Mendiagnosis Penyakit Hati



Kita mengenal tiga macam penyakit: penyakit hati, penyakit jiwa, dan penyakit fisik. Membedakan penyakit fisik dengan penyakit jiwa lebih mudah daripada membedakan penyakit jiwa dengan penyakit hati. Hati yang berpenyakit ditandai dengan tertutupnya mata batin kita dari penglihatan-penglihatan ruhaniah.


Menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Road to Allah, penyakit hati menimbulkan gangguan psikologis, dan gangguan psikologis berpengaruh pada kesehatan fisik. Contoh penyakit hati adalah dengki, iri hati, dan dendam kepada orang lain. Dendam adalah rasa marah yang kita simpan jauh di dalam hati kita sehingga menggerogoti hati kita. Akibat dari menyimpan dendam, kita akan mengalami stres berkepanjangan. Adapun akibat dari iri hati ialah kehilangan perasaan tenteram. Orang yang iri hati tidak bisa menikmati kehidupan yang normal karena hatinya tidak pernah bisa tenang sebelum melihat orang lain mengalami kesulitan. Dia melakukan berbagai hal untuk memuaskan rasa iri hatinya. Jika ia gagal, ia akan jatuh frustrasi.


Imam Ali as berkata: “Tidak ada orang zalim yang menzalimi orang lain sambil sekaligus menzalimi dirinya sendiri, selain orang yang dengki.”


Ada juga penyakit hati yang langsung berpengaruh pada gangguan fisik. Kikir misalnya. Kikir atau bakhil adalah penyakit hati yang bersumber dari keinginan yang egoistis. Keinginan untuk menyenangkan diri secara berlebihan akan melahirkan kebakhilan. Penyakit bakhil berpengaruh langsung pada gangguan fisik. Pernah ada orang yang datang kepada Imam Ja’far as. Dia mengadukan sakit yang diderita oleh seluruh anggota keluarganya, yang berjumlah sepuluh orang. Imam Ja’far berkata dengan menyebutkan sabda Nabi Saw: “Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kamu dengan banyak bersedekah.” Dalam hadis lain disebutkan: “Di antara ciri-ciri orang bakhil adalah banyaknya penyakit.”


Tanda-Tanda Penyakit Hati

  1. Kehilangan cinta yang tulus. Orang yang mengidap penyakit hati tidak akan bisa mencintai orang lain dengan benar. Dia tidak mampu mencintai keluarganya dengan ikhlas. Orang seperti itu agak sulit untuk mencintai Nabi, apalagi mencintai Tuhan yang lebih abstrak. Karena ia tidak bisa mencintai dengan tulus, dia juga tidak akan mendapat kecintaan yang tulus dari orang lain. Sekiranya ada yang mencintainya dengan tulus, ia akan curiga akan kecintaan itu.

  2. Kehilangan ketenteraman dan ketenangan batin.

  3. Memiliki hati dan mata yang keras. Pengidap penyakit hati mempunyai mata yang sukar terharu dan hati yang sulit tersentuh.

  4. Kehilangan kekhusyukan dalam ibadah.

  5. Malas beribadah atau beramal. Keenam, senang melakukan dosa. Orang yang berpenyakit hati merasakan kebahagiaan dalam melakukan dosa. Tidak ada perasaan bersalah yang mengganggu dirinya sama sekali. Sebuah doa dari Nabi Saw berbunyi: “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang apabila berbuat baik aku berbahagia dan apabila aku berbuat dosa, aku cepat­-cepat beristighfar.”


Di antara tobat yang tidak diterima Allah ialah tobat orang yang tidak pernah merasa perlu untuk bertobat karena tak merasa berbuat dosa. Kali pertama seseorang melakukan dosa, ia akan merasa bersalah. Tetapi saat ia mengulanginya untuk kedua kali, rasa bersalah itu akan berkurang. Setelah ia berulang-ulang melakukan maksiat, ia akan mulai menyenangi kemaksiatan itu. Bahkan, ia menjadi ketagihan untuk berbuat maksiat terus-menerus. Ini menandakan orang tersebut sudah berada dalam kategori seperti yang difirmankan Allah Swt, Dalam hatinya ada penyakit lalu Allah tambahkan penyakitnya. (QS. Al-Baqarah: 10)


Dalam kitabnya lhya Ulumuddin, AI-Ghazali berbicara tentang tanda-tanda penyakit hati dan kiat-kiat untuk mengetahui penyakit hati tersebut. Ia menyebutkan sebuah doa yang isinya meminta agar kita diselamatkan dari berbagai jenis penyakit hati: “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak kenyang, mata yang tidak menangis, dan doa yang tidak diangkat.”


Doa yang berasal dari hadis Nabi Saw ini menunjukkan tanda-tanda orang yang mempunyai penyakit hati. Merujuk pada doa tersebut, kita bisa menyimpulkan ciri-ciri orang yang berpenyakit hati sebagai berikut:


Pertama, memiliki ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmunya tidak berguna baginya dan tidak menjadikannya lebih dekat kepada Allah Swt. Al-Quran menyebutkan orang yang betul-betul takut kepada Allah itu sebagai orang-orang memiliki ilmu: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang yang berilmu (QS Fathir: 28). Jika ada orang yang berilmu, tapi tidak takut kepada Allah, berarti dia memiliki ilmu yang tidak bermanfaat.


Kedua, mempunyai hati yang tidak bisa khusyuk. Dalam menjalankan ibadah, ia tidak bisa mengkhusyukkan hatinya sehingga tidak bisa menikmati ibadahnya. Ibadah menjadi sebuah kegiatan rutin yang tidak memengaruhi perilakunya sama sekali. Tanda lahiriah dari orang yang hatinya tidak khusyuk adalah matanya sulit menangis. Nabi Saw menyebutnya sebagai jumud al-'ain (mata yang beku dan tidak bisa mencair). Di dalam AIquran, Allah menyebut manusia-­manusia yang saleh sebagai mereka yang sering terempas dalam sujud dan menangis


Ketiga, memiliki nafsu yang tidak pernah kenyang. Ia memendam ambisi yang tak pernah terpenuhi, keinginan yang terus-menerus, serta keserakahan yang takkan terpuaskan.

Keempat, doanya tidak diangkat dan didengar oleh Tuhan.