Palestina Memanggil Kemanusiaan Kita


Rezim ilegal Zionis ‘Israel’ selama kurang lebih 73 tahun terus merampas hak-hak asasi warga Palestina. Dengan dukungan imperialisme global, ‘Israel’ dengan semena-mena terus melakukan kebiadabannya dengan meneror, merampas, menyiksa, dan membunuh warga Palestina. Sudah jutaan penduduk Palestina harus mengungsi ke luar negeri karena mereka tidak memiliki apa-apa lagi dan ribuan dibunuh karena melawan. Mereka yang berusaha mempertahankan hak-haknya terpaksa menerima kejahatan rezim ini dengan dipenjara, diteror, hingga dibunuh di tempat. Ironisnya, negara-negara tetangga sesama bangsa Arab kini terkesan diam membisu menyaksikan kebrutalan tersebut.


Segala upaya sudah dilakukan pihak Palestina untuk dapat meraih kemerdekaan dan mendapatkan kedaulatan mempertahankan teritorialnya. Langkah-langkah diplomasi dengan perjanjian damai pun ditempuh dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai penengah, namun ‘Israel’ terlalu pongah, ia injak-injak semua bentuk perjanjian. Dari perjanjian 1947 hingga 1964 di mana terjadi pembagian wilayah yang sebenarnya sangat merugikan pihak Palestina (karena harus membagi tanahnya untuk sang agresor penyerobot) harus diterimanya dengan legowo karena ketidaberdayaannya. Namun, itu pun dilanggar dengan jumawa oleh Israel. Ketika perjanjian damai sudah berkali diingkari, kini sudah tidak tersisa lagi kepercayaan dari pihak Palestina kecuali dengan jalan muqawamah (perlawanan).


Menjelang akhir Ramadan 1442 H, Muslim Palestina melaksanakan salat tarawih di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Tentara zionis ‘Israel’ dengan keji melemparkan gas air mata guna membubarkan paksa para jemaah salat. Dengan ditodong senjata yang konon tercanggih di dunia, Muslimin Palestina tak tinggal diam, mereka melawan dengan persenjataan sangat sederhana yakni kepalan tangan dan batu. Ketegangan ini sebenarnya berawal dari rencana ‘Israel’ untuk mengusir warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah (pemukiman warga Arab Palestina paling tua di Yerusalem) Yerusalem Timur. Perlawanan kali ini adalah kulminasi dari tindakan keji Zionis yang setiap saat mengancam hak hidup warga Palestina.


Dari tragedi yang sudah berlangsung hampir 10 hari ini telah memakan korban syahid Palestina 212 orang (61 anak-anak dan 36 wanita), sebanyak 1400 luka-luka, belum lagi pemukiman warga dan fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit. Tindakan biadab ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi Indonesia, Presiden Joko Widodo mengutuk keras aksi brutal anti-kemanusiaan ini. Demonstrasi damai serentak terjadi di berbagai belahan dunia menunjukkan simpatinya bagi Palestina.


Palestina adalah kita, siapapun yang memiliki hati nurani mereka akan tergugah untuk sekadar simpati dan membelanya. Mari suarakan keperpihakan kita semampunya, seperti menuliskan fakta yang terjadi dan share gambar/ tulisan yang berupa pembelaan terhadap Palestina di media sosial. Kita berada di posisi mana nanti akan dipertanggungjawabkan di pengadilan Ilahi, dan diam adalah berada dalam posisi si zalim. Sayidina Ali mengatakan, “Kezaliman akan terus ada bukan karena kuatnya orang zalim, tapi karena diamnya orang-orang baik.”