Larangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain


Salah satu keutamaan jiwa dan roh dalam diri seseorang adalah bahwa dia memiliki kemampuan untuk memeriksa kondisi rohaninya sendiri melalui cacat dan kelemahan diri yang tampak pada diri batinnya, hingga ia mengakui dan mampu memotong semua akar sifat-sifat menghancurkan yang ada dalam jiwa yang mewujud nyata dari waktu ke waktu.


Seseorang mesti bermuhasabah di saat tenang dan menyendiri, bisa sambil duduk dan mengambil secarik kertas dan menuliskan semua tindakan yang telah dilakukannya selama hari itu sejujur-jujurnya dan meninjau semua perbuatannya. Jika dia menyadari perbuatannya hari itu tidak terpuji, maka dia harus bertekad untuk tidak mengulangi tindakan itu.


Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. mengatakan: “Kewajiban semua orang cerdas yaitu berhati-hati melihat kelemahannya dalam hal agama, pemikiran, etika dan interaksi dengan orang lain, dan dia pun harus mencatat hal tersebut di hatinya atau menuliskannya, kemudian berusaha untuk menghapus semua sifat buruk dari dirinya sendiri.” (Ghurar al-Hikam, hal. 559)


Jangan sampai kita menjadi kelompok orang yang terus-menerus mencari kesalahan yang dilakukan orang lain dan terus berusaha mengangkat selubung yang menutupi cacat dan kelemahan orang lain. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh kesenangan dan kenikmatan dari mencari-cari dan menemukan kesalahan orang lain, karena merasa dirinya rendah dan tidak berguna. Dengan demikian melalui perbuatan hina itu dia ingin orang mengenalnya dan dia mencoba menarik simpati mereka untuk memperoleh status dalam masyarakat.


Mereka merasa dapat menentukan kebesaran dirinya dari mencari kesalahan orang lain. Efek dari membicarakan hal-hal buruk dan tindakan orang lain sangat berperan dalam rusaknya ikatan di antara keduanya. Persahabatan dan kepercayaan berubah jadi permusuhan bahkan kadang kebencian.


Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. Al-Hujurat : 12)


Sehubungan dengan orang yang selalu melihat kelemahan dan kesalahan orang lain, Imam Muhammad Baqir mengatakan: “Cukuplah cacat dalam diri seseorang sehingga ketika dia mencoba mencari-cari kesalahan orang lain, dia sendiri melihat kesalahan yang sama pada dirinya dan tidak mengenalinya.” (Al-Kafi, 2/459)


Cacat terbesar orang yang suka melihat kesalahan orang lain adalah mereka tidak pernah bisa hidup bersama orang lain sebagai bagian dari sebuah komunitas karena akan membuat rahasia batinnya dikenali orang lain, dan dengan demikian tak seorang pun akan merasa aman berhubungan dengan mereka.


Karena alasan inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. melarang kita bergaul dengan orang-orang seperti itu dan beliau mengatakan: “Kuperingatkan engkau untuk waspada dalam berhubungan dengan orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, karena tidak ada seorang pun yang akan aman dari orang-orang seperti itu.” (Ghurar al-Hikam, hal. 148)


Namun, perlu dicatat bahwa menginformasikan kekurangan orang lain dengan nasihat dan bimbingan yang baik adalah sebuah perbuatan terpuji dan termasuk salah satu tanggung jawab religius dan kemanusiaan. Oleh karena itu wajib hukumnya semua orang untuk sadar spiritual dengan menyelamatkan sesamanya dari akhir hidup yang mengerikan dan hari akhir ketika semua orang harus mempertanggung jawabkan tindakan mereka.


Menginformasikan kekurangan orang lain sangat penting dan berharga, hingga Imam Jafar bin Muhammad Shadiq a.s. menggolongkannya sebagai karunia terbesar yang dapat diberikan seseorang kepada orang lain. Beliau mengatakan: “Semoga rahmat Allah menaungi orang yang menawarkan hadiah kepadaku dengan menunjukkan kesalahan dan kekuranganku sendiri.” (Tuhaf al-Uqul, hal. 366)


Selain itu Amirul Mukminin a.s. mengatakan: “Biarkan orang terbaik menurut penilaianmu menjadi orang yang menunjukkan kesalahan dan kekuranganmu dan keberadaannya bagimu menjadi hadiah.” (Ghurar al-Hikam, hal. 558) *Disarikan dari buku karya Prof. Ja'far Subhani - Daras Etika dalam Surah Al-Hujurat