Ramadan, Bulan Digelarnya Jamuan Ilahi


Bulan Ramadan memiliki berbagai berkah agung dan berbagai kenikmatan yang tidak terbatas. Jika kaum muslim mengetahui dengan pasti berkah-berkah yang disebarkan sepanjang bulan agung ini serta memahami keagungan karunianya, niscaya mereka akan sangat berharap apabila bulan Ramadan berlangsung terus sepanjang setahun. Rasulullah saw bersabda: “Jika para hamba mengetahui apa yang ada di bulan Ramadan, niscaya mereka akan sangat berharap bulan Ramadan berlangsung selama setahun.”


Salah satu keunikan yang dimiliki oleh bulan mulia ini seperti yang dituliskan oleh Ayatullah Muhammad Ray Syahri dalam Muraqabah Syahr bahwa bulan Ramadan merupakan bulan digelarnya jamuan Ilahi, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw: “Bulan Ramadan adalah bulan saat kalian diundang pada jamuan Ilahi, dan menjadikan kalian sebagai salah satu pemilik kehormatan yang dianugerahkan Allah.”


Keunikan ini merupakan sumber bagi seluruh keunikan bulan Ramadan yang penuh berkah ini serta menjadi mata air seluruh berkah yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa jamuan Ilahi itu merupakan jamuan maknawi yang khusus diperuntukkan bagi para tamunya dan menjadi sumber penyempurnaan maknawi yang terjadi dalam kehidupan manusia sepanjang bulan yang agung tersebut. Ini adalah jamuan terbuka untuk semua mukmin yang menginginkan berkah agung yang tersedia dalam jamuan tersebut. (Khashaish Syharu Ramadhan, Syahru Dhiyafatillah, hal. 65)


Jamuan itu menunjukkan bahwa berbagai jaminan kebutuhan material bukan hal yang penting, yang akan melambungkan kedudukan individu pada derajat kemurnian maknawi. Alquran al-Karim secara khusus mencatat dengan gamblang bahwa kalau seandainya tidak terdapat rasa takut akan terjatuh dalam lubang gelap kekafiran, niscaya manusia akan memperoleh berbagai kenikmatan material paling tinggi,


Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu, tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan tangga-tangga yang mereka menaikinya. Dan pintu-pintu bagi rumah-rumah mereka dan dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan perhiasan-perhiasan. Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. az-Zukhruf: 33-35)


Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Kalau seandainya di sisi Allah dunia ini sebanding dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan mengucurkan air setetes pun bagi orang kafir dan orang fajir.”


Allah Swt telah menyuguhkan makanan bagi jiwa-jiwa dan ruh-ruh para hamba-Nya dalam jamuan bulan Ramadan; bukan jamuan bagi tubuh-tubuh dan dimensi fisik mereka. Tidak ada yang mampu menilai jamuan agung ini kecuali Allah semata. Karena itulah, Allah Swt berfirman: “Puasa itu untukku dan aku akan memberikan pahalanya.”


Syarat-syarat perjamuan dan adabnya ini harus sesuai dengan jamuan ruhani, juga makanan dan minuman di dalamnya haruslah makanan ruhani, dan tujuan yang diharapkan darinya adalah mewujudkan dan mempercepat peningkatan ruh serta memperbaharui kehidupan maknawi manusia dan memperkuat kehidupan ruhaninya. Jamuan ini bukanlah jamuan yang disiapkan untuk memberi makan jasad.


Undangan pada bulan Ramadan adalah undangan ke surga, makanan dalam jamuan ini adalah jenis makanan yang sama dengan yang ada di surga. Wisma tamu di kedua tempat ini (dunia dan surga) adalah wisma tamu Allah. Tetapi nama wisma tamu di dunia ini namanya bulan Ramadan, dan nama wisma tamu di surga bernama wisma-wisma surgawi.

Di sini gaib, di sana lahiriah dan kasat mata. Di sini tasbih dan tahlil, di sana mata air dingin. Di sini kenikmatan tersembunyi dan karunia-karunia tersimpan, di sana: … dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (QS. Al-Waqi’ah: 17-21)


Terkadang di hadapan para nabi dan imam maksum, kenikmatan-kenikmatan ukhrawi muncul di dunia ini dalam wujud ukhrawinya. Di dalam hadis-hadis dikemukakan bahwa Rasulullah saw mendatangi Fathimah az-Zahra a.s. atau Hasan dan Husain a.s. dengan buah-buahan yang berasal dari surga. Lebih dari itu, pelbagai peristiwa dapat terjadi di kalangan pemuka-pemuka Islam sesuai dengan kedudukan dan martabat yang dimiliki masing-masing.