, sudah seharusnya kita yang memiliki harta yang berharga untuk dikorbankan, sebagai simbol Ismail dan menjadi bukti bahwa kita adalah orang yang beriman kepada Allah. Dengan membiasakan berkurban (secara simbolis) akan tercipta suatu kehidupan yang harmonis di tengah. Kurban adalah wujud penghambaan untuk tetap membumi, yang memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap sesama. Kurban adalah bukti cinta manusia kepada Tuhannya dengan cara mengorban harta yang berharga dari yang kita miliki.