Pentingnya Partisipasi dalam Menghidupkan Agama dan Dakwah


Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah orang yang menyeru kepada (agama) Allah Yang Mahatinggi dan menjadikan hamba-hamba-Nya mencintai-Nya.”


Antara Islam dan dakwah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak mungkin terpisahkan. Islam ibarat tubuh dan dakwah sebagai ruhnya. Jika dakwah sudah berhenti, maka Islam akan kehilangan arah dan akan mengakibatkan Islam itu lemah dan tidak punya kekuatan.


Ketika Rasulullah saw diajak dan dirayu kafir Qurays agar menghentikan dakwahnya. Jika mau menghentikannya maka akan diberi imbalan berupa harta, tahta (jabatan) atau apapun sesuai dengan keinginannya. Namun tawaran itu ditolak oleh Rasulullah saw dengan komitmennya “Walaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dakwah tidak akan kuhentikan.”


Dalam Alquran dijelaskan oleh Allah Swt, “Dan hendaklah ada segolongan umat di antara kamu yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).


Ayat ini menjelaskan bahwa dakwah merupakan tugas moral kolektif yang harus dilaksanakan. Dakwah memang tugas yang sangat berat. Namun Allah telah menjanjikan bagi orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) akan mendapatkan keberuntungan. Karena telah menyelamatkan orang lain yang terombang-ambing dari gelombang kemaksiatan dan kemunkaran.


Nabi Muhammad saw juga memandang pendidikan sebagai bagian dari dakwah yang merupakan jalan hidup mereka. Bila pendidikan diartikan secara luas sebagai upaya mengubah orang dengan pengetahuan tentang sikap dan perilakunya, sesuai dengan kerangka nilai tertentu, maka pendidikan Islam identik dengan dakwah Islam. Setiap Muslim selayaknya adalah da’i dan sekaligus pendidik. Ia menjadi saksi di tengah-tengah umat manusia tentang kebenaran Islam sebagaimana termaktub dalam Alquran surah al-Baqarah: 143.


Allah Swt memerintahkan Rasul-Nya agar menyampaikan kepada manusia bahwa Islam adalah jalan hidup terbaik. Ketika menyampaikan syiar suci Ilahi ini, beliau saw bukan hanya berkata dengan lisan saja tetapi beliau menyampaikan dengan ketinggian akhlak, sehingga apa yang disampaikan mengena di hati manusia. Tugas kita yang mengaku sebagai umatnya adalah melanjutkan, menjaga dan melaksanakan apa yang diwariskan oleh Rasulullah saw, keluarga, dan sahabat terpilihnya yaitu dengan tetap melanjutkan dakwahnya.


Namun seseorang yang hendak berdakwah dan nasihat kepada orang lain hendaknya ia juga harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang agama, meniru laku hidup Rasulullah saw dan keluarganya yang mulia, bersikap lemah lembut, jujur, serta memiliki kesesuaian hati dan lisan. Sayyidina Ja’far Shadiq berkata, “Jadilah kalian para penyeru bagi manusia tanpa dengan lisan kalian, agar mereka melihat kesungguhan, kejujuran, dan ketakwaan.”


Jadi poin penting dari partisipasi dalam menghidupkan agama dan dakwah adalah lestarinya syiar-syiar Islam yang telah disampaikan oleh Nabi saw, keluarga dan sahabatnya di tengah-tengah masyarakat, dan terus tegaknya kebenaran dengan mengajak kepada amar ma’ruf nahi munkar.