Menciptakan Peluang dan Harapan Pascaramadan


Bulan Ramadan adalah bulan pendidikan dan latihan bagi umat Islam. Berhasil atau tidaknya hal tersebut, indikasinya bisa dilihat dari amal perbuatannya setelah Ramadan. Meningkatkah ibadahnya atau semakin mengendur. Di situlah penilaian keberhasilan madrasah Ramadan.


Kita harus menciptakan peluang untuk terus dapat menjaga konsistensi ibadah, baik secara vertikal (habluminallah) maupun horisontal (habluminannas). Menjaga ibadah secara vertikal tentu ibadah yang sifatnya individual dan langsung kepada Allah, seperti puasa sunnah, salat malam, dan mempelajari Alquran. Secara horizontal yakni seperti menyantuni anak yatim dan dhuafa dan bermasyarakat dengan baik.


Untuk dapat menciptakan peluang-peluang ibadah yang penuh semangat dan peningkatan diperlukan niat dan tekad yang kuat untuk betul-betul berupaya meningkatkan amal. Ini harus direncanakan sedari Ramadan agar harapan akan konsistensi ibadah sama seperti di waktu bulan Ramadan. Di awal bulan Syawal tidak boleh berhenti dalam beribadah dan berbuat baik, istilahlanya tidak ada jeda untuk ibadah dan kebaikan.


Agar tidak luntur tekad tersebut, sadarilah bahwa Allah Swt selalu memantau dan mencatat setiap amal perbuatan kita. Jika sikap ini dimiliki, siapa pun tidak akan main-main dalam pelaksanaan tekad tersebut. Allah berfirman, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.” (QS Yunus (10): 61)


Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan pada bulan Ramadan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadan usai. Idul Fitri harus menjadi star point untuk kita terus menjadan dan meningkatkan amal perbuatan kita.


Harapannya setelah Ramadan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupannya. Sungguh kerugian besar apabila Ramadhan berlalu tetapi kita malah kembali seperti sebelum Ramadan. Ini artinya kita tidak lulus dalam madrasah Ramadan yang telah kita lalui dan jalani selama sebulan penuh. Jangan sampai kita termasuk dari apa yang disabdakan Rasul saw, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”