Pengaruh Ibadah Puasa Ramadan


Sebagaimana dengan keberadaan bumi, langit dengan seluruh bagiannya, serta alam tabiat yang memiliki nilai-nilai batin dan tersembunyi, demikian pula dengan aturan Ilahi di alam syariat. Allah Swt telah menjadikan keberadaan Kiamat sebagai lawan dari dunia nyata. Allah Swt berfirman bahwa sebagian manusia hanya memiliki pengetahuan mengenai keberadaan dunia hanya terbatas pada sisi lahiriahnya belaka, dan tidak memiliki pengetahuan tentang alam akhirat: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ar-Rum: 6)


Jelas bahwa akhirat merupakan aspek batin dari dunia, dan seluruh nilai batin yang ada dalam diri manusia, juga yang ada dalam seluruh keberadaan di dunia ini, akan menjadi nyata di alam akhirat. Sebagaimana semua itu memiliki aspek lahir dan batin kendati aspek batinnya baru muncul di Hari Kiamat begitu pula dengan seluruh ibadah yang mengatur kehidupan kita. Semuanya memiliki aspek lahir yang disebut hukum dan adab, serta memiliki aspek batin yang disebut dengan rahasia-rahasia ibadah. Rasul saw bersabda: “Segala sesuatu ada zakatnya dan zakatnya tubuh adalah puasa.” (Mizanul hikmah, 3/51)


Puasa merupakan zakat bagi tubuh, dan dengan berpuasa tubuh manusia akan tumbuh. Tak ada yang lebih buruk dari makan banyak. Makan sedikit merupakan faktor kesehatan dan keselamatan. Seseorang mengunjungi Amirul Mukminin Imam Ali a.s. yang kala itu sedang bersantap. Ia melihat makanan yang disantap Imam sangatlah sederhana. Kemudian Imam berkata: “Mungkin kamu ingin berkata, ‘Bagaimana Imam kuat berperang dan berjihad dengan makanan yang sangat sederhana ini?”


Imam melanjutkan: “Seandainya orang-orang Arab berkumpul untuk memerangiku, maka aku tidak akan berpaling dari mereka.” (Nahj al-Balaghah, Hikmah ke-45)


Dari sini kita memahami bahwa kekuatan seseorang bukan bersumber dari makanan. Orang yang banyak makan justru akan menjadi lebih lemah. Dalam peristiwa pencabutan pintu gerbang Khaibar, Imam Ali berkata: “Aku tidak mencabut pintu Khaibar dengan kekuatan badan, tetapi dengan kekuatan malakuti dan kekuatan jiwa dengan cahaya Tuhannya. Aku tidak mencabut pintu karena banyak makan dan minum. Sebab, banyak makan dan minum tidak memberikan kekuatan.” (Syaikh Mufid, al-Amali, pertemuan ke-7)


Tidak makan secara berlebihan maupun tidak kekurangan makan pasti akan menjaga seseorang. Tetapi kita juga harus mendapatkan kekuatan spiritual dari jalan-jalan tertentu. Imam Shadiq a.s. berkata: “Badan tidak akan melemah jika niatnya kuat.” (Syaikh Mufid, al-Amali, pertemuan ke-53)


Jika seseorang memiliki keinginan yang kukuh, maka badannya akan sekukuh keinginannya. Jika keinginannya lemah, badannya pun akan lemah. Seseorang yang memiliki iman yang kuat tidak akan merasakan beratnya berpuasa di hari yang sangat panas. Adapun jika imannya lemah, ia akan merasa letih dan berat berpuasa karena seluruh panca indranya tertuju pada tuntutan tabiatnya. Iman yang kuat akan melahirkan keinginan yang kuat. Karenanya, orang yang memiliki iman yang kukuh tidak lagi memikirkan keadaan tubuhnya.


Apakah peran puasa dalam menyelesaikan sebuah problem? Kedudukan apakah yang diperoleh seseorang sehingga mampu menyelesaikan problem yang dihadapinya?

Menahan makan secara lahiriah inilah yang akan mengangkat ruh seseorang kepada kedudukan yang tinggi dan berada di atas alam tabiat. Imam Ali berkata: “Ketika kalian menghadapi problem, maka berpuasalah dan mintalah kepada Allah pertolongan, karena Allah berfirman, ‘Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberinya ganjaran.’”


Aspek batin puasa adalah menghantarkan seseorang menuju surga tempat perjumpaannya dengan Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberinya ganjaran.” Sejauh mana kita bisa mengetahui aspek batin puasa? Untuk mencapai itu, kita tidak bisa menempuhnya dengan cara berpuasa secara lahiriah semata, dengan tidak makan dan minum. Akan tetapi kita harus berpuasa dengan mengetahui rahasianya, juga dengan mencegah pikiran dan imajinasi kita dilintasi hal-hal yang bersifat batil yang tidak diridai Allah Swt. Segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita pasti diketahui Allah Swt.


Inilah rahasia puasa yang harus dimiliki seseorang sehingga ia bisa mencapai aspek batin puasa. Sehingga akan mencapai derajat seperti yang dikatakan oleh Imam Shadiq a.s. : “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal perbuatannya diterima, dan doanya diterima. Tidurnya orang yang berpuasa termasuk ibadah dan diamnya adalah tasbih.”


Namun apabila tidak berpuasanya batin kita, maka puasa kita pun sirna dan kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang berpuasa. Apabila kita mau puasa yang ditunaikannya diterima maka mulailah untuk tidak mengghibah orang lain, serta tidak mengucapkan apa pun kecuali yang benar dan akan senantiasa menjaga mulut serta lisannya. Jiwa manusia memiliki potensi untuk menjadi emas dan membentuk apa pun perangai yang kita kehendaki. Karenanya, mengapa kita tidak membiasakan diri untuk mentradisikan hukum-hukum Allah yang mana semuanya akan kembali manfaatnya untuk diri kita.


*Disarikan dari buku Rahasia Ibadah - Ayatullah Jawadi Amuli