Riya, Perusak Amal Perbuatan


Riya adalah merupakan penyakit jiwa yang menjadikan amal perbuatan menjadi kosong. Berdasarkan fatwa seluruh para marja taklid sesungguhnya riya membatalkan amal perbuatan. Artinya, barang siapa yang riya di dalam salat, puasa, riya di dalam memberikan khumus dan riya di dalam melakukan amal kebajikan, maka batal amal perbuatannya. Di samping menyebabkan batalnya amal perbuatan, riya juga termasuk salah satu dari dosa besar.


Bahkan Alquran menganggap dosa ini sudah termasuk ke dalam batasan kufur: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan cara menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. al-Baqarah: 264)


Artinya, janganlah kita membatalkan amal perbuatan yang telah dilakukan dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima. Jika kita ingin memberikan khidmat kepada seseorang maka janganlah menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerimanya. Karena, jika kita melakukannya maka berarti amal perbuatan menjadi kosong sama sekali.


Kemudian Alquran mengatakan, seperti orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah karena riya kepada manusia, sehingga dengan begitu amal perbuatannya menjadi batal. Di samping amal perbuatannya batal Alquran juga menyatakan sebenarnya bahwa pelakunya tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dosa dari ibadah yang terdapat unsur riya di dalamnya adalah sama dengan kekafiran.


Allah Swt juga berfirman di dalam surat al-Ma’un 1-7: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.”


Dari surat tersebut bahwa orang yang tidak mempunyai iman yang sesungguhnya itu terbagi kepada empat kelompok:


Kelompok pertama: Orang-orang yang mampu membantu orang-orang fakir dan miskin namun mereka tidak melakukannya. Mereka itu bukanlah seorang muslim yang sesungguhnya.


Kelompok kedua: Orang-orang yang mengerjakan salat namun mereka tidak menaruh perhatian kepada salatnya. Alquran berkata, orang yang mengerjakan salat dengan tergesa-gesa, sehingga ruku dan sujudnya tidak sempurna, maka salatnya salah, atau mengerjakan salat pada akhir waktu, dan tidak mementingkan salat, maka dia bukan seorang muslim yang sesungguhnya.


Kelompok ketiga: Orang-orang yang riya. Yaitu orang-orang berbuat riya di dalam amal perbuatan mereka. Mereka itu bukan seorang muslim yang sesungguhnya.


Kelompok keempat: Orang-orang yang mampu membantu orang lain, mampu memberikan pinjaman kepada tetangganya dan orang lain, namun mereka tidak melakukannya. Orang-orang yang mampu memberi pinjaman sesuatu yang dibutuhkan kepada tetangga dan sahabatnya namun tidak melakukannya. Alquran menyebut mereka bukan sebagai sorang muslim sesungguhnya.


Seorang muslim menjadi muslim bukan dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan. Jika kita mampu menunaikan kebutuhan kaum muslim namun tidak melakukannya, maka surah di atas mengatakan kepada seseorang yang keislamannya lemah, dan kepergian ke dalam surga adalah sesuatu yang sulit.


Imam Ja 'far Shadiq a.s. berkata: “Orang Mukmin mana pun yang mencegah seorang mukmin lainnya dari sesuatu yang dibutuhkannya padahal dia mampu atas hal itu dari sisinya atau dari sisi orang lain maka pada Hari Kiamat Allah Swt akan membangkitkannya dengan muka yang hitam, mata yang lebam dan tangan yang terbelenggu ke leher; lalu dikatakan kepadanya, 'Inilah pengkhianat yang telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya', kemudian diperintahkan supaya dia dimasukkan ke dalam neraka.” (Al-Kafi, 2/367)


Mungkin saja ada salah seorang dari kita telah menunaikan kebutuhan kaum muslim namun pada saat yang sama dia menyebut-nyebut pertolongan yang telah diberikannya itu, maka di sini amal perbuatannya batal dan menjadi tidak ada isinya. Terkadang dia tidak menyebut-nyebut pertolongan yang telah diberikannya namun dia melakukan itu dengan tujuan supaya dilihat manusia, maka dengan begitu perbuatannya menjadi riya. Atau bahkan dia membelikan sebuah rumah bagi seorang miskin, namun tatkala dia pergi ke mana saja dia selalu mengatakan, “Sayalah yang telah membelikan rumah bagi si fulan.”


Singkatnya, dia melakukan semua perbuatan itu dengan tujuan supaya orang-orang memujinya. Dia datang ke masjid dan berdiri mengerjakan salat di shaf pertama dengan tujuan supaya orang-orang mengatakan kepadanya "Betapa Anda rajin beribadah", enggan begitu pada hakikatnya yang menjadi kiblatnya adalah manusia, bukan Baitullah. Dia salat untuk manusia, bukan untuk Allah. Terkadang, seluruh amalnya semata karena manusia, dan sama sekali tidak ada sedikit pun nama Allah di dalam benaknya, maka yang demikian ini adalah kafir. Atau terkadang amal perbuatannya karena Allah dan juga karena manusia, maka ini adalah syirik.

*Disarikan dari buku karya Husain Mazhahiri - Membentuk Pribadi Menguatkan Rohani