Siapakah Mustadhafin dalam Alquran?


Dalam masyarakat Islam, kelompok yang dimasukkan dalam kategori mustadhafin seringkali terbatas pada kelompok fakir dan miskin. Mereka yang mengalami ketertindasan secara sosial dan struktural oleh karena penindasan struktur kapitalisme nasional maupun global yang tidak adil juga adalah termasuk kelompok mustadhafin. Banyak dari kelompok fakir dan miskin itu menjadi dhu’afa bukan karena mereka malas bekerja, tapi ada yang disebut dengan struktur kemiskinan, kelas dan dosa sosial, matrix penindasan, dan seterusnya.


Dari definisi umum tersebut benar, tetapi Alquran dalam mendefinisikan mustadhafin lebih luas lagi, yakni lebih ke sistem. Salah satu ayat Alquran yang berbicara tentang mustadhafin adalah surah An-Nisa’ ayat 75: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’”.


Ayat ini berbicara tentang pembelaan terhadap kelompok mustadhafin. Ketertindasan dalam ayat di atas maknanya lebih luas dari hanya persoalan ekonomi, tapi diskriminasi dan persekusi oleh mereka yang kuat kepada mereka yang lemah, atau adanya kelompok yang memiliki power bertindak sewenang-wenang terhadap kelompok lemah dan tidak memiliki pembela. Jika kita melihat keadaan saat ini sebagai contoh bangsa Palestina adalah termasuk dalam kategori ini di mana negara adidaya Amerika Serikat dan rezim-rezim monarki Arab bersatu padu dengan negara zionis Israel menjajah Palestina. Sebagai Muslim maka kita berkewajiban membela mereka semampu kita. Dalam konteks Indonesia, pembelaan kepada mereka yang tertindas juga merupakan makna dari sila Ke-5 Pancasila, “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia” maka sudah seharusnya kita bersama bahu membahu untuk saling tolong menolong.


“Dan kami hendak memberi karunia kepada mustadhafin di bumi dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisinya, dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi….” (QS. al-Qashash: 5)


Sayidina Ali ra saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, "Mereka adalah keluarga Muhamamad, di mana Allah akan mengutus dari mereka Mahdi setelah sebelumnya mereka menentangnya dan kemudian Allah memuliakan mereka dan menghinakan musuh-musuhnya." (Nur ats-Tsaqalain, juz 4. hal. 110)


Menurut Syahid Mutahhari dalam menafsikan ayat di atas, di dunia hanya terdapat dua kelompok manusia, yakni mustakbarin (kelompok penindas) dan mustadhafin (kelompok tertindas), dan keduanya senantiasa berkonflik. Penindas memiliki karakter reaksioner dan arogan, sementara mustadafin sabar dan revolusioner. Dalam hubungan ini Alquran menggaris-bawahi arah tak terelakkan dari proses sejarah, dan menunjukkan bahwa kelas yang memiliki kualitas revolusioner selalu memperoleh kemenangan dalam konfliknya dengan kelas yang pada dasarnya berkualitas reaksioner dan bahwa kelas yang memiliki kualitas revolusioner akan menggantikan kelas yang berkualitas reaksioner dalam penguasaan atas bumi.


Pandangan Alquran bahwa sejarah bergerak menuju kemenangan kaum tertindas dan tereksploitasi. Tak dapat dipungkin bahwa menurut pola pikir Alquran, kaum mustadhafin ini adalah massa tertindas yang tak dapat ikut menentukan nasibnya sendiri. Kalau melihat posisi massa ini dan dukungan Allah untuk mereka, maka pertanyaannya adalah, Siapakah kaum yang melaksanakan kehendak Allah ini? Jawabnya sudah jelas. Kalau masyarakat diakui terbentuk sedemikian rupa sehingga ada dua kelas yang saling berseberangan, yaitu kelas penindas (mustakbirin) dan kelas tertindas (mustadhfin), dan juga diketahui bahwa kehendak Allah lah yang pada akhirnya membuat mustadhafin mewarisi bumi dan menjadi pemimpin di muka bumi dan mustakbirin harus lenyap, maka jelaslah bahwa kehendak Allah dilaksanakan oleh mustadhafin dengan kepemimpinan para pemimpin dan intelektualnya, mereka adalah para nabi dan penerusnya. Dalam sejarah merekalah orang-orang tertindas sebagaimana di sebut Alquran dan riwayat.


Dengan demikian, munculnya Imam Mahdi sebagai pemimpin dan pembela kaum mustadhafin merupakan karunia Allah bagi kaum tertindas dan kaum lemah, dan juga merupakan sarana bagi kekuasaan mereka serta mendapatkan pemerintahan yang dijanjikan Allah di seluruh dunia.