Nasihat Imam Ali agar Hati Tidak Menjadi Keras


Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berwasiat kepada putranya al-Hasan:


“Wahai putraku, ketika aku melihatmu telah mencapai usia akil balig dan melihat diriku semakin lemah (dimakan usia), maka aku bergegas untuk menuliskan sebuah wasiat untukmu dalam beberapa pokok penting. (Hal ini perlu aku lakukan), sebelum ajal lebih dulu menjemputku, sementara aku belum sempat menerangkan untukmu apa yang ada dalam benakku; atau sebelum kemampuan berpikirku melemah sebagaimana tubuhku; atau (wasiatku) didahului oleh berbagai godaan hawa nafsu dan tipuan dunia yang menjeratmu, sehingga dirimu menjadi seperti onta pembangkang. Sesungguhnya, hati anak muda laksana lahan yang belum ditanami; tidak ada benih yang ditaburkan atasnya, kecuali akan diterima.


Maka bergegaslah pada adab (aturan agama), sebelum hatimu mengeras dan pikiranmu teralihkan, agar kamu menghadapi urusan (hidupmu) dengan penuh kesungguhan berbekal pengalaman dan pencapaian banyak orang tanpa harus merasakan lelah letihnya pencarian dan pengalaman tersebut. Dengan demikian, berarti kamu seakan telah melalui apa saja yang telah kami lalui, dan bahkan akan menjadi jelas bagimu apa yang mungkin masih samar bagi kami.”


Beliau meminta kepada putranya untuk menghargai masa belia dan remaja, yang di dalamnya hati masih bersih, polos dan belum ternoda oleh berbagai macam keburukan dan kotoran jiwa. Hendaknya di masa muda seseorang menghargai kesempatan yang ada dan juga menyadari bahwa kesempatan ini tidak selamanya ada, karena sangat mungkin hati seseorang berubah menjadi keras. Jika itu terjadi, jalan untuk menempuh jenjang kesempurnaan dan kemuliaan, akan tertutup baginya. Karena hati yang sudah keras, tidak akan pernah tersentuh oleh apa pun dan dia akan menutup jalan menuju kebahagiaan (dunia-akhirat) atas pemiliknya.


Sewajarnya, hati manusia harus bisa tersentuh, memiliki kepekaan dan meneteskan air mata; hati tidak boleh kebal dan bebal, sehingga tidak ada nasihat dan pesan yang dapat menyentuh dan memengaruhinya. Alquran memberikan penekanan atas masalah ini dan mencela Ahlulkitab, khususnya kaum Yahudi, atas sifat ini (kekerasan hati), Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir dari padanya sungai-sungai..."


Adapun hati-hati kalian bahkan tidak mampu untuk mengeluarkan sekadar satu tetes air mata! Atau dalam ayat lain dinyatakan, “Belumkah datang waktu bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka dalam mengingat Allah dan pada kebenaran yang telah turun (atas mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang (Yahudi) yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hadid:16)


Jika seseorang berpaling dari kebenaran yang sampai kepadanya dan bersikap acuh tak acuh, secara perlahan dia akan kehilangan kesiapan untuk menerima kebenaran secara menyeluruh. Besar kemungkinan, apabila dia sejak awal mau memerhatikan kebenaran yang sampai padanya, hatinya akan tersentuh dan terpengaruh serta tumbuh kesiapan untuk menerima kebenaran tersebut. Janganlah bersikap seperti orang-orang (Yahudi), yang membiarkan waktu berlalu dan terus melakukan perbuatan dosa, hingga akhirnya hati mereka menjadi keras dan tidak lagi berpeluang untuk menerima kebenaran.


Dalam wasiat ini, Imam Ali as juga memperingatkan bahwa janganlah kalian bersikap seperti itu, yakni tidak memedulikan nasihat yang sampai kepada kalian. Apabila kalian bersikap tidak peduli dan acuh tak acuh, bahaya yang akan ditimbulkan jauh lebih besar daripada bahaya yang muncul dari tidak mengamalkan nasihat tersebut. Karena sikap tidak peduli dan acuh tak acuh pada nasihat, secara berangsur akan menghilangkan kesiapan untuk menerima kebenaran. Maka waspada dan berhati-hatilah, bersegeralah untuk menerima nasihat (dan kebenaran), bergegaslah untuk memperbaiki diri dan akhlak, sebelum hati menjadi keras dan pikiran sibuk dengan hal-hal lain.


Dengan penuh keyakinan dapat dikatakan, apabila hati telah menjadi keras, hati tersebut tidak lagi dapat tersentuh dan memberikan reaksi yang positif terhadap kebenaran yang sampai padanya. Demikian pula halnya dengan pikiran manusia, apabila pikiran tersebut telah penuh dengan berbagai macam konsep dan pemikiran yang menyimpang, dia tidak lagi mau menerima kebenaran dan konsep yang baik, karena tidak tersisa tempat lagi dalam pikirannya bagi hal-hal yang baik dan benar. Apabila hati telah penuh dan sibuk, akan sulit untuk menerima yang baik dan benar.


Apa yang telah dijelaskan di atas adalah sebuah kebenaran, yang masing-masing kita dapat mencoba serta membuktikan ya. Sebagai misal, jika kamu sejak pagi sampai malam sibuk dan berbicara dari satu tempat ke tempat lainnya, pikiranmu telah terkuras habis sepanjang waktu itu, maka dalam keadaan seperti itu, kamu tidak lagi bisa berkonsentrasi untuk melakukan telaah dan kehilangan gairah untuk mendengar omongan baru, meskipun omongan tersebut sangat berguna. Mengapa begitu?


Jawabannya adalah karena memang pikiran dan hati telah sibuk, penuh dan lelah, sehingga tidak lagi bergairah untuk menerima pemikiran-pemikiran baru. Tentu, keadaan yang seperti ini sering kit alami berkaitan dengan hati. Contohnya, pada hari tertentu ketika kita mempunyai banyak kesibukan duniawi, maka secara otomatis kekhusukan dalam salat akan terganggu dan sulit diwujudkan. Alasannya adalah karena memang pada hari itu, hati kita telah disibukkan oleh berbagai macam aktivitas keduniaan yang padat.


*Prof. Taqi Misbah Yazdi - 22 Nasihat Penghalus Budi