Mengambil Teladan Kepatuhan dari Pria Fakir, Bangsawan dan Putri Jelitanya


Dikisahkan dalam sejarah seorang fakir dan berkulit hitam bernama Juwaibir. Karena miskin dan tidak memiliki tempat tinggal ia tinggal di masjid. Rasulullah saw telah membangun shuffah di samping masjid untuk tempat tinggal orang-orang miskin yang tidak memiliki rumah. Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Juwaibir sedang menelungkupkan kepalanya di antara kedua lututnya. Ia sedang bersedih. Oleh karena itu, Rasulullah saw bertanya: "Apakah engkau ingin menikah, hai Juwaibir?"


Juwaibir menjawab: "Wahai rasulullah, siapakah yang akan menikahkan putrinya dengan saya?"


Rasulullah saw berkata: "Bangunlah, lalu pergilah ke rumah Ziyad bin az-Zubair. Katakanlah kepadanya bahwa Rasulullah saw menyuruhnya agar menikahkan putrinya Fatimah, kepadamu."


Ziyad bin az-Zubair adalah seorang yang kaya raya dan terhormat di Madinah, dan Fatimah binti Ziyad adalah gadis yang terpandang dan memiliki kepribadian yang tinggi. Di samping itu, ia adalah seorang perempuan yang cantik dan disegani. Juwaibir pergi, lalu mengetuk pintu dengan ragu­ragu. Kemudian, Ziyad menemuinya. Juwaibir berkata kepadanya: "Rasulullah saw menyuruh saya untuk menemui Anda dan agar Anda menikahkan putri Anda, Fatimah dengan saya."


Ziyad menjawab: "Pergilah. Saya akan menemui Rasulullah saw sendiri."


Putrinya mendengar pembicaraan tersebut, lalu bertanya kepada ayahnya tentang apa yang terjadi. Ayahnya menjawab: "Juwaibir, laki-laki berkulit hitam itu, datang kepadaku untuk melamarmu dan mengatakan bahwa hal itu adalah perintah Rasulullah saw."


Fatimah bertanya: "Apakah jawaban ayah?"


Ziyad menjawab: "Ayah katakan kepadanya bahwa ayah sendiri yang akan menemui Rasulullah saw."


Fatimah berkata: "Kalau Rasulullah saw mengatakan demikian, maka jawaban ayah merupakan penghinaan kepada beliau."


Ziyad bertanya: "Apakah yang harus ayah lakukan?"


Fatimah menjawab: "Panggillah ia (Juwaibir) ke sini dan agar duduk (menunggu) di depan pintu. Lalu, ayah pergi kepada Rasulullah saw untuk menanyakan kebenaran hal itu."


Ziyad menuruti saran putrinya. Lalu Ziyad pergi kepada Nabi saw. Maka Nabi saw menjawab: "Benar. Aku mengatakan agar engkau menikahkan putrimu Fatimah, kepada Juwaibir."


Ziyad kembali kepada putrinya dan berkata: "Benar. Itulah yang dikatakan Rasulullah saw."


Fatimah menjawab: "Apa yang dikatakan Rasulullah saw harus dilaksanakan dan perintahnya harus ditaati."


Kemudian, Ziyad membelikan sebuah rumah untuk Juwaibir, menyiapkan pesta walimah untuknya, dan menikahkan putrinya kepadanya. Juwaibir memasuki kamar pengantin. Namun, ia tidak mendekati istrinya. Ia yang sebelumnya berpredikat budak yang dimerdekakan, kini telah memiliki sebuah rumah, seorang istri, dan kehidupan yang baik. Ia sibuk beribadah hingga subuh. Kaum perempuan merasa heran dan mengatakan bahwa seakan-akan Juwaibir tidak menginginkan kelezatan. Kemudian, orang-orang datang kepada Rasulullah dan mereka berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak mendekati gadis itu. Ia tidak menginginkan istri."


Rasulullah saw memanggil Juwaibir dan bertanya kepadanya: "Wahai Juwaibir, orang-orang mengatakan bahwa engkau tidak menginginkan seorang istri, benarkah begitu?"


Juwaibir menjawab: "Sama sekali tidak, wahai Rasulullah. Bukan demikian."


Beliau bertanya: "Lalu, mengapa engkau tidak melakukan hal itu?"


Juwaibir menjawab: "Wahai Rasulullah, ketika saya memasuki kamar pengantin, saya melihat kenikmatan-kenikmatan Allah. Saya harus bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan ini. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beribadat kepada Allah selama tiga malam. Malam ketiga telah berakhir, dan malam ini adalah malam pengantin saya."


Memperoleh keimanan qalbi seperti Ziyad bin az­Zubair, sikap toleransi seperti Fatimah binti Ziyad, dan kepatuhan pada perintah-perintah Allah seperti ketaatan Juwaibir, semua ini memerlukan ketaatan kepada Allah dan imam-Nya. Mereka bertiga memiliki keistimewaan di dalam tiga hal.


Pertama, dari sisi kepribadian. Pada waktu itu, Ziyad bin az-Zubair melakukan satu hal yang sangat penting. Ia menjadi istimewa di tengah bangsa Arab dengan menikahkan putrinya kepada Juwaibir seorang negro. Padahal, pada saat itu, seperti yang disebutkan sejarah, tidak seorang pun di antara bangsawan Arab mereka yang mau menundukkan kepala.


Fatimah binti Ziyad adalah perempuan yang taat kepada Allah secara sempurna serta berpegang teguh pada perintah­perintah Allah dan Nabi saw. Ketika ayahnya memerintahkan Juwaibir agar kembali kepada Rasulullah saw dan ia mengatakan bahwa ia akan menyusul di belakangnya, Fatimah berkata kepada ayahnya bahwa hal itu merupakan penghinaan terhadap perintah Rasulullah saw.


Sementara Juwaibir adalah seorang ahli ibadah, sangat memperhatikan lahiriah syariat. Berpegang pada lahiriah syariat adalah memperhatikan kewajiban-kewajiban serta ketaatan pada hukum Islam, perintah-perintah Allah, perintah-perintah Nabi saw, dan perintah-perintah para imam Ahlulbait a.s., juga memperhatikan semua kewajiban, seperti salat, puasa, hak-hak suami-istri, dan menunaikan tugas-tugas yang dipikulkan pada pundak manusia.


Allah Swt berfirman: “...maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (QS. al-Hijr: 99)


*Disarikan dari buku Mengendalikan Naluri - Husain Mazahiri