Mengenal Sosok Imam Mahdi



Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi afs lahir pada 15 Syakban 255 H/870 M adalah keturunan ke-11 dari Rasulullah dari jalur Imam Husain as. Beliau menerima masalah penting yang bertanggung jawab terhadap kepemimpinan umat Islam dari tahun 260 H/873 M serta beliau hidup hingga sekarang. Beliau diberi karunia untuk mengemban risalah yang penting dengan memerhatikan kondisi yang terjadi serta mengikuti perkembangan masa kini sekaligus menjaga kondisi yang semestinya terwujud.


Imam ke-12 Ahlulbait ini telah ditetapkan melalui nas (nash) oleh Rasulullah Saw akan imamahnya. Beliau Saw bersabda: "Seorang laki-laki dari Ahlulbaitku akan berkuasa, namanya sama dengan namaku; seandainya dunia ini tidak tersisa selain sehari saja, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu sehingga dia berkuasa." (Kanz al- Ummal, hadis 38691)


Imam Mahdi lahir dalam situasi yang sangat sulit yang tidak mungkin untuk menyebarkan atau mengumumkan secara umum akan kelahirannya. Akan tetapi, ayah beliau yaitu Imam Hasan Askari as dan sejumlah keluarga serta sanak kerabat beliau menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan mereka akan hal tersebut. Para pengikutnya yang setia mengetahui akan kelahiran beliau dan kehidupan beliau serta meyakini bahwa beliau adalah imam mereka yang ke-12 yang telah disampaikan nabi terakhir Muhammad Saw sebagai kabar gembira. Nabi Saw mengabarkan berita gembira akan lahir darinya Imam Mahdi: "Bergembiralah wahai Fathimah, karena sesungguhnya al-Mahdi berasal dari keturunanmu." (Bihar al-Anwar, 31/160)


Setelah kesyahidan ayahnya Imam Hasan Askari as, muncullah bukti-bukti yang nyata akan keberadaan beliau yang mampu menghilangkan keraguan seputar kelahiran, keberadaan, serta imamah beliau. Imam Mahdi afs memegang kepemimpinan dan masalah­-masalah penting pada masa kegaiban sughra. Semua itu tersembunyi dari pengawasan pemerintah yang zalim dan para antek-anteknya.


Kepemimpinan beliau berlanjut pada masa kegaiban kubra sejak 329 H/940 M (masa kegaiban tersebut berlangsung hingga kini) setelah menetapkan ketentuan-ketentuan yang cukup serta menetapkan berbagai kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab kepemimpinan bagi ulama-ulama Allah dan orang-orang yang dapat menjaga kehalalan dan keharaman-Nya. Dengan penetapan-penetapan yang dilakukan oleh Imam Mahdi afs, pengganti-pengganti beliau selama masa kegaiban kubra mampu memikul tanggung jawab kepemimpinan dalam keagamaan di setiap kondisi yang terjadi pada masa tersebut.

Pada gilirannya, seluruh aspek pendukung kemunculan beliau guna perbaikan menyeluruh sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah pada seluruh umat dapat terpenuhi.


Mengenai dua jenis keghaiban ini, Imam Ja'far Shadiq mengatakan: "AI-Qa'im [Imam Mahdi] memiliki dua kegaiban, yaitu: salah satunya panjang [kubra], sedangkan yang satunya lagi pendek [syugra]. Pada kegaiban yang pertama, tidak ada yang mengetahui tempatnya kecuali orang­ orang yang khusus di antara Syiahnya; sedangkan pada kegaiban yang satunya lagi tidak ada yang mengetahui tempatnya kecuali orang-orang yang khusus dari kalangan para penolongnya di dalam agamanya." (Nur al-Tsaqalain, 2/392)


Sesungguhnya beliau adalah seseorang yang hendaknya umat nantikan kemunculan dan kepemimpinan beliau ketika terpenuhi seluruh aspek pendukung terciptanya revolusi dunia yang menyeluruh. Diriwayatkan Rasulullah bersabda: "Seutama-utama amal umatku adalah menunggu datangnya kelapangan dari Allah Azza Wajalla [yakni kemunculan al­-Qaim as]. (Bihar al-Anwar, 52/122)


Hubungan Imam Mahdi al-Muntazhar afs dan para pengikutnya terjalin melalui empat orang wakil beliau selama masa kegaiban sughra. Sepanjang masa kegaiban sughra Imam Mahdi

meninggalkan pada umat Islam warisan kekayaan yang tidak mungkin dapat dilupakan. Beliau tetap menjalankan tanggung jawab kepemimpinan yang beliau emban sebatas hal yang memungkinkan selama masa kegaiban kubra.


Beliau menanti bersama orang-orang yang menunggu suatu hari di saat Allah Swt mengizinkan beliau untuk hadir dan menggunakan seluruh potensi dan kekuatan yang telah dipersiapkan Allah baginya untuk memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan. Semua itu terjadi setelah terpenuhi seluruh kondisi yang memungkinkan dan dibutuhkan dari sisi jumlah pengikut setia dan persiapan yang matang.


Imam Mahdi adalah manusia yang dijanjikan Tuhan, Sang Juru Selamat. Bahkan seluruh agama telah memberikan kabar gembira akan kemunculan juru penyelamat Tuhan di masa mendatang untuk memperbaiki dunia, mencegah kezaliman, dan kejahatan serta mewujudkan kebahagiaan pada umat manusia. Meski selain Islam tidak menyebutkan secara rinci akan sosoknya, tetapi atas kehendak-Nya dalam Islam Mazhab Ahlulbait perkara ini sudah sangat terang, jelas, dan terperinci.


Mengenai kapan munculnya Imam Mahdi afs, Imam Muhammad Baqir as berkata: "Jika perkara kami telah terjadi dan Mahdi kami telah datang maka seorang lelaki dari pengikut kami akan menjadi lebih berani dari singa, lebih cepat dari anak panah, menjatuhkan musuh­ musuh kami dengan kedua kakinya, memukul mereka dengan kedua telapak tangannya, saat itulah saat turunnya rahmat dan kelapangan Allah bagi para hamba-Nya." (Bihar al-Anwar, 52/318)


Dan setelah kemunculan Imam Mahdi maka bumi akan dipenuhi dengan kesejahteraan dan keadilan. Rasulullah Saw bersabda: "Al-Mahdi akan muncul di akhir umatku. (Dengan kemunculannya itu) Allah akan menurunkan hujan, bumi akan mengeluarkan tanamannya, harta akan diberi tanpa terputus, hewan ternak akan menjadi banyak, dan umat ini akan menjadi besar." (Kanz al-Umal, hadis ke-38700)


Ya Allah, jadilah Engkau bagi kekasih-Mu Al-Hujjah ibnal Hasan (semoga shalawat-Mu tercurahkan kepadanya dan kepada bapak-bapaknya) saat ini dan setiap saat penjaga dan pemelihara, pelindung dan penolong, penunjuk dan penuntun. Sehingga Kau serahkan kepadanya bumi-Mu dengan suka rela, dan Kau bahagiakan ia di dalamnya dalam waktu yang lama.(Doa Faraj, Mafatihul Jinân: bab 2, pasal 3)


Sumber: Teladan Abadi Imam Mahdi, penerbit Al-Huda; Mizanul Hikmah.