Merawat Iman dengan Menjadi Dermawan


Iman adalah keyakinan hati atas apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Iman adalah prinsip dan pondasi serta menjadi syarat sah dan diterimanya seluruh amal ibadah yang dilakukan. Seseorang yang benar-benar beriman maka ia akan mewujudkannya dalam bentuk amal. Rasulullah saw bersabda, “lman bukanlah dengan berhias, dan bukan pula dengan angan-angan; tetapi iman adalah apa yang murni (bersemayam) di dalam hati dan dibenarkan oleh amal.”


Dengan iman seorang akan sadar posisinya adalah seorang hamba, ia tidak mempunyai daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung. Buah dari iman adalah takwa. Ia akan senantiasa menjalankan segala yang diperintahan oleh-Nya dan menjauhi segala yang dilarang. Implikasi dari keimanan sesorang adalah akhlaknya, ia akan meniru akhlak-akhlak agung Rasulullah dan wali-Nya, tawadu, jujur, amanah, dan dermawan.


Mengenai kedermawanan Rasulullah saw bersabda:

“Kedermawanan adalah akhlak Allah yang paling besar.” “Allah pasti menjadikan wali-Nya seorang yang berwatak dermawan.”


Untuk merawat iman, seorang mukmin wajib berakhlak mulia, ia tidak gelisah dengan apa yang menimpa dirinya, tenang menjalani hidup, dan dermawan. Karena dengan menjadi dermawan seseorang dapat membantu sesama. Demikianlah akhlak para nabi, sehingga jika seseorang beriman maka ia tidak akan jauh dari sifat-sifat yang dicontohkan oleh para hamba pilihan Allah Swt.


Sayidina Jafar Shadiq ra berkata, “Kedermawanan termasuk akhlak para nabi dan tiang keimanan. Seseorang tidak dapat menjadi mukmin kecuali dirinya dermawan; tidak menjadi seorang dermawan kecuali memiliki keyakinan dan semangat tinggi. Sebab, kedermawanan itu cahaya keyakinan; dan barangsiapa mengetahui apa yang ditujunya, menjadi tidak berhargalah baginya apa yang didermakannya.”


Dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa tiang keimanan adalah kedermawanan yang menjadi akhlak para nabi Allah. Bahkan dikatakan bahwa mustahil seseorang menjadi mukmin apabila tidak ada sifat dermawan dalam dirinya. Sebab sifat dermawan adalah cahaya dari iman dan Ketika sudah beriman maka tidak berharga apa-apa yang didermakan karena sadar semua sifatnya hanya titipan.


Di lain sisi, kedermawanan juga adalah sebuah metode untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Kedermawanan adalah perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.”


Sayidina Ali juga mengatakan bahwa kedermawanan akan menanamkan kecintaan, dan kedermawanan akan menghiasi akhlak. Jadi untuk merawat keimanan seseorang harus menjadi hamba yang dekat dengan Allah, berakhlak seperti akhlak para nabi, dan berusaha menjadi manusia terbaik dengan menyempurna menuju maqam yang lebih tinggi. Ia akan terus meng-upgrade dirinya, tidak mau stagnan dengan amal yang itu-itu saja. Nah, untuk menuju lokus sempurna seorang mukmin meski menjadi orang-orang terbaik. Bagaimana cara menjadi terbaik? Caranya adalah dengan menanamkan dalam diri sifat dermawan. Sayidina Jafar Shadiq berkata, “Orang-orang terbaik di antara kalian adalah yang dermawan, dan orang-orang terjelek di antara kalian adalah yang kikir.”