Memberi dan Menerima Maaf di Hari Raya Idul Fitri


Setelah melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan, hari raya Idul Fitri sebagai hari kemenangan bagi semua umat Islam di dunia pun tiba. Idul Fitri mengandung makna fitrah atau kembali suci. Bagi kaum muslimin di Indonesia, Idul Fitri dijadikan momen berkumpulnya sanak keluarga dan sebagai momentum menyambung tali persaudaraan. Selama perayaan Idul Fitri juga terdapat tradisi yang sangat baik, yaitu saling maaf-memaafkan antar saudara seiman.


Menjadi manusia pemurah dengan memaafkan sesama umat adalah amal saleh yang dianjurkan dalam Islam. Seperti termaktub dalam surah Al-A’raf ayat 199. “jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”


Sebenarnya tidak ada waktu atau momen khusus untuk manusia saling bermaaf-maafaan, karena semua waktu itu baik dimanfaatkan untuk meminta maaf. Pada dasarnya memaaf-mafaan adalah soal keikhlasan hati untuk meminta dan memberi maaf. Masyarakat Indonesia mengidentikkan momen Idul Fitri sebagai momen yang paling baik untuk bersilaturahmi dengan meminta maaf, tradisi ini sangat bagus dan mulia.


Rasulullah saw, “Hendaknya engkau memaafkan, karena tindakan memaafkan itu akan menambahkan kemuliaan seorang hamba. Salinglah memaafkan sehingga kalian mendapatkan kemuliaan dari Allah!"


Rasulullah saw, “Siapa yang banyak memaafkan, maka akan panjang umurnya.”

Rasulullah saw, “Siapa yang memaafkan padahal dirinya memiliki kemampuan untuk membalas, maka Allah akan memberikan pengampunan kepadanya di Hari yang penuh kesulitan (kiamat).”


Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mewasiatkan kepada putranya al-Hasan ra, “Jika mereka melakukan kesalahan, maka berlaku adillah dengan baik, karena berlaku adil dengan memaafkan lebih efektif daripada (sangsi) pukulan bagi orang yang berakal.”


Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, “Jika engkau memiliki kemampuan (untuk membalas perbuatan) musuhmu atasmu, maka jadikanlah maafmu sebagai bentuk syukurmu atas kemampuan (membalas) yang kau miliki.”


Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra, “Memberi maaf itu adalah zakat kemenangan.”

Sayidina Ali bin Musa bin Jafar Shadiq ra, "Yang dimaksud dengan firman Allah Swt “fasfah” (maafkanlah dengan cara yang baik) adalah memaafkan tanpa membalas, mencela dan mencemooh.”


Yuk kita saling memberi dan menerima maaf, karena mungkin terkadang kita melakukan kesalahan tanpa disadari karena ketidaksengajaan. Sehingga nanti hisab kita akan lebih ringan di hari perhitungan amal. Taqabbalallaahu Minna wa Minkum Taqabbal yaa Kariim, wa Ja'alanaallaahu wa Iyyaakum Minal 'aaidin wal Faaiziin wal Maqbuulin, Kullu ‘Aamin wa Antum bi Khair.