Perbuatan Baik Akan Membawa Keselamatan


Dalam kitab Nurul Mubin dinukil sebuah riwayat dari Sayidina Jafar Shadiq, kala itu terdapat tiga orang laki-laki keluar dari rumahnya dengan tujuan untuk bersenang-senang. Kemudian, turunlah hujan dengan deras dan menuntun mereka menuju sebuah gunung. Mereka pun berteduh di dalam gua. Tiba-tiba, sebuah batu besar jatuh dari puncak gunung dan menutup mulut gua tersebut. Mereka pun terjebak dalam gua dan tidak dapat keluar. Mereka terkurung dalam gelap di balik batu besar ltu. Baca juga: https://www.danamustadhafin.com/post/secercah-asa-memperbaiki-ekonomi-keluarga


Salah seorang di antara mereka berkata: “Tak seorang pun yang mengetahui keadaan kita. Dengan cara apapun, kita tidak akan bisa selamat dari bahaya ini. Kita terpaksa harus pasrah pada kematian.”


Sahabatnya berkata: “Sebab-sebab material tidak akan mampu menyelamatkan kita dari tempat berbahaya ini. Sebaiknya setiap orang di antara kita memohon bantuan kepada Allah Swt melalui amal baik yang pernah kita lakukan. Barangkali, Allah Yang Mahakuasa lagi Mahasayang akan menyelamatkan kita. Sebab, Dia mengetahui keadaan kita. Dan sesungguhnya Allah Mahakuasa lagi Mahakasih.”


Usul ini pun diterima oleh kedua temannya. Mereka sepakat untuk menyebutkan kebaikan yang pernah mereka lakukan.


Orang pertama berkata: "Ya Allah! Engkau mengetahui bahwa aku telah jatuh hati pada seorang wanita. Demi mendapatkannya, aku mengeluarkan banyak uang. Hingga suatu hari aku berhasil mendapatkannya dan duduk berduaan dengannya…. Pada saat itulah tiba-tiba (menyesal) aku teringat pada-Mu. Demi meraih keridhaan-Mu, aku meninggalkan perbuatan tercela itu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku berkata jujur. Berikanlah jalan keluar pada kami lantaran amal (baik) ini."


Tiba-tiba, batu itu sedikit bergeser hingga cahaya matahari masuk ke dalam gua.


Orang kedua berkata: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa pada suatu hari aku membawa beberapa orang pekerja ke rumahku. Berdasarkan kesepakatan, aku harus mengupah setiap pekerja sebanyak setengah dirham. Salah seorang di antara mereka mengatakan, 'Saya bekerja lebih giat daripada yang lain. Oleh karena itu, saya meminta upah satu dirham.’ Saya tidak bersedia memberinya satu dirham. Pekerja itu pun tidak sudi mengambil setengah dirham upahnya dan langsung pergi. Dengan (modal) uang setengah dirham itu, aku memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Keuntungannya mencapai 10.000 dirham. Seluruh keuntungan tersebut aku sedekahkan kepada pekerja itu demi mengharapkan ridha-Mu. Wahai Sang Pencipta yang Mahakasih, jika Engkau menerima amal baikku ini, maka bebaskanlah kami dari bahaya ini.”


Batu itu bergerak sedikit lagi, sehingga tangan (seseorang) bisa keluar.


Baca juga: https://www.danamustadhafin.com/post/uang-12-dirham-di-tangan-rasul-saw


Orang ketiga berkata: "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa pada suatu malam aku memasak makanan untuk ayah dan ibuku. Ketika aku membawakan makanan itu untuk mereka, ternyata keduanya telah tertidur. Aku berpikir, jika kuletakkan makanan itu, lalu pergi, mungkin akan datang seekor binatang yang akan menyantapnya. Dan jika makanan itu kubawa (pulang), maka mungkin ayah dan ibuku akan terbangun dari tidur dan mereka merasa lapar serta ingin makan. Oleh karena itu, makanan tersebut tetap kugenggam di tangan hingga mereka terbangun dari tidur. Setelah itu, aku meletakkan makanan tersebut di hadapan mereka. Wahai Tuhan Yang Mahakuasa, jika perbuatan ini Engkau anggap baik dan beroleh ridha-Mu, maka selamatkanlah kami dari sini.”

Batu besar itu bergeser dan mulut gua pun terbuka lebar. Akhirnya, ketiga orang itu berhasil keluar dari gua tersebut dengan selamat.