Non-Muslim yang Terpesona oleh Kepribadian Rasulullah



Dikisahkan dari kitab Sirah Ibn Hisyam, seorang lelaki bernama Adiy bin Hatim yang sangat membenci Rasulullah saw. Selaku pemimpin kabilah dia selalu mengambil bagian terbanyak dari harta rampasan yang diperoleh kaumnya, padahal yang demikian itu tidak dibenarkan oleh agama yang dianutnya. Ketika Adiy mendengar bahwa tentara kaum muslimin bergerak ke daerahnya, segera dia melarikan diri dengan mengendarai unta yang kekar bersama keluarganya, kecuali saudara perempuannya yang bernama Sufanah, ditinggalkannya.


Ketika tentara muslimin telah memasuki daerahnya, mereka menangkap Sufanah dan membawanya kepada Rasulullah saw kemudian digabungkan dengan tawanan-tawanan lain di dekat masjid. Ketika Rasulullah datang, Sufanah berkata kepada beliau: “Hai Rasulullah, orang tuaku telah tiada dan pelindungku melarikan diri. Kasihanilah aku.”


“Siapa pelindungmu?”, tanya Rasulullah.


“Adiy bin Hatim”, jawab Sufanah.


“Yang lari dari Allah?”, kata Rasulullah saw sambil berlalu meninggalkan Sufanah.


Pada hari berikutnya, Rasulullah datang kembali, dan Sufanah mengungkapkan hal seperti hari kemarinnya, sementara jawaban Rasulullah pun sama dengan jawaban beliau sebelum ini. Keesokan harinya Rasulullah datang lagi. Sufanah merasa putus asa untuk mengungkapkan sesuatu kepada beliau, namun Imam Ali bin Abi Thalib a.s. yang berada di belakang Rasulullah, menyuruhnya menyampaikan sesuatu kepada beliau.


Maka berdirilah Sufanah, kemudian berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, orang tuaku telah tiada dan pelindungku melarikan diri. Kasihanilah aku niscaya Allah akan mengasihi Tuan.”


“Hal itu sudah aku lakukan. Jangan terburu-buru pulang sampai datang sekelompok kaummu yang terpercaya yang akan membawamu pulang ke daerahmu”, jawab Nabi saw.

Setelah itu Sufanah tinggal di Madinah untuk beberapa waktu. Ketika sekelompok kaumnya yang terpercaya datang, ia menjumpai Rasulullah saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, sekelompok kaumku yang terpercaya telah datang.”


Maka Rasulullah pun memberinya pakaian dan bekal, dan mengirimnya ke Syam. Sesampainya di Syam, Sufanah segera menjumpai saudaranya, Adiy bin Hatim. Sufanah memaki-maki saudaranya itu dengan berkata: “Kau bawa anak-anak dan keluargamu, dan engkau tinggalkan aku sendirian!”


Adiy menjawab: “Saudariku, berbicaralah dengan baik. Sungguh aku tidak senang dengan cara seperti itu.”


Kemudian setelah diam Adiy kemudian bertanya kepada adiknya: “Bagaimana pendapatmu tentang orang itu (Rasulullah saw)?.”


“Sebaiknya engkau segera menemuinya. Jika dia seorang Nabi maka keutamaanlah yang akan engkau terima. Jika dia seorang raja, sungguh engkau tidak akan merasa rendah diri di hadapannya”, jawab Sufanah.


Setelah itu datang Adiy bin Hatim menjumpai Rasulullah di Madinah. Ketika itu beliau sedang berada di masjidnya. Setelah Adiy memberi salam, Rasul bertanya: “Siapakah engkau?”


“Adiy bin Hatim”, jawabnya.


Lalu Rasul saw mengajaknya ke rumah. Di tengah perjalan beliau dihentikan oleh seorang wanita tua lemah yang mengadukan kesulitan-kesulitan hidupnya kepada beliau. Adiy bergumam: “Demi Tuhan dia bukan seorang raja.”


Setibanya di rumah, Rasul mengambilkan bantal dan memberikannya kepada Adiy lalu menyuruhnya duduk di atasnya. Ia menolak, namun Rasul memaksanya, sementara Rasul sendiri duduk di atas tanah.


Adiy kembali bergumam: “Demi Tuhan, ini bukan pekerjaan seorang raja.”

Sejenak kemudian Rasulullah berkata: “Hai Adiy, bukankah engkau seorang Rukusiy (agama gabungan antara Nasrani dan Shabiah)? Bukankah engkau selalu mengambil seperempat bagian dari rampasan?.”


“Benar”, jawabnya.


“Bukankah itu tidak dibenarkan oleh agamamu?” tanya Rasul.


“Benar”, jawabnya. “Sungguh dia benar-benar seorang Nabi karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain,” kembali Adiy bergumam.


Kemudian Rasul saw berkata lagi: “Hai Adiy, barangkali yang menghalangimu masuk Islam adalah karena engkau melihat kebutuhan kaum muslimin yang banyak, sungguh suatu ketika akan mengalir harta kepada mereka sehingga tak ada seorang pun yang mengambilnya. Ataukah yang menghalangimu masuk Islam adalah karena engkau melihat umat ini mempunyai banyak musuh sementara jumlah mereka sedikit; sungguh suatu saat engkau akan mendengar seorang wanita keluar dengan untanya dari kota Qadisiyah menuju Baitullah tanpa rasa takut. Atau barangkali yang menghalangimu masuk agama ini karena engkau melihat kekuatan dan kekuasaan berada di tangan bangsa lain; sungguh suatu ketika engkau akan menyaksikan istana-istana putih di Babilonia berada dalam kekuasaan umat ini.


Setelah itu Adiy bin Hatim masuk Islam, selanjutnya Adiy berkata: “Dua hal terakhir dari pernyataan Rasulullah itu telah menjadi kenyataan. Telah kusaksikan istana putih di Babilonia dikuasai umat ini, dan telah kusaksikan pula seorang wanita keluar dengan untanya dari Qadisiyah menuju Baitullah. Sedangkan limpahan harta sehingga tak seorang pun mengambilnya, masih akan terjadi”


*Disadur dari buku Kisah Orang-orang Bijak – Ayatullah Murthada Muthahhari